Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 19 Mei 2025 | 01.24 WIB

Jika Kamu Secara Naluriah Suka Membandingkan Harga Bahkan Ketika Kondisi Keuangan Sedang Baik, Psikologi Mengatakan Kamu Membawa 9 Perilaku Ini Sejak

Ilustrasi seseorang yang suka membandingkan harga. (Freepik). - Image

Ilustrasi seseorang yang suka membandingkan harga. (Freepik).

JawaPos.com - Pernahkah kamu merasa ragu memilih antara dua barang serupa hanya karen perbedaan harga yang sangat tipis, meskipun saat itu kamu tidak sedang kekurangan uang?

Kebiasaan seperti itu ternyata bukan sekadar bentuk kehati-hatian dalam berbelanja. Ada alasan psikologis yang lebih dalam yang bisa menjelaskan mengapa seseorang terus membandingkan harga tanpa henti.

Psikolog menyebut bahwa perilaku finansial yang terbentuk sejak masa kanak-kanak dapat terus memengaruhi keputusan saat dewasa, bahkan ketika kondisi keuangan sudah stabil.

Dilansir dari Geediting pada Sabtu (17/5), berikut ini sembilan perilaku dari masa kecil yang bisa menjelaskan kecenderungan seseorang dalam membandingkan harga secara berlebihan, meski situasi keuangannya baik-baik saja.

1. Terjebak dalam Pola Pikir Kekurangan

Pola pikir ini membuat seseorang merasa bahwa apa pun yang dimiliki tidak akan pernah cukup. Meskipun kondisi finansialnya aman, tetap saja ada rasa takut akan kehabisan.

Biasanya pola ini terbentuk saat tumbuh dalam lingkungan yang penuh kekhawatiran finansial. Ketika dewasa, perasaan itu muncul dalam bentuk keinginan untuk selalu memilih yang paling murah.

2. Terlalu Mengutamakan Diskon dan Harga Murah

Ada kepuasan tersendiri ketika berhasil mendapatkan harga terbaik, seolah-olah telah memenangkan kompetisi tak kasat mata. Namun, bagi sebagian orang, hal ini bukan hanya soal hemat.

Jika sejak kecil terbiasa dipuji karena bisa menghemat uang, maka saat dewasa perilaku itu bisa berubah menjadi obsesi untuk selalu mencari potongan harga dan promosi.

3. Mengaitkan Harga dengan Harga Diri

Menjadi hemat memang baik, tetapi ketika nilai diri seseorang ditentukan dari seberapa hemat ia berbelanja, maka itu bisa menjadi tekanan tersendiri.

Tumbuh di lingkungan yang menekankan pentingnya berhemat bisa membuat seseorang merasa bersalah setiap kali membeli sesuatu tanpa diskon atau tanpa perbandingan harga terlebih dahulu.

4. Rasa Takut Akan Ketidakpastian Finansial

Ketakutan ini sering kali berasal dari pengalaman masa kecil yang penuh dengan ketidakstabilan, seperti kehilangan pekerjaan atau kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Editor: Hanny Suwindari
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore