JawaPos Radar

Tunggakan Iuran BPJS Rp 120 M, Didominasi Peserta Kelas Tiga

15/10/2018, 16:29 WIB | Editor: Ilham Safutra
Tunggakan Iuran BPJS Rp 120 M, Didominasi Peserta Kelas Tiga
Ilusrtrasi: Peserta BPJS menunggak bayar iuran. Akibatnya pembayaran klaim ke RS jadi terlambat. (Idham Ama/Fajar/Jawa Pos Group)
Share this

JawaPos.com - Besarnya tunggakan iuran peserta Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan menjadi salah satu penyebab tidak lancarnya pembayaran ke rumah sakit. Itu pula yang terjadi di Kalimantan Barat (Kalbar). Tercatat, tunggakan iuran peserta BPJS di Kalbar mencapai Rp 120 miliar.

Tunggakan tersebut paling banyak adalah peserta kelas tiga. Yang tunggakannya paling besar adalah peserta BPJS dari Kota Pontianak. ''Jumlahnya Rp 25 miliar,'' kata Kepala BPJS Kesehatan Cabang Pontianak Ansharuddin. Tunggakan lainnya tersebar merata di kota/kabupaten lainnya di Kalbar.

Salah satunya di Kabupaten Bengkayang. Di kabupaten tersebut, tunggakan iuran pesertanya mencapai Rp 8,8 miliar. Kepala Pelayanan Operasi BPJS Kabupaten Bengkayang Eko Junistianto mengatakan, tunggakan iuran peserta merata di 17 kecamatan.

''Tunggakan Rp 8,8 miliar itu dari 23.952 anggota yang masuk BPJS kategori umum,'' papar Eko kepada Rakyat Kalbar (Jawa Pos Group).

Eko menyatakan, peserta BPJS kelas satu yang menunggak berjumlah 2.104 orang. Nilai tunggakannya tercatat Rp 1,9 miliar. Tunggakan peserta BPJS kelas dua mencapai 4.036 orang dengan total tunggakan Rp 2,2 miliar. Peserta BPJS kelas tiga yang menunggak mencapai 17.812 orang. Iuran yang tertunggak di kelas tiga menembus angka Rp 4,7 miliar di Bengkayang.

Eko menilai peserta menunggak iuran karena jarak tempat tinggal dengan kantor layanan BPJS yang jauh. Itulah yang ditengarai jadi penyebab terhambatnya pembayaran iuran. ''Untuk meminimalkan tunggakan ini, kami mungkin melakukan jemput bola ke kecamatan,'' katanya.

Selain aktif melakukan jemput bola, BPJS berharap masyarakat tertib membayar iuran. Pihak BPJS menyebutkan, jika iurannya terus tertunggak, tentu akan berpengaruh pada pembayaran ke rumah sakit. Padahal, perbandingan pembayaran iuran dengan pemanfaatannya sangat njomplang.

Selama ini pemanfaatan BPJS sangat tinggi. Namun, kewajiban membayar iuran justru sangat rendah. ''Ini juga untuk masyarakat sendiri,'' kata Ansharuddin.

Beberapa waktu lalu BPJS memang sempat tersendat membayar klaim ke beberapa rumah sakit. Salah satu faktornya, banyaknya peserta yang menunggak iuran.

Meski begitu, BPJS menegaskan sudah mencairkan semua klaim. Di Pontianak, misalnya. ''Memang ada penunggakan pembayaran ke RS. Namun, terakhir sudah kami bayar semua klaim yang jatuh temponya pada 15 Agustus,'' ungkap Ansharuddin. 

(Nova/JPG/c15/fim)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up