Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 11 September 2025 | 20.31 WIB

Echo Chamber di Media Sosial: Sadarkah Kita Terjebak pada Linimasa dan Bagaimana Cara Keluar?

Ilustrasi polarisasi yang terjadi karena echo chamber (Dok. Freepik) - Image

Ilustrasi polarisasi yang terjadi karena echo chamber (Dok. Freepik)

JawaPos.com  Echo chamber adalah situasi dimana seseorang terus-terusan menemukan informasi yang sama dengan kepercayaannya. Fenomena ini sering terjadi tanpa kita sadari, terutama di era digital saat ini.

Coba perhatikan linimasa media sosial Anda: apakah belakangan ini sebagian besar postingan, opini, atau berita yang muncul terasa berasal dari kelompok dengan pandangan politik atau ideologi yang sama? 

Jika iya, itu bukan sekadar kebetulan. Algoritma media sosial memang dirancang untuk menyajikan konten yang selaras dengan preferensi Anda, agar Anda lebih lama bertahan di platform tersebut.

Sekilas, ini terlihat menyenangkan karena kita merasa "dikonfirmasi" dan didukung oleh orang banyak. 

Namun, di sisi lain, echo chamber justru dapat mempersempit cara pandang kita terhadap isu-isu penting. 

Terutama bagi mereka yang masih awam dalam urusan politik atau hanya terbiasa mengikuti satu sumber, echo chamber bisa menciptakan bias informasi yang kuat sekaligus menutup akses pada perspektif berbeda.

Ingin tahu lebih lanjut tentang echo chamber ini? Simak penjelasan berikut yang dilansir dari GCF Global dan Resilience Lab.

1. Mengapa Echo Chamber Bisa Terjadi? 

Echo chamber bisa terjadi karena adanya kecenderungan alami manusia yang disebut confirmation bias. 

Secara sederhana, ini adalah dorongan untuk lebih mempercayai informasi yang sesuai dengan keyakinan yang sudah kita punya, sekaligus mengabaikan atau menolak informasi yang berbeda. 

Akibatnya, sudut pandang seseorang bisa menjadi sempit, sulit menerima opini lain, bahkan kesulitan membahas isu-isu kompleks yang membutuhkan banyak perspektif.

Fenomena ini semakin kuat di era digital. Jika dulu echo chamber terbatas pada lingkaran pertemanan atau komunitas tertentu, sekarang internet membuka ruang yang jauh lebih luas. 

Melalui media sosial dan portal berita, siapa pun bisa dengan mudah menemukan kelompok yang sepaham. 

Rasanya nyaman karena kita merasa "didukung" dan "tidak sendirian," tetapi di saat yang sama, ruang itu bisa jadi jebakan yang membatasi cara pandang kita.

Lebih jauh lagi, internet melahirkan bentuk khusus dari echo chamber yang dikenal dengan istilah filter bubble. 

Editor: Candra Mega Sari
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore