Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 16 Januari 2026 | 00.16 WIB

Orang yang Tumbuh dengan Selalu Berhati-hati di Sekitar Orang Tua Mereka Biasanya Menunjukkan 10 Perilaku Ini dalam Hubungan Menurut Psikologi

seseorang yang tumbuh selalu berhati-hati di sekitar orang tua./Freepik/freepik - Image

seseorang yang tumbuh selalu berhati-hati di sekitar orang tua./Freepik/freepik

JawaPos.com - Tidak semua luka masa kecil terlihat jelas. Sebagian tidak meninggalkan bekas fisik, tetapi tumbuh diam-diam di dalam pola pikir dan cara seseorang membangun hubungan.

Salah satu pengalaman yang cukup berpengaruh adalah tumbuh dalam kondisi di mana seorang anak harus selalu berhati-hati di sekitar orang tuanya—menimbang kata-kata, membaca suasana hati, dan menekan emosi agar tidak memicu konflik.

Menurut psikologi perkembangan dan teori keterikatan (attachment theory), lingkungan seperti ini membentuk sistem pertahanan emosional yang terbawa hingga dewasa.

Ketika anak tersebut memasuki hubungan romantis, pertemanan, atau bahkan relasi kerja, pola lama sering muncul kembali—bukan karena mereka ingin, tetapi karena itulah cara bertahan hidup yang pernah mereka pelajari.

Dilansir dari Geediting pada Kamis (15/1), terdapat10 perilaku yang umum muncul dalam hubungan pada orang-orang yang tumbuh dengan kehati-hatian emosional di rumah, dilihat dari sudut pandang psikologi.

1. Terlalu Peka terhadap Perubahan Suasana Hati Pasangan

Orang-orang ini biasanya memiliki “radar emosi” yang sangat tajam. Sedikit perubahan nada bicara, ekspresi wajah, atau jeda pesan bisa langsung ditafsirkan sebagai tanda bahaya.

Secara psikologis, ini berasal dari kebiasaan masa kecil membaca emosi orang tua demi menghindari konflik.

Dalam hubungan dewasa, kepekaan ini sering membuat mereka cepat cemas dan mudah merasa bersalah, bahkan ketika tidak melakukan kesalahan apa pun.

2. Sulit Mengekspresikan Kebutuhan Secara Langsung

Mereka terbiasa berpikir, “Kalau aku meminta, aku merepotkan.” Akibatnya, kebutuhan emosional sering disimpan sendiri.

Alih-alih berkata jujur, mereka berharap pasangan bisa “mengerti dengan sendirinya”. Ketika harapan itu tidak terpenuhi, rasa kecewa muncul—namun tetap tidak diungkapkan.

3. Cenderung Mengalah Demi Menjaga Kedamaian

Bagi mereka, ketenangan sering terasa lebih penting daripada kejujuran. Dalam konflik, mereka lebih memilih mengalah meski sebenarnya terluka.

Psikologi menyebut ini sebagai conflict avoidance, pola yang terbentuk ketika konflik di masa kecil terasa tidak aman atau tidak terprediksi.

Editor: Hanny Suwindari
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore