Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 15 April 2025 | 03.55 WIB

Orang-orang yang Terlihat "Terlalu Mandiri" Sering Kali Tumbuh dengan 7 Perilaku Keluarga ini

Ilustrasi tujuh perilaku keluarga yang sering kali membuat orang dewasa berusaha keras untuk tidak bergantung pada orang lain. - Image

Ilustrasi tujuh perilaku keluarga yang sering kali membuat orang dewasa berusaha keras untuk tidak bergantung pada orang lain.

JawaPos.com - Beberapa orang merasa bangga karena tidak membutuhkan bantuan dari siapapun, seolah-olah mereka mengenakan kemandiriannya seperti perisai. Kita sering berpikir menjadi sangat mandiri adalah pilihan pribadi atau lambang kehormatan.

Namun, ada pengaruh yang lebih dalam dan tersembunyi yang berperan. Para psikolog berpendapat bahwa keluarga dapat membentuk kita lebih dari apa yang kita sadari, terutama cara kita berhubungan dengan orang lain dan di mana kita menarik garis batas antara kemandirian dan koneksi.

Dilansir dari Geediting, inilah tujuh perilaku keluarga yang sering kali membuat orang dewasa berusaha keras untuk tidak bergantung pada orang lain.

1. Tumbuh dengan ekspektasi "melakukan semuanya sendiri"

Orang-orang yang tampak terlalu mandiri biasanya tumbuh dengan pengingat terus-menerus untuk mencari tahu segala sesuatunya sendiri. Mendorong kemandirian bisa bermanfaat.

Namun, jika anak mendengar, berulang kali, bahwa mereka harus mandiri, hal itu dapat berubah menjadi keyakinan bahwa meminta bantuan adalah tindakan yang lemah atau tidak berguna.

Mereka belajar bahwa perjuangannya adalah tanggung jawab mereka sendiri, yang mungkin terdengar memberdayakan pada pandangan pertama. Namun, di masa dewasa, hal itu dapat membuat kedekatan emosional dan kolaborasi terasa tidak wajar atau mengancam.

Terkadang, orang-orang seperti ini kesulitan mendelegasikan tugas-tugas yang paling sederhana sekalipun di tempat kerja atau dalam hubungan. Ini bukan karena kemalasan atau kesombongan, mereka hanya memiliki anggapan bahwa mereka lebih baik menangani semuanya sendiri.

2. Memiliki pengasuh yang jauh secara emosional

Jarak emosional dapat muncul dalam berbagai bentuk, mungkin orang tua hadir secara fisik tetapi tidak peduli secara mental, atau mungkin mereka mengabaikan kebutuhan emosional anak sebagai sesuatu yang “dramatis”.

Jika itu adalah norma, anak dengan cepat belajar untuk tidak mengharapkan kehangatan atau percakapan terbuka. Jika Anda tidak pernah mendapatkan banyak empati, Anda mungkin akan memandang kebutuhan Anda sendiri sebagai beban.

Orang-orang yang dibesarkan dengan cara ini sering kali merasa sulit untuk mengekspresikan kerentanan. Faktanya, mereka mungkin tidak menyadari bahwa mereka sedang merasakan sesuatu yang mendalam hingga mereka benar-benar kewalahan.

Dia mengangkat bahu dan berkata, "Aku baik-baik saja," meskipun jelas dia tidak baik-baik saja. Sebaliknya, mereka menghadapi masalah dalam diam.

3. Dipuji hanya karena prestasinya bukan karena siapa mereka

Beberapa keluarga memberikan kasih sayang atau pengakuan terutama ketika seorang anak mencapai sesuatu, baik itu penghargaan, nilai tertinggi, atau keberhasilan atletik. Di luar pencapaian tersebut, tidak ada yang peduli.

Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore