JawaPos Radar | Iklan Jitu

Bukan Orientasi Seksual, Pecandu Pembalut Rebus Pilih yang Bersayap

07 November 2018, 17:08:02 WIB
Penyalahgunaan Obat
ILUSTRASI: Remaja di Jawa Tengah tengah kecanduan air rebusan pembalut. (dok. Radar Karawang/Jawa Pos Group)
Share this

JawaPos.com - Fenomena meminum air rebusan pembalut bekas yang baru-baru ini ditemukan Badan Narkotika Nasional (BNN) Provinsi Jawa Tengah diklaim bukan dikarenakan orientasi seksual peminumnya. Pasalnya, mayoritas pecandunya memang berjenis kelamin laki-laki.

Pakar psikologi yang konsen di bidang adiksi, Indra Dwi Purnomo menerangkan, tidak ada hubungan sama sekali antara munculnya fenomena ini dengan orientasi seksual pecandunya. “Rata-rata yang pakai adalah remaja laki-laki. Tapi bukan karena itu pembalut dipakai wanita, lalu ada kecenderungan seksual ke sana, bukan,” katanya saat dijumpai di Markas BNN Jateng, Rabu (7/11).

Indra menegaskan bahwa fenomena merebus pembalut dan meminum airnya ini muncul karena perilaku anak muda yang gemar bereksperimen. Dalam hal ini adalah mencari alternatif lain sebagai ganti merasakan sensasi seperti mengonsumsi narkotika, khususnya jenis sabu.

Alasannya, harga sabu dinilai mahal oleh sebagian kalangan masyarakat, khususnya menengah ke bawah. "Dalam keadaan terpaksa itu akan menimbulkan suatu ide-ide. Dari ide inilah diyakini terus menimbulkan sugesti bisa bikin fly," sambung pria yang juga dosen di Universitas Katolik Soegijapranata (Unika) ini.

Pakar yang mengaku kerap bekerja sama dengan BNN untuk program rehabilitasi ini mengatakan, eksperimen menggunakan pembalut mulainya dari yang bekas pakai. Namun, pada akhirnya beralih ke yang baru karena alasan kebersihan.

Adapun jenis pembalut yang digemari, katanya, yang bentuknya bersayap. Karena efeknya bisa berlipat ganda. "Mereka pilih yang bersayap itu entah kenapa. Rata-rata bilang, hasilnya ngeri-ngeri, halusinasinya ngeri,” ujarnya.

Sementara, turut dijelaskannya pula bahwa efek seperti fly tadi berasal dari gel di dalam pembalut. Kendati demikian, ia belum mengetahui secara detail zat yang terkadung dalam cairan penyerap darah haid tersebut. “Ini menggunakan kimia-kimia seperti apa, saya enggak tahu persis. Lebih tepatnya Dinas Kesehatan urusannya nanti,” terangnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, BNN Jateng menemukan kasus perilaku remaja yang cenderung menyimpang ini di berbagai tempat. Pelakunya kebanyakan adalah anak-anak berusia 13 sampai 16 tahun yang tinggal di daerah perbatasan. Macam Purwodadi, Kudus, Pati, Rembang, serta di Kota Semarang bagian timur.

Kasus ini dilaporkan pernah ditemukan di daerah Karawang, Belitung Timur, dan Jogjakarta beberapa waktu silam. Kendati demikian, untuk wilayah Jateng temuannya masih terhitung baru.

Editor           : Sari Hardiyanto
Reporter      : (gul/ce1/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini