JawaPos Radar

Kekeringan di Jawa Tengah Kian Parah, 112 Kecamatan Terdampak

03/08/2018, 16:05 WIB | Editor: Sari Hardiyanto
Bencana Kekeringan
ILUSTRASI: Bencana kekeringan di Jawa Tengah semakin parah (van Mardiansyah/Lombok Pos/JawaPos.com)
Share this image

JawaPos.com - Bencana kekeringan di Jawa Tengah kian menjadi sejak diprediksi awal bulan Juli 2018 lalu. Hingga kini, Jumat (3/8), Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) mencatatkan delapan juta liter lebih air bersih terdistribusikan ke daerah terdampak.

Kepala BPBD Jawa Tengah Sarwa Pramana mengatakan, pihaknya telah mengirimkan sebanyak 1.770 tanki air bersih ke total 112 kecamatan dan 276 desa terdampak. Jumlah itu pun telah bertambah sejak penghitungan akhir bulan Juli 2018 lalu.

"Delapan juta liter lebih air sudah terkonsumsi untuk masyarakat. Ini tentunya di luar kebutuhan untuk area pertanian. Saya lihat di media, sudah mengalami kendala tadi pertanian tembakau, kurang air bersih," ujar Sarwa saat dijumpai di kantornya, Semarang, Jumat (3/8).

Pengiriman air bersih ini, lanjut Sarwa, masih menjadi prioritas dari upaya penanggulangan bencana ini. Beberapa langkah yang sudah dilakukan adalah meminjamkan mobil tanki air eksbakorwil ke seluruh kabupaten yang membutuhkan guna percepatan distribusi.

"Harapan kami untuk masyarakat yang berdomisili di daerah pegunungan. Ini sangat menyulitkan betul untuk kebutuhan air bersihnya. Karena cuaca ekstrim untuk cuaca kemarau ini juga lumayan tinggi, terutama dari BMKG sudah merilis, ada daerah-daerah yang kemaraunya lebih panjang," terangnya lebar.

Sarwa menegaskan, pihaknya juga bakal mengangkat sumber mata air yang ada sebagai solusi atas bencana ini ke depannya. Selain itu, BPBD masih menunggu dana siap pakai dari BNPB, lantaran selama mengandalakan APBD, meski masyarakat menurutnya juga sudah turun tangan.

"Prediksi saya ini akan lebih parah. Tapi tidak terlalu lama karena kategorinya kemarau basah. Kemarin di Kebumen sudah hujan kecil. Tapi khusus tahun ini, kemaraunya sangat ekstreme. Harapan kami September atau Oktober sudah ada yang hujan," tandasnya.

Sebelumnya, pada pendataan akhir bulan Juli 2018 lalu, tercatat hanya ada 93 Kecamatan dan 221 Desa di Jawa Tengah yang terdampak kekeringan. Berdasarkan data BPBD per Jumat (3/8), Kabupaten Grobogan menjadi yang terparah dengan 12 Kecamatan dan 37 Desa terdampak.

Kemudian disusul Kebumen dengan 11 Kecamatan dan 27 Desa terdampak. Diikuti Purworejo, Sragen, Cilacap, dan 16 Kabupaten/Kota lainnya yang pada kemarau tahun ini terkena bencana kekeringan.

(gul/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up