
Ilustrasi: Early Warning System Mencegah Pengaturan Skor
JawaPos.com - "RUMANGSA handarbeni, melu hangkrukebi, mulat sarira hangrasa wani (merasa memiliki, ikut menjaga, dan berani introspeksi pada diri sendiri).". Itulah sebuah kearifan lokal yang diajarkan oleh Pangeran Sambernyawa dari Dinasti Mataram.
Ajaran itu tentu relevan dengan kondisi sepak bola kita saat ini, ketika media massa dan publik tidak lagi percaya kepada integritas jajaran kepengurusan PSSI. Media massa dan publik melancarkan kritik keras terhadap tata kelola persepakbolaan karena mereka merasa memiliki sepak bola. Sekaligus ingin menjaga khitah kesucian sepak bola dari tangan kotor.
Sayang, PSSI justru tidak melakukan introspeksi. Alih-alih introspeksi, PSSI justru terkesan mencari celah kesalahan pihak lain. Komisi Disiplin PSSI membuat panggilan kepada 76 akun media sosial yang mengunggah informasi tentang pengaturan skor. Bahkan, PSSI mengancam memolisikan para pemilik akun tersebut jika mereka tidak bisa membuktikan adanya pengaturan skor.
Serupa dengan PSSI, ada suporter sepak bola yang tidak berani introspeksi ketika klubnya disebut terlibat skandal pengaturan skor. Dukungan yang berbasis fanatisme buta menyebabkan tipe suporter sepak bola yang demikian antikritik.
Untung, masih ada suporter sepak bola yang bernalar bijaksana. Dengan memberikan tekanan kepada manajemen klub yang mereka dukung ketika diberitakan terlibat skandal pengaturan skor.
Persoalan pengaturan skor dalam sepak bola Indonesia bukanlah hal baru. Sebuah berita yang berjudul Acub Zainal: Rusaknya Sudah Terlalu Parah di Majalah Tempo edisi 2 April 1988 menurunkan laporan tentang kisruh sepak bola Indonesia karena merebaknya suap, meski sudah dibentuk Tim Penanggulangan dan Pemberantasan Masalah Suap (TPPMS). Tiga puluh tahun setelah TPPMS dibentuk, skandal pengaturan skor ternyata semakin merajalela.
Indonesia seharusnya mengaca kepada Italia saat Negeri Pizza itu membongkar skandal Calciopoli yang terjadi pada rentang 1999-2005. Melalui early warning system (EWS) yang diterapkan oleh FIFA untuk memonitor pertandingan sepak bola, mengidentifikasi beragam tindakan di luar aturan di pasar taruhan sepak bola dan potensi manipulasi skor pertandingan, skandal Calciopoli terbongkar pada 2006.
Hukuman yang dikenakan kepada klub dan individu yang terlibat pengaturan skor sungguh berat. Klub sekelas Juventus harus degradasi ke Serie B setelah direktur umumnya, Luciano Moggi, terbukti melakukan percakapan telepon untuk memengaruhi pejabat Federasi Sepak Bola Italia (FIGC) dalam penunjukan wasit.
Penyelidikan jaksa terhadap agensi olahraga GEA World menjadi pintu masuk penyelidikan terhadap skandal yang menampar sepak bola Italia itu. Selain Juventus, beberapa klub juga terkena hukuman. Antara lain, AC Milan, Lazio, Fiorentina, dan Reggina.
Berkaca kepada Italia, seharusnya PSSI segera melakukan penyelidikan internal terhadap pengurus, wasit, dan manajemen klub yang dicurigai telah diatur skornya. Sebagaimana yang dilakukan Italia, rekaman percakapan telepon bisa menjadi bukti fisik yang diinvestigasi, di samping bukti fisik lain yang relevan. Early warning system untuk mencegah pengaturan skor seharusnya diaktifkan.
Jika melihat performa PSSI dalam mengatasi skandal pengaturan skor, publik sepertinya sudah tidak percaya lagi. Jargon Football Family yang didengungkan PSSI tidak mampu membendung opini publik yang semakin besar.
Laporan jurnalistik tentang skandal pengaturan skor sepak bola dengan berbasis jurnalisme investigasi seperti yang dilakukan oleh Jawa Pos semakin memperkuat opini publik.
Publik kini justru lebih percaya kepada kepolisian untuk mengatasi persoalan skandal pengaturan skor dalam sepak bola Indonesia. Ditangkapnya anggota Komite Eksekutif PSSI Johar Lin Eng kemarin (27/12) semakin menipiskan kepercayaan publik terhadap PSSI.
Mengutip Pramoedya Ananta Toer dalam novelnya, Bumi Manusia, "Seorang terpelajar harus sudah berbuat adil sejak dalam pikiran, apalagi dalam perbuatan," suporter sepak bola yang klubnya terlibat skandal juga harus legawa jika klub yang didukung mendapat hukuman berat: degradasi.
*) Dosen Ilmu Komunikasi UMY, penulis buku Merayakan Sepakbola
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Moldova vs Kepulauan Faroe: Landsliðið Unggul Tipis dari Tuan Rumah
Gelar Pertemuan, BEM UI, SEMA UGM, dan KM ITB Sepakat Gelar Aksi Besar dalam Waktu Dekat
Prediksi Skor Slovenia vs Makedonia Utara di Liga Nations UEFA: Fantje Kalahkan Tim Tamu
Prediksi Skor Skotlandia vs Swiss di Liga Nations UEFA: Nati Kalahkan Tuan Rumah dengan Skor Telak
Prediksi Skor Skor Lithuania vs Andorra, Laga Persahabatan: Tuan Rumah Berpeluang Menang
Prediksi Skor San Marino vs Albania di Liga Nations UEFA: Kuq e Zinjte Menang Telak di Dogana
Prediksi Skor Filipina vs Pakistan di FIFA ASEAN Cup: The Azkals Menang Tipis Atas The Shaheens
Prediksi Skor Jamaika vs Honduras di CONCACAF Nations League: Reggae Boyz Menang Meyakinkan?
Prediksi Skor Moldova vs Kepulauan Faroe: Tuan Rumah Dibayangi Rapuhnya Lini Pertahanan
Prediksi Finlandia vs Belarus di UEFA Nations League: Pohjanpalo Siap Lanjutkan Ketajaman

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022