Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 11 September 2025 | 06.20 WIB

Kenapa Silent Treatment Bisa Berbahaya? Diamnya Bisa Lebih Menyakitkan daripada Kata-Kata!

Ilustrasi pasangan yang sedang bertengkar. (Pexels)

JawaPos.com – Kamu pasti pernah merasakan saat hubungan terlihat baik-baik saja, tapi tiba-tiba komunikasi terputus.

Tidak ada marah, tidak ada peringatan, hanya keheningan yang menusuk. Itulah silent treatment. Sebuah bentuk diam yang lebih menyakitkan daripada seribu kata kasar.

Fenomena ini tidak sekadar ketidaksediaan berbicara, tapi bisa menjadi bentuk kejam dalam interaksi emosional dan komunikasi.

Otak Memproses Diam seperti Rasa Sakit Fisik

Menurut Cleveland Clinic, saat kita diberi silent treatment, otak merespons dengan reaksi mirip ketika mengalami penolakan sosial.

Aktivitas otak di bagian yang memproses rasa sakit seperti dorsal anterior cingulate cortex menjadi menguat.

Artinya, diam bisa terasa seperti luka fisik. Ini bukan sekadar metafora. Otak benar-benar merasakannya seperti sakit yang nyata.

Diam Sebagai Alat Kekuasaan dan Manipulasi

Psychology Today menyebut silent treatment sebagai bentuk manipulasi emosional. Ini sering digunakan untuk mengontrol, menghukum, atau menundukkan orang lain.

Tanpa kata-kata, pelaku bisa membuat korban merasa tidak berdaya, bingung, dan meragukan diri sendiri.

Dalam ranah pelecehan emosional, ini termasuk taktik yang sangat efektif karena sulit dikenali.

Kadang, diam dibutuhkan setelah konflik tapi itu bukan silent treatment.

Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore