
Aturan ganjil genap lebih lama 1 jam dari sebelumnya. Yakni pagi pukul 06.00-10.00. Sedangkan untuk yang sore ditambah durasinya dari pukul 16.00-21.00. (Salman Toyibi/JawaPos)
JawaPos.com - Wacana penerapan jalan berbayar elektronik (electronic road pricing/ERP) semakin mengemuka karena sistem pengendalian lalu lintas di Jakarta yang berlangsung selama ini tidak efektif mengurai kemacetan.
Sebelumnya sudah ada sistem pengendalian kemacetan yang diterapkan Pemprov DKI Jakarta. Yaitu, 3 in 1 dan ganjil genap. Bahkan ruas jalan yang diberlakukan di sistem ganjil genap lebih banyak dibanding 3 in 1.
Kepala Dishub DKI Jakarta Syafrin Liputo mengatakan, Pemprov DKI Jakarta sudah dua kali menerapkan pengendalian kemacetan sistem ganjil genap lebih dan dibanding 3 in 1.
"Pertama, 3 in 1. Ternyata kurang efektif karena yang ingin masuk kawasan ini sebelumnya sudah ada para joki. Mereka membayar joki," ujar Syafrin Liputo, Senin (16/1).
Setelah dievaluasi, 3 in 1 diganti dengan ganjil-genap. Namun, tak juga kunjung berhasil mengurai kemacetan lalu lintas di Ibu Kota Jakarta.
Ditambah pula volume kendaraan di Jakarta Bodetabek terus bertambah setiap hari. Itu pun cukup masif. Maka dari itu, dilakukan pengendalian lalu lintas yang lebih dinilai lebih ketat, yaitu jalan berbayar elektronik atau ERP. "Prinsip penggunaan secara elektronik itu berdasarkan konjungsion price," ungkapnya.
Untuk diketahui, Pemprov DKI Jakarta menyiapkan pemberlakukan sistem jalan berbayar atau Electronic Road Pricing (ERP). Kini kebijakan itu masih dalam pembahasan Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) DKI Jakarta tentang Pengendalian Lalu Lintas Secara Elektronik.
Dalam Raperda itu diatur bahwa pemberlakuan ERP akan diterapkan di beberapa ruas jalan di Ibu Kota. Mulai dari pukul 05.00-22.00. Terkait dengan hari-harinya akan ditentukan lebih lanjut.
"Dalam hal keadaan tertentu, gubernur dapat memberikan persetujuan untuk sementara waktu tidak memberlakukan Pengendalian Lalu Lintas Secara Elektronik," bunyi Raperda tersebut, dikutip Selasa (10/1).
Adapun tujuan dari diberlakukannya jalan berbayar tersebut, disebut untuk mewujudkan ketertiban dan kelancaran lalu lintas di ruas jalan Ibu Kota yang selama ini kemacetannya sulit diurai.
Dengan diterapkannya jalan berbayar, hal itu membuat pengguna transportasi pribadi akan berpikir ulang dan memilih menggunakan transportasi umum.
"(Penerapan ERP untuk) transfer progresif beban, manfaat, dan tarif biaya kemacetan dari pengguna kendaraan pribadi kepada angkutan umum dan sarana prasarana perkotaan," tulis dalam Raperda itu

Pertandingan Perpisahan Bruno Moreira? Kapten Persebaya Surabaya Kirim Sinyal Emosional Jelang Lawan Persis Solo
Mengenal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026: Aturan, Materi, dan Ambang Batas
Korban Rudapaksa di Cipondoh Jalani Trauma Healing, DP3AP2KB Kota Tangerang Beri Pendampingan Khusus
Prediksi Skor Bayern Munchen vs PSG: Siapa yang akan Bertemu Arsenal di Final Liga Champions?
10 Rekomendasi Restoran Paling Populer di Surabaya dengan Menu Lengkap dan Harga Variatif
Mobil Plat L Ringsek di Malang Diserang 300 Orang? Polres Malang Turun Tangan, Ini Fakta Terbarunya
11 Kuliner Gudeg Paling Recomended di Surabaya dengan Harga Murah Meriah Tapi Rasa Tidak Murahan
15 Rekomendasi Kuliner Mantap Dekat Bandara Juanda Surabaya, Cocok untuk Isi Waktu Sebelum Check-in
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
12 Kuliner Mie Kocok di Bandung Paling Enak dengan Kuah Gurih yang Bikin Nagih Sejak Suapan Pertama
