
ILUSTRASI: Remaja di Jawa Tengah tengah kecanduan air rebusan pembalut.
JawaPos.com - Fenomena meminum air rebusan pembalut bekas yang baru-baru ini ditemukan Badan Narkotika Nasional (BNN) Provinsi Jawa Tengah diklaim bukan dikarenakan orientasi seksual peminumnya. Pasalnya, mayoritas pecandunya memang berjenis kelamin laki-laki.
Pakar psikologi yang konsen di bidang adiksi, Indra Dwi Purnomo menerangkan, tidak ada hubungan sama sekali antara munculnya fenomena ini dengan orientasi seksual pecandunya. “Rata-rata yang pakai adalah remaja laki-laki. Tapi bukan karena itu pembalut dipakai wanita, lalu ada kecenderungan seksual ke sana, bukan,” katanya saat dijumpai di Markas BNN Jateng, Rabu (7/11).
Indra menegaskan bahwa fenomena merebus pembalut dan meminum airnya ini muncul karena perilaku anak muda yang gemar bereksperimen. Dalam hal ini adalah mencari alternatif lain sebagai ganti merasakan sensasi seperti mengonsumsi narkotika, khususnya jenis sabu.
Alasannya, harga sabu dinilai mahal oleh sebagian kalangan masyarakat, khususnya menengah ke bawah. "Dalam keadaan terpaksa itu akan menimbulkan suatu ide-ide. Dari ide inilah diyakini terus menimbulkan sugesti bisa bikin fly," sambung pria yang juga dosen di Universitas Katolik Soegijapranata (Unika) ini.
Pakar yang mengaku kerap bekerja sama dengan BNN untuk program rehabilitasi ini mengatakan, eksperimen menggunakan pembalut mulainya dari yang bekas pakai. Namun, pada akhirnya beralih ke yang baru karena alasan kebersihan.
Adapun jenis pembalut yang digemari, katanya, yang bentuknya bersayap. Karena efeknya bisa berlipat ganda. "Mereka pilih yang bersayap itu entah kenapa. Rata-rata bilang, hasilnya ngeri-ngeri, halusinasinya ngeri,” ujarnya.
Sementara, turut dijelaskannya pula bahwa efek seperti fly tadi berasal dari gel di dalam pembalut. Kendati demikian, ia belum mengetahui secara detail zat yang terkadung dalam cairan penyerap darah haid tersebut. “Ini menggunakan kimia-kimia seperti apa, saya enggak tahu persis. Lebih tepatnya Dinas Kesehatan urusannya nanti,” terangnya.
Seperti diberitakan sebelumnya, BNN Jateng menemukan kasus perilaku remaja yang cenderung menyimpang ini di berbagai tempat. Pelakunya kebanyakan adalah anak-anak berusia 13 sampai 16 tahun yang tinggal di daerah perbatasan. Macam Purwodadi, Kudus, Pati, Rembang, serta di Kota Semarang bagian timur.
Kasus ini dilaporkan pernah ditemukan di daerah Karawang, Belitung Timur, dan Jogjakarta beberapa waktu silam. Kendati demikian, untuk wilayah Jateng temuannya masih terhitung baru.

14 Kuliner Malam Bandung yang Paling Enak dan Selalu Ramai hingga Larut Malam dengan Suasana Seru dan Rasa Lezat
Bocoran Soal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026
Jika Persija Jakarta Gagal Juara, The Jakmania Punya Kesempatan Melihat Bobotoh Menangis
Tak Peduli Larangan ke Jepara, The Jakmania Sebut Kebiasaan atau Takut Main di Jakarta saat Persija Jamu Persib
18 Rekomendasi Kuliner di Tangerang untuk Keluarga, Tempat Makan Favorit dari Tradisional sampai Modern
Persebaya Surabaya Rayakan Kembalinya Bruno Moreira, Bonek Kompak Satu Suara
Pesan Haru Milos Raickovic ke Bonek! Gelandang Persebaya Surabaya Sudah Berikan Segalanya Musim Ini
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Korban Dicekoki Miras Hingga Tak Sadar, Pelaku Pemerkosaan Cipondoh Masih Dicari
Link Live Streaming Semifinal Uber Cup 2026 Indonesia vs Korea Selatan dan Line-up Pertandingan
