Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 23 Agustus 2025 | 12.30 WIB

Tak Perlu Marah dan Memaki, Lampiaskan Stres dengan 7 Mekanisme Pertahanan Diri Ini Menurut Psikologi

Ilustrasi orang mengalami stress (Dok. Freepik) - Image

Ilustrasi orang mengalami stress (Dok. Freepik)

JawaPos.com - Saat tertekan atau stres, kita cenderung melampiaskan emosi dengan cara yang merusak, seperti marah-marah atau memaki. Pertanyaannya, apakah cara itu ampuh untuk meredakan stres yang terjadi berulang?

Menghilangkan stres memang tidak semudah yang dibayangkan. Setiap orang punya caranya sendiri. Namun, ilmu psikologi menawarkan sebuah pendekatan efektif untuk mengelola stres, yaitu melalui mekanisme pertahanan diri atau defense mechanism.

Menurut teori psikologi Sigmund Freud, mekanisme pertahanan diri adalah respons yang muncul secara tidak sadar saat seseorang merasa terancam, baik itu karena stres, masalah, atau perdebatan. Meskipun muncul secara tidak sadar, mekanisme ini bisa dilatih secara sadar untuk membantu kita mengelola tekanan.

Sebuah penelitian dari Azizah dkk. (2024) dalam jurnal 'Mekanisme Pertahanan Diri Tokoh Zee Dalam Novel Insecure Karya Seplia' menjelaskan bahwa mekanisme ini berfungsi untuk menjaga harga diri, mengurangi stres, dan menyeimbangkan diri. Saat stres dibiarkan, mekanisme pertahanan diri bisa melemah, menyebabkan dampak fatal seperti penarikan diri dari lingkungan atau bahkan bunuh diri.

Untuk mencegah hal itu, kita harus mengoptimalkan mekanisme pertahanan diri. Freud membaginya menjadi beberapa jenis:

1. Proyeksi

Proyeksi adalah saat seseorang menyalahkan orang lain atas kesalahan yang dia perbuat. Misalnya, seorang gadis yang tidak sengaja mendorong nenek di kereta bisa menyalahkan temannya di belakang untuk melindungi dirinya dari tuduhan. Cara ini membuat dia merasa aman karena tidak ada yang menyalahkannya.

2. Represi

Represi adalah tindakan menekan perasaan negatif seperti marah, kecewa, atau sedih yang mendalam. Seseorang yang melakukan represi berusaha tidak merasakan emosi-emosi tersebut untuk menghindari tekanan batin.

3. Penyangkalan

Penyangkalan terjadi ketika seseorang menolak mengakui fakta yang tidak menyenangkan. Contohnya, seorang pria yang menceraikan istrinya saat marah tetap bersikeras bahwa keputusannya benar, meskipun orang di sekitarnya melihat itu sebagai kesalahan. Ia menyangkal fakta untuk kembali merasa aman.

4. Rasionalisasi

Rasionalisasi adalah upaya mencari alasan yang logis atau masuk akal untuk membenarkan kesalahan. Contohnya, seorang anak yang mencuri roti di supermarket membenarkan perbuatannya dengan alasan agar tidak kelaparan. Tujuannya adalah untuk memberikan rasa aman pada diri si pencuri.

5. Perpindahan

Perpindahan adalah mengalihkan emosi negatif dari target aslinya ke target lain yang dianggap lebih aman. Contoh paling umum adalah fenomena baby blues. Ibu yang stres karena tidak dibantu suami mengurus anak, melampiaskan amarahnya dengan memarahi atau memukul bayinya. Bayi menjadi target perpindahan karena ia dianggap "lebih aman" untuk dilampiaskan emosi dibandingkan suami.

Editor: Candra Mega Sari
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore