
Anggota Komisi B DPRD DKI Wa Ode Herlina menemui para pedagang Jembatan Penyeberangan Multiguna (JPM) Tanah Abang yang menggelar aksi, Senin (6/10). (Ryandi Zahdomo/JawaPos.com)
JawaPos.com - Anggota Komisi B DPRD DKI Wa Ode Herlina menyatakan akan mengawal aspirasi para pedagang Jembatan Penyeberangan Multiguna (JPM) Tanah Abang agar sampai ke pihak pemerintah Provinsi.
Hal ini disampaikan Wa Ode saat menemui pedagang yang menggelar aksi di JPM Tanah Abang, Senin (6/10).
"Saya sampai kantor, saya koordinasi sama Sarana Jaya supaya dirut atau perwakilan hadir mendengarkan ini. Kalau perlu ada Miratti (PT Miratti Sarana Utama) juga dipanggil ke fraksi," ujar Wa Ode di lokasi.
Anggota fraksi PDIP DPRD DKI Jakarta itu mengaku masih mendalami terkait apa yang menjadi keluhan pedagang. Yang pasti, pedagang menginginkan turunnya harga sewa yang sempat naik pada 2024 silam.
"Ini kan saya belum dalami betul ya. Tapi aspirasinya adalah kenaikan terus-menerus service charge yang terus naik. Dari (sebelumnya) Rp 560 (ribu), 2024 naik. Dan itu naik tidak ada sosialisasi dan tidak melihat pendapatan saudara-saudara kita di sini," ungkapnya.
Wa Ode menegaskan, para pedagang JPM merupakan pelaku UMKM, yang disebutnya sebagai soko guru perekonomian. Untuk itu, pemerintah perlu menaruh perhatian terhadap terhadap pedagang kecil.
"Jadi memang ini harus kita selamatkan terutama ini UMKM kita yang juga merupakan soko guru perekonomian. Jadi kita harus ada intervensi dari pemerintah. Saya anggota DPRD harus menjembatani supaya aspirasi mereka itu tersampaikan dan ditindak lanjut oleh pemerintah," tegasnya.
Ketua Asosiasi Pedagang JPM Tanah Abang Jimmy Rory menuturkan, penyebab utama kemarahan pedagang adalah kenaikan service charge dan tarif sewa kios yang dinilai tak wajar.
Awalnya, pedagang membayar Rp 560 ribu per bulan. Namun terjadi penyesuaian hingga terjadi kenaikan harga hingga menjadi Rp 1,5 juta. Namun setelah negosiasi, diputuskan turun sedikit menjadi Rp 1,3 juta perbulan.
"Kita aksi waktu itu, turunnya Rp 1.300.000. Tapi dari tahun ke tahun, dari bulan ke bulan, dari hari ke hari, (jumlah pembeli) terus turun. Kita minta turun lagi agar seperti semula," jelas Jimmy.
Kondisi makin diperparah dengan turunnya daya beli masyarakat dan sepinya pengunjung. Untuk itu, pedagang meminta agar dilakukan penyesuaian kembali mengenai tarif sewa.
Tak hanya soal tarif, pedagang juga keberatan dengan surat edaran pengelola yang dinilai bernada ancaman.
Dalam surat bertanggal 3 Oktober 2025, disebutkan pedagang yang telat membayar sewa 20–23 hari akan langsung diganti dengan pedagang lain.
"Apabila kita sebagai pedagang telat membayar sewa, mereka melakukan pengancamanan dan penekanan. Karena isinya itu pengosongan kios dan pergantian pedagang," kata Jimmy.
Ia mengibaratkan kebijakan itu seperti pemilik rumah yang mengusir penyewa hanya karena telat bayar beberapa minggu.

Bentrok Maut Tambak Matraman, Satu Orang Tewas, Motor hingga Rumah Semi Permanen Dibakar
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Kronologi Tewasnya Satpam Jatiluhur Purwakarta: Rekam Vandalisme hingga Tewas Terborgol
Donald Trump Terjebak! Perang Iran Seret Presiden AS ke Krisis Politik dan Militer
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Profil Mitchell Baker: Striker Naturalisasi Timnas Indonesia Berdarah Yogyakarta, Debut Gemilang di Piala AFF 2026
Profil Aripat, Suami Nathalie Holscher: Dari Sales hingga Menjadi Pengusaha
Profil Santyka Fauziah, Kekasih Sule yang Didoakan Nathalie Holscher Segera Menikah
Profil Ikhwan Ali Tanamal: Winger Baru Persib Bandung Menyala di Piala Presiden 2026, Wonderkid Tulehu Dikontrak hingga 2028
Sempat ‘Hilang’ dari Bangku Cadangan saat Timnas Indonesia Gulung Kamboja, John Herdman Ungkap Alasannya
