
seseorang yang tumbuh selalu berhati-hati di sekitar orang tua./Freepik/freepik
JawaPos.com - Tidak semua luka masa kecil terlihat jelas. Sebagian tidak meninggalkan bekas fisik, tetapi tumbuh diam-diam di dalam pola pikir dan cara seseorang membangun hubungan.
Salah satu pengalaman yang cukup berpengaruh adalah tumbuh dalam kondisi di mana seorang anak harus selalu berhati-hati di sekitar orang tuanya—menimbang kata-kata, membaca suasana hati, dan menekan emosi agar tidak memicu konflik.
Menurut psikologi perkembangan dan teori keterikatan (attachment theory), lingkungan seperti ini membentuk sistem pertahanan emosional yang terbawa hingga dewasa.
Ketika anak tersebut memasuki hubungan romantis, pertemanan, atau bahkan relasi kerja, pola lama sering muncul kembali—bukan karena mereka ingin, tetapi karena itulah cara bertahan hidup yang pernah mereka pelajari.
Dilansir dari Geediting pada Kamis (15/1), terdapat10 perilaku yang umum muncul dalam hubungan pada orang-orang yang tumbuh dengan kehati-hatian emosional di rumah, dilihat dari sudut pandang psikologi.
1. Terlalu Peka terhadap Perubahan Suasana Hati Pasangan
Orang-orang ini biasanya memiliki “radar emosi” yang sangat tajam. Sedikit perubahan nada bicara, ekspresi wajah, atau jeda pesan bisa langsung ditafsirkan sebagai tanda bahaya.
Secara psikologis, ini berasal dari kebiasaan masa kecil membaca emosi orang tua demi menghindari konflik.
Dalam hubungan dewasa, kepekaan ini sering membuat mereka cepat cemas dan mudah merasa bersalah, bahkan ketika tidak melakukan kesalahan apa pun.
2. Sulit Mengekspresikan Kebutuhan Secara Langsung
Mereka terbiasa berpikir, “Kalau aku meminta, aku merepotkan.” Akibatnya, kebutuhan emosional sering disimpan sendiri.
Alih-alih berkata jujur, mereka berharap pasangan bisa “mengerti dengan sendirinya”. Ketika harapan itu tidak terpenuhi, rasa kecewa muncul—namun tetap tidak diungkapkan.
3. Cenderung Mengalah Demi Menjaga Kedamaian
Bagi mereka, ketenangan sering terasa lebih penting daripada kejujuran. Dalam konflik, mereka lebih memilih mengalah meski sebenarnya terluka.
Psikologi menyebut ini sebagai conflict avoidance, pola yang terbentuk ketika konflik di masa kecil terasa tidak aman atau tidak terprediksi.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Daftar Lengkap Korban Tenggelamnya Kapal Virgo Transport 8 yang Berhasil Dievakuasi
Profil Anthony Xie, Suami Audi Marissa yang Digugat Cerai: Beberapa Tahun Berkarier di Taiwan-China
Prediksi Skor Genoa vs Sudtirol di Coppa Italia: Grifone Berburu Gol di Stadio Ferraris
Profil Kanaya Whu: Vokalis MK9 Bentukan Dedi Mulyadi, Meninggal di Usia 35 Tahun
Prediksi Bursa Skor Shamal vs Al Ittihad di Liga Champions Asia, Peluang Tim Tamu Kuasai Tanah Arab
Prediksi Skor Rayo Vallecano vs Espanyol di Liga Spanyol: Misi Berat Emil Audero di Kandang
Prediksi Skor Villarreal vs Real Betis di Liga Spanyol: Duel Sengit Berpotensi Imbang
Sebut MBG Tak Bermasalah, Sudaryono: Yang Bikin Ramai Guru, Ortu, Wartawan, Hingga LSM
Prediksi Skor Reading vs Brentford di Carabao Cup: The Bees Bakal Sengat Tuan Rumah
Prediksi Skor Torino vs Roma di Liga Italia: Giallorossi Siap Obrak-abrik Markas Il Toro

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022