
ILUSTRASI: Droping air bersih ke warga di Kabupaten Gunungkidul.
JawaPos.com - Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Jogjakarta (DIJ) akan mengalami awal musim hujan pada dasarian ketiga atau pada 21-30 November mendatang. Untuk itu saat ini warga pun masih diminta agar dalam penggunaan air bersih dilakukan secara hemat.
Kepala Stasiun Klimatologi Mlati Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Jogjakarta, Agus Sudaryatno mengatakan, wilayah di DIJ awal musim hujan baru dimulai November nanti.
"Untuk Gunungkidul memang yang paling terakhir awal musim hujannya. Sekarang masih masa pancaroba, sering terjadi hujan yang datangnya tiba-tiba atau durasi pendek tapi intensitas lebat disertai angin kencang dan petir," katanya, Jumat (5/10).
Untuk Kota Jogjakarta bagian Utara dan Kabupaten Sleman bagian barat memasuki musim hujan pada dasarian pertama November (tanggal 1-10). Sementara untuk Jogjakarta bagian selatan dan Sleman bagian timur pada dasarian kedua (tanggal 11-20) November.
Gunungkidul menjadi daerah di DIJ yang paling terakhir mengalami musim hujan karena karakteristik wilayahnya di dataran tinggi. Berbeda dengan daerah lain, seperti Sleman dan Kota Jogjakarta yang datarannya lembab.
"Gunungkidul sama seperti Wonogiri dan Rembang. Kalau musim kemarau datang paling cepat, sementara musim hujan paling akhir," katanya.
Awal musim hujan curahnya belum tentu besar, yaitu 150 milimeter per bulan. Nantinya akan semakin tinggi, dan mencapai puncaknya pada Januari hingga Februari 2019.
Sedangkan untuk anomali atau gangguan cuaca, diprediksi akan ada El Nino tapi ringan. Ketika El Nino ini dirasakan di DIJ pada musim hujan, dampaknya hanya curah hujan yang berkurang.
Selain penghematan air, masa pancaroba ini juga diharapkan agar mulai mempersiapkan datangnya musim hujan. Yaitu dengan cara pembersihan selokan-selokan agar tak tersumbat dan bisa menyebabkan banjir.
Untuk diketahui, bencana kekeringan berkepanjangan menghantui wilayah Jateng dan Daerah Istimewa Jogjakarta (DIJ). Selain kesulitan air bersih, dampak kekeringan juga mengancam lahan pertanian.
Hingga Jumat (5/10) tercatat masih ada 233 kecamatan dan 850 desa di Jateng yang kekurangan air bersih. Sejauh ini, total 13.242 tangki air bersih telah dikirimkan untuk memenuhi kebutuhan air bersih warga setempat.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Swiss vs Slovenia di Liga Nations UEFA: La Nati Menang Besar di Thermoplan Arena
Prediksi Semen Padang vs PSPS Pekanbaru: Kabau Sirah Incar 3 Poin, Askar Bertuah Siap Bikin Kejutan!
Prediksi Skor Islandia vs Bulgaria di Liga Nations UEFA: Strákarnir okkar Tundukkan Tim Tamu
Prediksi Skor Kosovo vs Austria di Liga Nations UEFA: Das Team Perpanjang Rekor Tak Terkalahkan
Prediksi Skor Belarus vs San Marino di Liga Nations UEFA: Belyya Kryly Pesta Gol
Rekam Jejak Wadankor Brimob Irjen Victor Alexander Lateka, dari Densus 88 hingga BIN
Besan KDM Komjen Karyoto Dimutasi dari Jabatan Kabaharkam Jelang Pensiun
Prediksi Susunan Pemain Spanyol vs Ceko: De la Fuente dan Denia seperti Bermain Catur
Prediksi Finlandia vs Albania di UEFA Nations League: Duel Ketat Dua Tim Belum Kebobolan
Prediksi Skor Azerbaijan vs Lituania di Liga Nations UEFA: Milli Komanda Diprediksi Kembali Tertahan

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022