
Petugas saat mengevakuasi warga dari rumahnya yang terendam banjir dikawasan Cipinang Melayu, Jakarta, Selasa (25/2/2020). Hujan yang mengguyur Jakarta sejak Selasa dini hari berdampak dua RW di Cipinang Melayu terendam banjir hingga 1,5 meter. Foto: Dery
JawaPos.com - Banjir Jakarta dinilai makin sulit ditangani dan memerlukan tindakan cepat sekaligus tepat. Setidaknya, ada konsep besar penanganan banjir yang ditawarkan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR).
Hal itu disampaikan Kasubdit Perencanaan Direktorat Sungai dan Pantai Kementerian PUPR, Bambang Heri Mulyono kepada wartawan di Kantor BNPB, Jakarta, Jumat (28/2). Pertama, membuat air ditahan lebih lama di hulu dengan memperhatikan kapasitas air dengan waduk dan kolam retensi.
Kedua, dengan membuat sumur-sumur resapan. Terlebih di rumah-rumah warga. “Bayangkan sajam setiap rumah tangga bisa menahan air hujan sebanyak 1-2 meter kubik, betapa banyak aliran tengah yang bisa tertahan,” jelas dia seperti dikutip PojokSatu.id (Jawa Pos Group), Sabtu (29/2).
Ketiga, yakni penanganan banjir konsep hilir yang saat ini tengah dipersiapkan KemenPUPR, yakni mempercepat laju air hingga ke laut. Caranya, dengan memperbanyak dan memperluas wilayah normalisasi dan dengan membangun sodetan. “Dan sodetan serta kanal banjir dibangun dengan sistem normalisasi juga,” papar dia.
Bambang menjelaskan, untuk banjir Jakarta para Selasa (25/2) lalu, dipastikan bukan lantaran luapan air sungai. Melainkan kondisi drainase yang tak lagi bisa menampung debit air setelah hujan turun terus-menerus mengguyur DKI Jakarta.
Bambang mengungkap, pihaknya mencatat bahwa air luapan sungai hanya menyumbang sekitar 35 persen banjir. “Sedangkan banjir disebabkan drainase lebih tinggi yakni sekitar 65 persen,” tuturnya.
Hal itu diketahui dari catatan kondisi air di Pintu Air Katulampa yang cukup rendah saat banjir, yakni siaga empat. Dengan demikian, dipastikan bahwa air kiriman dari Bogor cukup rendah dan ketinggian air di Pintu Air Manggarai adalah siaga satu. “Dari sampel kami, jumlah titik banjir karena sungai 16 titik dan karena drainase sekitar 30 titik,” jelasnya.
Bambang juga menyebut bahwa kondisi serupa juga terjadi saat banjir pada Minggu (23/2). Tercatat, banjir yang disebabkan drainase mencapai 86,6 persen berbanding 13,4 persen banjir yang disebabkan luapan air sungai. Akan tetapi, ia memastikan bahwa kondisi ini tidak sama dengan saat bajir Jakarta pada 1 Januar 2020.

Kasus Hantavirus di Indonesia, Kemenkes: Saat ini Ada 2 Kasus Suspek di Jakarta dan Yogyakarta
14 Spot Gudeg di Bandung dengan Cita Rasa Khas Yogyakarta yang Autentik dan Menggugah Selera
12 Kuliner Tahu Campur Paling Enak di Surabaya dengan Kuah Petis Kental yang Selalu Jadi Favorit Warga Lokal hingga Wisatawan
Jadwal Persipura vs Adhyaksa FC Play-Off Promosi Super League, Siaran Langsung, dan Live Streaming
15 Oleh-oleh Paling Ikonik dan Khas dari Kota Surabaya, Rasanya Autentik dan Tiada Duanya, Wajib Kamu Bawa Pulang!
11 Rekomendasi Mall Terbaik di Surabaya yang Bikin Betah Jalan-Jalan dan Susah Pulang
Jadwal PSS vs Garudayaksa FC Final Liga 2, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Siapa Raih Trofi Kasta Kedua?
Hasil Play-off Liga 2: Adhyaksa FC Bungkam Persipura Jayapura 0-1 di Babak Pertama!
Jadwal Veda Ega Pratama di Sesi Q2 Moto3 Le Mans 2026! Rider Indonesia Bidik Start Terdepan
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
