seseorang yang perlu mempersiapkan mental untuk menerima panggilan telepon
JawaPos.com - Bagi sebagian orang, menerima atau melakukan panggilan telepon merupakan hal yang sangat sederhana, bahkan menyenangkan.
Namun bagi yang lain, ini justru menjadi sumber kecemasan.
Jika Anda termasuk tipe orang yang harus "mempersiapkan mental" sebelum mengangkat telepon — bahkan sekadar untuk membalas panggilan dari teman dekat atau kerabat — besar kemungkinan Anda telah mengembangkan pola pikir dan kebiasaan tertentu sejak kecil.
Menurut psikologi, kebiasaan tersebut seringkali berakar dari pengalaman masa lalu yang membentuk persepsi Anda terhadap komunikasi, interaksi sosial, dan perasaan akan kontrol.
Dilansir dari Geediting pada Senin (28/7), terdapat 7 kebiasaan yang mungkin sudah Anda kembangkan sejak kecil yang berkontribusi pada kebutuhan untuk mempersiapkan mental sebelum menerima panggilan telepon:
1. Menganalisis Segalanya Secara Berlebihan (Overthinking)
Sejak kecil, Anda mungkin terbiasa menganalisis berbagai hal secara mendalam — dari ekspresi wajah orang lain, nada suara guru, hingga reaksi teman sebaya.
Kebiasaan ini bisa tumbuh dari lingkungan yang menuntut Anda untuk selalu waspada, seperti rumah yang penuh konflik atau ekspektasi tinggi.
Maka ketika ponsel berdering, otak Anda langsung melompat ke segala kemungkinan buruk:
“Apa yang akan mereka katakan?”
“Apakah saya akan bisa menjawab dengan baik?”
“Bagaimana kalau saya salah bicara?”
Jika Anda dibesarkan dengan pola asuh yang menekankan pentingnya menjadi “anak baik” atau selalu menyenangkan orang lain, Anda mungkin tumbuh dengan rasa takut untuk membuat kesalahan.
Panggilan telepon bisa terasa seperti ujian dadakan — Anda tidak punya waktu menyusun kalimat, tidak bisa mengedit seperti saat mengetik pesan teks.
Akibatnya, Anda merasa perlu "menyiapkan mental" agar tidak mengecewakan lawan bicara.
3. Lebih Nyaman Menulis daripada Berbicara
Beberapa orang sejak kecil lebih mampu mengekspresikan diri lewat tulisan.
Mereka mungkin tumbuh di lingkungan yang tidak banyak memberi ruang untuk bicara atau yang cenderung mengabaikan pendapat verbal mereka.
Maka, bentuk komunikasi seperti telepon — yang spontan dan tanpa filter — terasa tidak alami dan membuat gugup.
4. Mengasosiasikan Panggilan Telepon dengan Kabar Buruk
Bagi sebagian orang, masa kecil mereka penuh dengan momen di mana telepon berbunyi hanya saat ada kabar buruk: kematian, masalah keluarga, atau peringatan dari guru.
Lama-kelamaan, suara dering itu menjadi semacam pemicu stres.
Meskipun kini konteksnya berbeda, tubuh dan pikiran masih menanggapi dengan respons waspada yang sama.
5. Memiliki Kontrol sebagai Mekanisme Pertahanan
Jika Anda tumbuh dalam situasi yang tidak dapat diprediksi atau penuh tekanan, Anda mungkin mengembangkan kebutuhan untuk merasa memiliki kendali atas situasi.
Pesan teks atau email memberi waktu untuk berpikir, memilih kata, dan menyusun respons — tetapi telepon tidak.
Maka, mempersiapkan mental sebelum mengangkat telepon adalah cara Anda mempertahankan rasa aman dan kontrol atas diri sendiri.
6. Membentuk Persona Perfeksionis Sejak Dini
Orang-orang yang perfeksionis sering kali mengalami tekanan internal untuk selalu tampil baik, cerdas, dan tidak membuat kesalahan.
Bila sejak kecil Anda dibiasakan untuk “berprestasi” dan menampilkan citra tertentu, Anda bisa merasa tidak nyaman menghadapi interaksi spontan seperti telepon.
Rasa cemas sebelum mengangkat telepon bisa jadi cerminan dari harapan untuk tampil sempurna — bahkan dalam hal sekecil ucapan “halo”.
7. Merasa Suara Anda Tidak Didengar atau Tidak Penting
Anak-anak yang sering diabaikan, diminta diam, atau tidak diberi ruang untuk mengutarakan pendapat bisa tumbuh dengan keyakinan bahwa suara mereka tidak penting.
Ketika dewasa, setiap bentuk komunikasi verbal yang langsung — seperti panggilan telepon — bisa memicu kecemasan, karena secara bawah sadar Anda merasa tidak layak untuk didengarkan.
Maka, sebelum menjawab telepon, Anda perlu waktu untuk membungkam suara-suara keraguan dari dalam diri sendiri.
Penutup: Bukan Salah Anda, Tapi Anda Bisa Memahaminya
Kebiasaan untuk mempersiapkan mental sebelum menerima telepon bukan tanda kelemahan.
Ini justru merupakan refleksi dari pengalaman hidup dan mekanisme adaptasi yang telah Anda bangun untuk bertahan.
Dengan memahami akar dari kecemasan ini, Anda bisa mulai berdamai dengan diri sendiri dan — jika Anda menginginkannya — perlahan melatih diri untuk merasa lebih nyaman dalam komunikasi langsung.
Psikologi tidak menyalahkan Anda atas kebiasaan ini. Justru, ia mengajak Anda untuk menyelami cerita hidup yang tersembunyi di balik kebiasaan tersebut.
Dan seperti kebiasaan lainnya, ini pun bisa dipelajari, dipahami, dan ditata ulang — dengan penuh kasih terhadap diri sendiri.