
Ilustrasi seseorang yang suka membandingkan harga. (Freepik).
JawaPos.com - Pernahkah kamu merasa ragu memilih antara dua barang serupa hanya karen perbedaan harga yang sangat tipis, meskipun saat itu kamu tidak sedang kekurangan uang?
Kebiasaan seperti itu ternyata bukan sekadar bentuk kehati-hatian dalam berbelanja. Ada alasan psikologis yang lebih dalam yang bisa menjelaskan mengapa seseorang terus membandingkan harga tanpa henti.
Psikolog menyebut bahwa perilaku finansial yang terbentuk sejak masa kanak-kanak dapat terus memengaruhi keputusan saat dewasa, bahkan ketika kondisi keuangan sudah stabil.
Dilansir dari Geediting pada Sabtu (17/5), berikut ini sembilan perilaku dari masa kecil yang bisa menjelaskan kecenderungan seseorang dalam membandingkan harga secara berlebihan, meski situasi keuangannya baik-baik saja.
1. Terjebak dalam Pola Pikir Kekurangan
Pola pikir ini membuat seseorang merasa bahwa apa pun yang dimiliki tidak akan pernah cukup. Meskipun kondisi finansialnya aman, tetap saja ada rasa takut akan kehabisan.
Biasanya pola ini terbentuk saat tumbuh dalam lingkungan yang penuh kekhawatiran finansial. Ketika dewasa, perasaan itu muncul dalam bentuk keinginan untuk selalu memilih yang paling murah.
2. Terlalu Mengutamakan Diskon dan Harga Murah
Ada kepuasan tersendiri ketika berhasil mendapatkan harga terbaik, seolah-olah telah memenangkan kompetisi tak kasat mata. Namun, bagi sebagian orang, hal ini bukan hanya soal hemat.
Jika sejak kecil terbiasa dipuji karena bisa menghemat uang, maka saat dewasa perilaku itu bisa berubah menjadi obsesi untuk selalu mencari potongan harga dan promosi.
3. Mengaitkan Harga dengan Harga Diri
Menjadi hemat memang baik, tetapi ketika nilai diri seseorang ditentukan dari seberapa hemat ia berbelanja, maka itu bisa menjadi tekanan tersendiri.
Tumbuh di lingkungan yang menekankan pentingnya berhemat bisa membuat seseorang merasa bersalah setiap kali membeli sesuatu tanpa diskon atau tanpa perbandingan harga terlebih dahulu.
4. Rasa Takut Akan Ketidakpastian Finansial
Ketakutan ini sering kali berasal dari pengalaman masa kecil yang penuh dengan ketidakstabilan, seperti kehilangan pekerjaan atau kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Prediksi Skor Selandia Baru vs Mesir di Piala Dunia 2026: Mohamed Salah Jadi Tumpuan Libas All Whites
Kapolri Kenang Warisan Bung Karno, Tegaskan Semangat Pemimpin Bangsa Harus Terus Dijaga
Prediksi Skor Ekuador vs Curacao di Piala Dunia 2026: La Tri Wajib Menang demi Lolos ke Babak 32 Besar
Prediksi Skor Uruguay vs Tanjung Verde di Piala Dunia 2026: Kecerdikan Marcelo Bielsa Hadapi Blue Sharks
Prediksi Skor Jerman vs Pantai Gading di Piala Dunia 2026: Ujian Sesungguhnya Die Mannschaft di Grup E
Prediksi Skor Belgia vs Iran di Piala Dunia 2026: Kevin de Bruyne Jadi Pembeda Ladeni Perlawanan Team Melli
Gabriel Budi Blak-blakan, Agen Pemain Persebaya Surabaya Ungkap Sosok Paling Berkesan
Prediksi Skor Spanyol vs Arab Saudi di Piala Dunia 2026: La Roja Wajib Menang Demi Lolos ke 32 Besar
Prediksi Susunan Pemain Timnas Jepang vs Tunisia: Hiroki Ito Sudah Kantongi Kekuatan Lawan!
Prediksi Susunan Pemain Timnas Ekuador vs Curacao: Alan Franco Sudah Lupakan Kekalahan di Laga Perdana
