Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 27 Juli 2025 | 04.47 WIB

Orang yang Sangat Baik tetapi Sulit Menjalin Hubungan Biasanya Menampilkan 8 Kebiasaan Ini tanpa Menyadarinya Menurut Psikologi

seseorang yang baik tapi sulit menjalin hubungan


JawaPos.com - Tidak semua orang yang baik hati dan penuh perhatian berhasil dalam hubungan asmara atau sosial.

 
Faktanya, banyak orang yang dikenal sangat baik justru kesulitan dalam menjalin dan mempertahankan hubungan yang sehat dan memuaskan. 
 
Ini bisa terasa membingungkan—bagaimana bisa seseorang yang begitu penuh kasih dan pengertian tetap merasa kesepian, ditinggalkan, atau tidak pernah menemukan “hubungan yang tepat”?
 
Baca Juga: Orang yang Masih Menulis Pengingat di Kertas Ketimbang di Ponsel Biasanya Menunjukkan 7 Kebiasaan Unik Ini Menurut Psikologi

Menurut psikologi, ada pola tertentu yang diam-diam melekat pada orang-orang yang sangat baik, yang justru membuat mereka berjuang dalam hubungan. 
 
Mereka mungkin berpikir bahwa kebaikan mereka adalah kekuatan, dan itu memang benar. 
 
Namun, ketika kebaikan tersebut tidak diimbangi dengan batasan diri, kesadaran emosional, dan harga diri yang sehat, itu bisa menjadi bumerang.

Dilansir dari Geediting pada Sabtu (26/7), terdapat 8 kebiasaan halus yang sering ditampilkan oleh orang yang sangat baik, namun tanpa sadar membuat mereka kesulitan dalam hubungan, menurut psikologi:
 
Baca Juga: 7 Bentuk Self Harm yang Tidak Terlihat: Kebiasaan Sehari-hari yang Diam-diam Menyakiti Diri Anda

1. Mengesampingkan Kebutuhan Pribadi Demi Menyenangkan Orang Lain

Orang yang sangat baik sering kali menempatkan kebutuhan orang lain di atas kebutuhan dirinya sendiri. 
 
Mereka mungkin merasa bersalah saat berkata "tidak" atau takut dianggap egois jika memprioritaskan diri. 
 
Dalam jangka panjang, hal ini menciptakan ketidakseimbangan dalam hubungan, di mana mereka memberi terlalu banyak dan menerima terlalu sedikit. 
 
Ketika kelelahan dan frustrasi muncul, mereka mungkin merasa tidak dihargai—padahal mereka sendiri yang tidak menetapkan batasan.

Psikologi menyebut ini sebagai “people-pleasing behavior”, yang berkaitan erat dengan kebutuhan untuk diterima dan rasa takut akan penolakan.

2. Menghindari Konflik Sebisa Mungkin

Orang yang baik cenderung tidak ingin menciptakan ketegangan. 
 
Mereka lebih memilih untuk memendam rasa kecewa atau kesal daripada mengutarakannya, demi menjaga keharmonisan hubungan. 
 
Sayangnya, emosi yang dipendam tidak pernah benar-benar hilang. 
 
Cepat atau lambat, hal ini bisa meledak dalam bentuk ledakan emosi, pasif-agresif, atau rasa sakit hati yang mendalam.

Psikolog menyebut ini sebagai konflik internal antara ekspresi diri dan ketakutan akan perpecahan.

3. Memberi Terlalu Cepat dan Terlalu Banyak di Awal Hubungan

Saking baiknya, mereka ingin segera menunjukkan perhatian, kebaikan, dan kepedulian. 
 
Tapi dalam psikologi hubungan, memberi terlalu banyak di awal bisa menciptakan dinamika yang tidak seimbang. 
 
Pasangan mungkin menjadi terlalu bergantung, atau justru merasa terbebani oleh ekspektasi tidak langsung untuk membalas kebaikan itu.

Kebaikan yang berlebihan bisa terasa seperti tekanan emosional jika tidak dilandasi dengan kejelasan dan keseimbangan.

4. Membenarkan Perilaku Buruk Pasangan

Orang yang sangat baik sering memiliki empati tinggi.
 
Mereka cenderung mencari alasan atas perilaku buruk pasangannya—seperti berkata, "Dia hanya sedang stres", atau "Dia tidak bermaksud menyakitiku." 
 
Alih-alih menetapkan batas yang sehat, mereka memberi terlalu banyak toleransi, yang justru memperpanjang hubungan yang tidak sehat atau manipulatif.

Dalam psikologi ini dikenal sebagai “toxic empathy”—empati yang mengorbankan diri sendiri.

5. Sulit Menerima Pujian atau Kasih Sayang

Meskipun mereka memberi dengan tulus, banyak orang baik justru merasa tidak nyaman saat menerima perhatian, kasih sayang, atau pujian. 
 
Mereka mungkin merasa tidak layak atau takut dinilai sombong. 
 
Akibatnya, hubungan menjadi satu arah: mereka memberi terus, tetapi tidak membiarkan orang lain memberi kembali.

Ini bisa berasal dari kepercayaan diri yang rendah atau pengalaman masa lalu yang membuat mereka merasa harus selalu “membuktikan” nilai dirinya.

6. Takut Menunjukkan Ketidaksempurnaan

Karena ingin selalu terlihat baik dan bisa diandalkan, mereka takut memperlihatkan sisi lemah, marah, atau rapuh.
 
Dalam hubungan yang sehat, keterbukaan terhadap ketidaksempurnaan justru memperkuat ikatan. 
 
Namun jika seseorang selalu tampil “terlalu sempurna”, itu bisa membuat pasangannya sulit merasa terhubung secara emosional.

Dalam istilah psikologi, ini bisa berkaitan dengan “perfectionism masking”—menutupi rasa takut ditolak dengan kesempurnaan semu.

7. Memilih Diam Saat Merasa Tidak Dihargai

Daripada mengungkapkan perasaan terluka atau kecewa, mereka memilih diam dan menahan perasaan. 
 
Ini dilakukan untuk menghindari konflik atau karena takut dianggap terlalu sensitif. 
 
Tapi dalam hubungan jangka panjang, hal ini justru mengikis keintiman dan kepercayaan.

Keengganan untuk berbicara bisa menyebabkan hubungan yang “tenang di permukaan, tapi penuh luka di dalam.”

8. Menilai Diri dari Seberapa Bahagia Mereka Membuat Orang Lain

Mereka mengukur harga diri berdasarkan seberapa mereka mampu menyenangkan orang lain. 
 
Jika pasangan bahagia, mereka merasa bernilai. Jika pasangan kecewa, mereka merasa gagal. 
 
Ketergantungan emosional ini membuat mereka mudah dimanipulasi dan kesulitan mengembangkan identitas yang kuat dalam hubungan.

Psikologi menyebut ini sebagai bentuk “codependency”—ketergantungan emosional yang tidak sehat terhadap validasi orang lain.

Penutup: Kebaikan Harus Diimbangi dengan Batasan

Menjadi orang baik adalah kualitas yang luar biasa. 
 
Namun, kebaikan yang tidak disertai kesadaran diri dan batasan yang sehat bisa menjebak seseorang dalam pola hubungan yang melelahkan secara emosional. 
 
Jika Anda merasa telah melakukan semua hal “dengan benar” dalam hubungan namun tetap merasa tidak bahagia, mungkin sudah waktunya untuk melihat kembali apakah kebaikan Anda sedang “mengorbankan” diri sendiri.

Belajar mengatakan “tidak”, menetapkan batasan, mengekspresikan perasaan dengan jujur, dan menerima cinta sebagaimana Anda memberikannya—semua itu adalah bentuk keberanian yang sama pentingnya dengan menjadi orang yang baik.
 

Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore