
Seorang perempuan duduk termenung di depan ponsel, mencerminkan rasa cemas dan ketidakpastian akibat ghosting dalam hubungan digital. (Dok. Canva)
JawaPos.com - Hubungan sosial di era digital memang kerap kali menawarkan kemudahan, tapi juga menyisakan luka yang tidak terlihat. Salah satu sakit hati paling umum dan menyakitkan yang muncul dari komunikasi digital adalah fenomena ghosting. Meski terdengar sepele bagi sebagian orang, ternyata ghosting menyentuh titik paling rentan dalam diri manusia, yaitu keinginan untuk dipahami, diterima, dan dicintai.
Menurut laporan dari TED Ideas yang ditulis oleh Psikolog Michelle Drouin, PhD, ghosting menyakitkan bukan hanya karena seseorang menghilang tanpa penjelasan, tapi karena hal tersebut menyerang kebutuhan dasar manusia akan kepastian dan koneksi sosial.
Manusia, Makhluk yang Peduli pada Pikiran Orang Lain
Sejak kecil, manusia belajar untuk memikirkan pikiran orang lain. Hal ini berkaitan dengan kemampuan yang disebut theory of mind, yaitu kesadaran bahwa orang lain memiliki pikiran, perasaan, dan perspektif yang berbeda dari diri kita. Kemampuan ini biasanya berkembang antara usia tiga hingga lima tahun.
Dengan kemampuan tersebut, manusia belajar menyesuaikan perilaku agar diterima dalam lingkungan sosial. Ini pula yang menjelaskan mengapa kita sering memikirkan, bahkan terlalu memikirkan, bagaimana orang lain menilai kita, sebuah kebiasaan yang ternyata penting bagi keberlangsungan hubungan sosial.
Ghosting Menyentuh Titik Rentan: Rasa Ingin Tahu dan Butuh Dicintai
Masalah muncul ketika komunikasi digital yang sifatnya permanen dan bisa diulang-ulang. Hal tersebut membuat kita terjebak dalam putaran pikiran negatif. Dikutip dari tulisan Drouin, orang-orang yang lebih cerdas secara verbal justru cenderung lebih banyak merenung dan khawatir, terutama ketika menghadapi ketidakpastian seperti ghosting.
Namun, bukan sekadar keinginan untuk tahu yang membuat ghosting terasa menyakitkan. Lebih dari itu, ghosting menyentuh kerinduan terdalam manusia akan cinta dan rasa memiliki.
"Ghosting adalah tanda adanya koneksi yang lemah atau bahkan rusak," tulis Drouin.
Ketika seseorang yang penting tiba-tiba menghilang tanpa kabar, kita bukan hanya mencari penjelasan, tapi juga merasa kehilangan makna dari hubungan tersebut.
Butuh Validasi, Bukan Jawaban
Mengapa kita begitu terobsesi memikirkan seseorang yang bahkan mungkin bukan orang terdekat kita? Menurut uncertainty reduction theory, manusia cenderung ingin mengurangi ketidakpastian untuk membangun hubungan yang lebih kuat. Sayangnya, dalam kasus ghosting, kita justru dihadapkan pada ketidakpastian yang tak bisa kita kendalikan.
Akibatnya, beberapa orang bisa bertindak di luar kebiasaan, seperti mengirim pesan berkali-kali, mengintip media sosial si "ghoster", bahkan terus-menerus membaca ulang pesan terakhir. Semua ini dilakukan sebagai upaya putus asa untuk mendapatkan kepastian dan validasi.
Apa yang Bisa Dilakukan?

Persebaya Surabaya Rayakan Kembalinya Bruno Moreira, Bonek Kompak Satu Suara
14 Kuliner Malam Bandung yang Paling Enak dan Selalu Ramai hingga Larut Malam dengan Suasana Seru dan Rasa Lezat
Bocoran Soal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
18 Rekomendasi Kuliner di Tangerang untuk Keluarga, Tempat Makan Favorit dari Tradisional sampai Modern
Link Live Streaming Semifinal Uber Cup 2026 Indonesia vs Korea Selatan dan Line-up Pertandingan
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
