Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 29 Februari 2020 | 16.22 WIB

Saran PUPR Buat Anies Untuk Atasi Banjir di Jakarta

Petugas saat mengevakuasi warga dari rumahnya yang terendam banjir dikawasan Cipinang Melayu, Jakarta, Selasa (25/2/2020). Hujan yang mengguyur Jakarta sejak Selasa dini hari berdampak dua RW di Cipinang Melayu terendam banjir hingga 1,5 meter. Foto: Dery - Image

Petugas saat mengevakuasi warga dari rumahnya yang terendam banjir dikawasan Cipinang Melayu, Jakarta, Selasa (25/2/2020). Hujan yang mengguyur Jakarta sejak Selasa dini hari berdampak dua RW di Cipinang Melayu terendam banjir hingga 1,5 meter. Foto: Dery

JawaPos.com - Banjir Jakarta dinilai makin sulit ditangani dan memerlukan tindakan cepat sekaligus tepat. Setidaknya, ada konsep besar penanganan banjir yang ditawarkan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR).

Hal itu disampaikan Kasubdit Perencanaan Direktorat Sungai dan Pantai Kementerian PUPR, Bambang Heri Mulyono kepada wartawan di Kantor BNPB, Jakarta, Jumat (28/2). Pertama, membuat air ditahan lebih lama di hulu dengan memperhatikan kapasitas air dengan waduk dan kolam retensi.

Kedua, dengan membuat sumur-sumur resapan. Terlebih di rumah-rumah warga. “Bayangkan sajam setiap rumah tangga bisa menahan air hujan sebanyak 1-2 meter kubik, betapa banyak aliran tengah yang bisa tertahan,” jelas dia seperti dikutip PojokSatu.id (Jawa Pos Group), Sabtu (29/2).

Ketiga, yakni penanganan banjir konsep hilir yang saat ini tengah dipersiapkan KemenPUPR, yakni mempercepat laju air hingga ke laut. Caranya, dengan memperbanyak dan memperluas wilayah normalisasi dan dengan membangun sodetan. “Dan sodetan serta kanal banjir dibangun dengan sistem normalisasi juga,” papar dia.

Bambang menjelaskan, untuk banjir Jakarta para Selasa (25/2) lalu, dipastikan bukan lantaran luapan air sungai. Melainkan kondisi drainase yang tak lagi bisa menampung debit air setelah hujan turun terus-menerus mengguyur DKI Jakarta.

Bambang mengungkap, pihaknya mencatat bahwa air luapan sungai hanya menyumbang sekitar 35 persen banjir. “Sedangkan banjir disebabkan drainase lebih tinggi yakni sekitar 65 persen,” tuturnya.

Hal itu diketahui dari catatan kondisi air di Pintu Air Katulampa yang cukup rendah saat banjir, yakni siaga empat. Dengan demikian, dipastikan bahwa air kiriman dari Bogor cukup rendah dan ketinggian air di Pintu Air Manggarai adalah siaga satu. “Dari sampel kami, jumlah titik banjir karena sungai 16 titik dan karena drainase sekitar 30 titik,” jelasnya.

Bambang juga menyebut bahwa kondisi serupa juga terjadi saat banjir pada Minggu (23/2). Tercatat, banjir yang disebabkan drainase mencapai 86,6 persen berbanding 13,4 persen banjir yang disebabkan luapan air sungai. Akan tetapi, ia memastikan bahwa kondisi ini tidak sama dengan saat bajir Jakarta pada 1 Januar 2020.

Editor: Bintang Pradewo
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore