Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 18 Maret 2025 | 17.53 WIB

8 Perilaku Workaholic yang Sebenarnya Merindukan Hidup Seimbang Menurut Ilmu Psikologi

Ilustrasi seorang pekerja yang terlihat lelah (Dok. Freepik)

JawaPos.com - Dalam dunia kerja serba cepat saat ini, istilah hustle culture atau budaya kerja keras seringkali diagungkan. Banyak orang merasa bangga dan terhormat jika bisa bekerja tanpa henti. Namun, tahukah kamu bahwa di balik keglamoran budaya kerja keras, ada satu di antara orang-orang yang sebenarnya mendambakan keseimbangan hidup?

Psikologi mengungkap bahwa tidak semua workaholic atau pecandu kerja benar-benar menikmati tekanan pekerjaan. Justru sebaliknya, banyak dari mereka yang diam-diam merindukan waktu istirahat dan kehidupan yang lebih seimbang. Akan tetapi, mereka bertindak seolah-olah sangat mencintai pekerjaan dan gila kerja.

Melansir dari laman Geediting.com, Selasa (18/3), berikut delapan perilaku workaholic yang haus keseimbangan, namun bertingkah seolah mencintai kerja keras.

1. Mengagungkan Budaya Hustle sambil Diam-Diam Merindukan Waktu Santai

Istilah 'hustle hard' bukan hanya sekadar jargon bagi workaholic tipe ini. Lebih dari itu, frasa tersebut sudah menjadi mantra dalam kehidupan mereka. Mereka kerap mengunggah kutipan motivasi tentang kerja keras di media sosial.

Tidak jarang, mereka juga bangga dengan label "team no sleep" dan terus-menerus membicarakan padatnya beban kerja. Akan tetapi, di balik semua itu, banyak dari mereka yang mengakui bahwa mereka sebenarnya lebih memilih jadwal yang lebih santai. Mereka merasa bersalah setiap kali tidak bekerja.

2. Selalu 'On' dan Sulit Mematikan Mode Kerja

Apakah kamu mengenal orang yang tidak pernah benar-benar berhenti bekerja? Inilah satu di antara ciri umum workaholic yang tidak punya hobi lain di luar pekerjaan. Mereka terus-menerus dalam mode kerja, bahkan ketika tidak bekerja secara teknis, pikiran mereka tetap tertuju pada pekerjaan.

Otak mereka seolah selalu terhubung dengan pekerjaan dan tugas-tugas yang menanti. Seperti ada saklar tersembunyi yang tidak bisa mereka matikan. Bahkan saat waktu senggang, mereka secara mental terus menjalankan daftar tugas atau memikirkan masalah pekerjaan.

3. Kehidupan Sosial yang Terpinggirkan karena Pekerjaan

Dedikasi tinggi pada pekerjaan memang terpuji, tetapi ada kalanya hal itu mengorbankan kehidupan sosial. Seorang workaholic mungkin saja hampir tidak punya waktu untuk bersosialisasi. Bahkan ketika mereka meluangkan waktu untuk bertemu teman, pikiran mereka tetap melayang pada pekerjaan.

Ketika kehidupan sosial terpinggirkan, workaholic seringkali merasa kesepian dan terisolasi. Padahal, keseimbangan hidup yang sebenarnya juga mencakup hubungan sosial yang sehat dan bermakna. Mereka mungkin tidak menyadari bahwa fokus berlebihan pada pekerjaan telah merenggut kebahagiaan dalam hubungan personal.

4. Perfeksionisme Berlebihan yang Membuat Stres

Perfeksionisme sering dianggap sebagai kualitas positif, tetapi pada workaholic, hal itu bisa menjadi bumerang. Mereka menetapkan standar yang sangat tinggi untuk diri sendiri dan orang lain. Akibatnya, mereka menjadi stres dan cemas ketika tidak dapat mencapai kesempurnaan.

Editor: Candra Mega Sari
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore