Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 23 Juli 2025 | 06.36 WIB

Dapat Mengganggu Kesehatan Mental, Mengungkap Dampak Negatif Perfeksionis Berlebihan dan Cara Efektif Mengatasinya

Ilustrasi perfeksionis - Image

Ilustrasi perfeksionis

JawaPos.com - Pernahkah Anda mendengar istilah perfeksionis? Kata ini sering kita dengar di berbagai kalangan, terutama di antara para pelajar dan profesional. Perfeksionis adalah sebutan bagi individu yang senantiasa menetapkan standar tinggi dan menghendaki kesempurnaan dalam segala aspek, baik pada diri sendiri, pekerjaan, maupun orang lain.

Oleh karena itu, tak heran jika mereka cenderung mengkritik diri sendiri dan orang lain apabila ada hal yang tidak sesuai dengan standar yang diinginkan. Seorang perfeksionis akan berupaya keras untuk memastikan segala sesuatu berjalan selaras dengan kriteria dan rencana yang telah ditetapkan. Jika hasil yang diperoleh belum mencapai kriteria tersebut, mereka akan terus mengulang pekerjaan hingga benar-benar sempurna.

Berdasarkan informasi dari mnp.ac.id, keinginan menjadi perfeksionis kerap kali muncul karena adanya kekhawatiran terhadap penilaian orang lain. Selain itu, pengalaman di masa lalu, termasuk masa kecil, juga bisa menjadi faktor pembentuk karakter ini. Perilaku ini dapat dialami oleh siapa saja, termasuk anak usia muda. Apakah Anda salah satu yang merasakan hal ini?

Baca Juga: Virgo Perfeksionis yang Rentan Overthinking Saat Hal Kecil Tak Sesuai Harapan, Intip Tips Berikut

Menurut informasi yang diambil dari laman Alodokter, terdapat dua jenis perfeksionis. Pertama adalah perfeksionis adaptif, yang merupakan jenis yang sehat dan terarah. Individu dengan sifat perfeksionis ini cenderung menunjukkan perilaku yang positif, seperti mencapai prestasi, berperforma aktif, dan memiliki kinerja yang baik.

Sayangnya, perfeksionis tidak selalu memiliki konotasi positif. Jenis kedua, yaitu perfeksionis maladaptif, termasuk dalam kategori ekstrem dan tidak sehat. Jenis ini dianggap tidak sehat karena individu yang memilikinya seringkali menuntut diri sendiri atau orang lain untuk memenuhi standar tinggi yang mereka harapkan.

Akibatnya, sifat perfeksionis maladaptif ini dapat memicu stres dan bahkan berpotensi menyebabkan depresi. Oleh karena itu, jenis perfeksionis ini dapat mengakibatkan gangguan kesehatan mental.

Baca Juga: Pribadi Ambisius Cenderung Menjadi Perfeksionis Ekstrem dan Menghadapi Dampak Berat dalam Produktivitas, Ini Ciri-cirinya!

Apakah Anda sudah menyadari bahwa ada banyak dampak negatif yang dapat timbul jika kebiasaan perfeksionis ini terus berlanjut? Mari kita bahas bersama mengenai dampak buruk yang mungkin terjadi beserta cara mengatasinya!

- Dampak Negatif Perfeksionis Berlebihan
1. Rasa kecewa yang berlebihan
Sifat perfeksionis dapat menyebabkan individu merasakan kekecewaan yang mendalam. Ketika harapan yang mereka miliki tidak terpenuhi, mereka cenderung menyalahkan diri sendiri dan terjebak dalam perasaan negatif. Hal ini membuat mereka sulit untuk bangkit dan mengatasi kegagalan yang dialami.

2. Gangguan kesehatan yang muncul
Salah satu bahaya dari perfeksionis adalah dampaknya terhadap kesehatan. Individu dengan kepribadian perfeksionis seringkali mengalami masalah kesehatan, seperti gangguan makan anoreksia nervosa, demi mencapai pola makan yang sempurna dan tubuh yang ideal. Keinginan untuk selalu sempurna dapat memicu stres yang berujung pada depresi, perasaan tidak bahagia, rendah diri yang berlebihan, kesepian, kemarahan, ketidaksabaran, frustrasi, obsesif kompulsif, insomnia, bahkan keinginan untuk bunuh diri.

3. Menurunnya produktivitas
Perfeksionis juga dapat menyebabkan penurunan produktivitas. Individu dengan sifat ini seringkali terjebak dalam siklus menunda-nunda pekerjaan (procrastination) karena terlalu memikirkan cara untuk menyelesaikan tugas dengan sempurna. Akibatnya, mereka kehilangan fokus dalam bekerja. Seiring waktu, hal ini dapat berkembang menjadi ketakutan berlebihan terhadap kesalahan, yang dikenal sebagai atelophobia. Mereka akan menghindari semua pekerjaan yang berpotensi membuat mereka melakukan kesalahan.

4. Hubungan dengan orang lain terganggu
Orang yang memiliki kepribadian perfeksionis cenderung menilai orang lain dengan standar yang sama seperti mereka menilai diri sendiri. Harapan yang terlalu tinggi terhadap teman, keluarga, pasangan, atau rekan kerja dapat menambah stres dan mengganggu hubungan sehari-hari. Hal ini membuat interaksi sosial menjadi lebih sulit dan penuh tekanan.

5. Tidak menikmati hidup
Salah satu dampak negatif dari perfeksionis adalah ketidakmampuan untuk menikmati hidup. Individu yang terjebak dalam pola pikir ini seringkali mengkhawatirkan atau mengkritik segala sesuatu yang terjadi di sekitar mereka. Mereka juga merasa cemas tentang masa depan atau menyesali peristiwa yang telah terjadi di hari ini, sehingga kehilangan momen-momen berharga dalam hidup.

- Cara Efektif Mengatasinya
1. Tetap berpikir positif
Saat menghadapi situasi yang tidak sesuai dengan harapan, penting untuk tetap berpikir positif. Hal ini dapat membantu mengurangi rasa cemas serta meningkatkan motivasi dan kepercayaan diri Anda.

2. Hindari menunda-nunda
Usahakan untuk tidak menunda-nunda aktivitas atau tugas yang perlu diselesaikan. Dengan menyelesaikan pekerjaan tepat waktu, Anda dapat mengurangi tekanan yang mungkin timbul akibat perfeksionis.

3. Tetapkan tujuan yang realistis
Cobalah untuk menetapkan tujuan yang lebih realistis dan dapat dicapai. Fokuslah pada satu tugas dalam satu waktu agar tidak merasa terbebani oleh banyaknya hal yang harus dilakukan.

4. Belajar menerima kesalahan
Penting untuk belajar menerima kesalahan yang Anda buat dan tidak terlalu memikirkannya. Kesalahan adalah bagian dari proses belajar, dan menerima hal ini dapat membantu mengurangi tekanan yang Anda rasakan.

5. Hindari kelelahan dan kesepian
Usahakan untuk tidak merasa kelelahan, serta sebisa mungkin hindari perasaan kesepian dan marah. Individu dengan sifat perfeksionis cenderung merasa lebih cemas dan gelisah dalam kondisi-kondisi tersebut.

6. Terima diri sendiri dan orang lain
Jangan berharap terlalu tinggi dan cobalah untuk menerima diri sendiri serta orang lain apa adanya. Sadari bahwa setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangan, dan hal ini adalah bagian dari kehidupan.

7. Mencari bantuan profesional
Jika Anda merasa benar-benar tidak bahagia atau bahkan mengalami depresi akibat perfeksionis, penting untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut dari seorang psikiater.

Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore