JawaPos Radar

BPJS Kesehatan Merugi, Pasien JKN Kena Dampaknya, Obat Sulit Ditebus

26/09/2018, 13:51 WIB | Editor: Ilham Safutra
BPJS Kesehatan Merugi, Pasien JKN Kena Dampaknya, Obat Sulit Ditebus
Ilustrasi: peserta JKN kesulitan tebus obat yang ditanggung BPJS karena tidak ada stoknya di BPJS. (IDHAM AMA/FAJAR/Jawa Pos Group)
Share this image

JawaPos.com - Peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) kesulitan menebus dan menemukan obat yang ditanggung dalam pembiayaan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan.

Hal ini dialami Yanti Murwani, peserta JKN asal Cilodong, Depok, Jawa Barat. Kasus itu bermula dari dia berobat rawat jalan ke salah seorng dokter penyakit dalam di rumah sakit di  bilangan Depok. Dalam pemeriksaan itu Yanti Murwani memang didiagnosa didiagnosa menderita diabetes dan pengapuran sendi. Lantas sang dokter pun resep obat untuk ditebus di apotek.

Di RS HGA obat untuk penyakit yang diderita Yanti tidak ada. Lantas dicoba ditebus ke apotek lain, namun tidak ada juga obat yang diharapkan.

BPJS Kesehatan Merugi, Pasien JKN Kena Dampaknya, Obat Sulit Ditebus
Salinan resep obat pasien yang sulit ditebus di apotek. (Marieska Harya Virdani/JawaPos.com)

Ketika dia datang ke apotek berniat untuk menebus resep justru tidak tersedia. Dirinya bersama keluarga juga sudah mempertanyakan hal itu ke pejabat BPJS setempat.

"Keluarga sudah bertanya melalui pesan singkat tetapi sama sekali tidak ada jawaban dari BPJS. Tentu kami ingin mendapat pelayanan, apalagi saya peserta mandiri kelas 1," katanya kepada JawaPos.com, Rabu (26/9).

Yanti merasa kecewa karena obat yang dibutuhkan langka di beberapa apotek di Depok. "Saya sudah ke beberapa apotek tapi tidak ada obat yang saya butuhkan terutama yang dicover BPJS," kata Yanti.

Ketika mencoba menebus di apotek yang berada di Jalan Tole Iskandar dan Jalan Raya Bogor, petugasnya mengaku obat-obat untuk BPJS sedang langka. Hal itu disinyalir akibat defisit yang dialami oleh BPJS Kesehatan.

Informasi itu membuat Yanti merasa dirugikan, karena dia selalu membayar iuran JKN setiap bulan. "Saya ini masyarakat kecil yang tiap bulan bayar rutin. Kalau BPJS rugi kenapa saya harus kena dampaknya. Saya lagi butuh obat," katanya.

Dia berharap stok obat yang ditanggung BPJS segera tersedia. Sebab penyakitnya tentu tak bisa menunggu sampai permasalahan defisit BPJS selesai. "Ada 3 jenis obat yang langka. Dan rata-rata yang ditanggung BPJS," ujarnya.

Sementara itu saat dikonfirmasi JawaPos.com, Kepala BPJS Kesehatan Kota Depok Maya Febriyanti Purwandari mengaku akan mengecek terlebih dahulu ketersediaan obat di apotek. Katanya, permasalahan defisit sudah selesai setelah pemerintah pusat mengucurkan Rp 4,9 triliun. Masalah ketersediaan obat bukan lagi masalah.

"Kan sudah selesai Rp 4,9 triliun sudah turun. Soal obat perusahaan farmasi juga kan sudah dibayar ke rumah sakit. Mungkin apoteknya saja yang belum ada setoknya. Saya akan cek dulu apotek mana saja," tegas Maya.

(ika/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up