
Ilustrasi: peserta JKN kesulitan tebus obat yang ditanggung BPJS karena tidak ada stoknya di BPJS.
JawaPos.com - Peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) kesulitan menebus dan menemukan obat yang ditanggung dalam pembiayaan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan.
Hal ini dialami Yanti Murwani, peserta JKN asal Cilodong, Depok, Jawa Barat. Kasus itu bermula dari dia berobat rawat jalan ke salah seorng dokter penyakit dalam di rumah sakit di bilangan Depok. Dalam pemeriksaan itu Yanti Murwani memang didiagnosa didiagnosa menderita diabetes dan pengapuran sendi. Lantas sang dokter pun resep obat untuk ditebus di apotek.
Di RS HGA obat untuk penyakit yang diderita Yanti tidak ada. Lantas dicoba ditebus ke apotek lain, namun tidak ada juga obat yang diharapkan.
Ketika dia datang ke apotek berniat untuk menebus resep justru tidak tersedia. Dirinya bersama keluarga juga sudah mempertanyakan hal itu ke pejabat BPJS setempat.
"Keluarga sudah bertanya melalui pesan singkat tetapi sama sekali tidak ada jawaban dari BPJS. Tentu kami ingin mendapat pelayanan, apalagi saya peserta mandiri kelas 1," katanya kepada JawaPos.com, Rabu (26/9).
Yanti merasa kecewa karena obat yang dibutuhkan langka di beberapa apotek di Depok. "Saya sudah ke beberapa apotek tapi tidak ada obat yang saya butuhkan terutama yang dicover BPJS," kata Yanti.
Ketika mencoba menebus di apotek yang berada di Jalan Tole Iskandar dan Jalan Raya Bogor, petugasnya mengaku obat-obat untuk BPJS sedang langka. Hal itu disinyalir akibat defisit yang dialami oleh BPJS Kesehatan.
Informasi itu membuat Yanti merasa dirugikan, karena dia selalu membayar iuran JKN setiap bulan. "Saya ini masyarakat kecil yang tiap bulan bayar rutin. Kalau BPJS rugi kenapa saya harus kena dampaknya. Saya lagi butuh obat," katanya.
Dia berharap stok obat yang ditanggung BPJS segera tersedia. Sebab penyakitnya tentu tak bisa menunggu sampai permasalahan defisit BPJS selesai. "Ada 3 jenis obat yang langka. Dan rata-rata yang ditanggung BPJS," ujarnya.
Sementara itu saat dikonfirmasi JawaPos.com, Kepala BPJS Kesehatan Kota Depok Maya Febriyanti Purwandari mengaku akan mengecek terlebih dahulu ketersediaan obat di apotek. Katanya, permasalahan defisit sudah selesai setelah pemerintah pusat mengucurkan Rp 4,9 triliun. Masalah ketersediaan obat bukan lagi masalah.
"Kan sudah selesai Rp 4,9 triliun sudah turun. Soal obat perusahaan farmasi juga kan sudah dibayar ke rumah sakit. Mungkin apoteknya saja yang belum ada setoknya. Saya akan cek dulu apotek mana saja," tegas Maya.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
11 Rekomendasi Gudeg Terenak di Jakarta, Kuliner Manis yang Tak Kalah Legit Seperti di Jogjakarta
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
12 Tempat Makan Legend di Bandung yang Wajib Dicoba, Ada yang Sudah Berdiri Sejak Zaman Belanda!
Tanpa Eliano Reijnders dan Luciano Guaycochea! Prediksi Susunan Pemain Bhayangkara FC vs Persib Bandung
11 Kuliner Malam Surabaya Paling Enak dan Legendaris untuk Kamu yang Sering Lapar Tengah Malam
