
seseorang yang menghindari kontak mata./Freepik/freepik
JawaPos.com - Kontak mata merupakan salah satu bentuk komunikasi nonverbal paling kuat dalam interaksi manusia.
Dalam psikologi, kontak mata tidak hanya berfungsi sebagai tanda perhatian, tetapi juga sebagai simbol kepercayaan diri, rasa aman, dan keterbukaan emosional.
Namun, tidak semua orang merasa nyaman melakukan kontak mata saat berbicara. Sebagian orang justru cenderung menghindarinya, bahkan ketika berbicara dengan orang yang sudah dikenal.
Menurut berbagai kajian psikologi perkembangan dan psikologi sosial, kebiasaan menghindari kontak mata sering kali tidak muncul begitu saja.
Pola ini biasanya terbentuk sejak masa kanak-kanak atau remaja, sebagai respons terhadap pengalaman hidup tertentu.
Dilansir dari Geediting pada Kamis (29/1), terdapat tujuh pengalaman yang sering ditemukan pada individu yang tumbuh menjadi pribadi yang cenderung menghindari kontak mata dalam percakapan.
1. Tumbuh dalam Lingkungan yang Minim Ekspresi Emosional
Anak-anak yang dibesarkan dalam keluarga yang dingin secara emosional—jarang menunjukkan kasih sayang, pujian, atau empati—sering kali belajar bahwa ekspresi perasaan bukanlah hal yang aman. Dalam lingkungan seperti ini, kontak mata bisa terasa “terlalu intim” atau tidak nyaman.
Akibatnya, anak mengembangkan mekanisme perlindungan diri dengan menghindari tatapan langsung, karena tatapan sering diasosiasikan dengan kedekatan emosional yang tidak pernah mereka rasakan atau justru membuat mereka canggung.
2. Pernah Mengalami Kritik Berlebihan atau Penghakiman
Anak yang sering dikritik, dibanding-bandingkan, atau dihakimi secara berlebihan oleh orang tua, guru, atau lingkungan sosial cenderung mengembangkan rasa takut terhadap penilaian orang lain. Kontak mata bisa terasa seperti “membuka diri untuk dinilai”.
Saat dewasa, mereka menghindari kontak mata bukan karena tidak sopan, tetapi karena ada rasa takut bawah sadar: takut disalahkan, diremehkan, atau dianggap tidak cukup baik.
3. Pengalaman Perundungan (Bullying)
Korban bullying sering mengembangkan perilaku menghindari kontak mata sebagai bentuk perlindungan diri. Dalam banyak kasus, menatap pelaku justru memicu agresi atau kekerasan verbal.
Oleh karena itu, otak belajar bahwa menunduk dan menghindari tatapan adalah strategi bertahan hidup. Pola ini bisa terbawa hingga dewasa, bahkan ketika situasi sudah tidak berbahaya lagi.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Guruh Soekarnoputra Meninggal, Ini Daftar Anak Soekarno yang Masih Hidup dan Sudah Tiada
Prediksi Skor Hong Kong vs Laos di FIFA ASEAN Cup: Duel Seru Berpotensi Imbang di Kai Tak Stadium
Prediksi Skor Slovakia vs Moldova di Liga Nations UEFA: Sokoli Borong Gol di Futbal Tatran Aréna
Prediksi Skor Albania vs Belarus di Liga Nations UEFA: Kuq e Zinjtë Menang Tipis Hadapi Tim Tamu
Prediksi Skor Bulgaria vs Luksemburg: Duel Ketat, Tuan Rumah Diunggulkan
Prediksi Skor Kamboja vs Myanmar di FIFA ASEAN Cup: Singa Asia Berpeluang Menang Tipis
Prediksi Skor Kuwait vs Irak di Arabian Gulf Cup: Laga Sengit Rawan Berakhir Imbang
Prediksi Skor Makedonia Utara vs Swiss di Liga Nations UEFA: Nati Pesta Gol di Kandang Lawan
Prediksi Skor Lithuania vs Azerbaijan di UEFA Nations League: Duel Ketat Berpotensi Imbang
Prediksi Skor Slovenia vs Skotlandia: Sesko Absen, Era Baru Pocognoli Dimulai di Ljubljana

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022