
Amerika Serikat dan Tiongkok kini sama-sama memperketat investasi di sektor AI dan semikonduktor di tengah rivalitas teknologi global yang semakin tajam (New York Post)
JawaPos.com - Jeff Bezos kembali menjadi sorotan global setelah tampil dalam wawancara eksklusif di CNBC di New York pada Rabu( 20/5), membahas isu pajak, kecerdasan buatan, hingga arah politik Amerika Serikat. Pendiri Amazon dan Blue Origin itu tidak hanya menegaskan pandangannya tentang ekonomi, tetapi juga secara terbuka membela para miliarder di tengah meningkatnya kritik atas ketimpangan kekayaan.
Dalam percakapan dengan jurnalis Andrew Ross Sorkin, Bezos membuka diskusi dengan nada yang relatif empatik terhadap kondisi ekonomi Amerika Serikat. Dia menyebut, "Ini semacam kisah tentang dua ekonomi," sambil menyoroti kesenjangan antara kelompok masyarakat yang berada dalam kondisi ekonomi kuat dan mereka yang masih menghadapi tekanan finansial.
Dilansir dari New York Post, Kamis (21/5/2026), Bezos dalam wawancara tersebut juga menyoroti ketimpangan sistem pajak dan secara mengejutkan mendukung gagasan penghapusan pajak penghasilan bagi separuh warga Amerika berpenghasilan rendah, sebuah ide yang selama ini kerap muncul dalam diskursus politik progresif.
Dalam salah satu pernyataannya yang paling disorot, Bezos mengatakan, "Seorang perawat di Queens dengan pendapatan sekitar 75.000 dolar AS per tahun masih membayar pajak lebih dari 12.000 dolar AS per tahun. Bukankah itu sangat tidak masuk akal?" Bezos kemudian menekankan perlunya kebijakan pajak yang lebih berpihak pada kelompok berpendapatan rendah tanpa secara otomatis menambah beban pada kelompok atas.
Namun, sikap tersebut tidak berlanjut menjadi kritik terhadap kalangan super kaya. Bezos justru menolak narasi yang menurutnya "mengorbankan" para miliarder sebagai kambing hitam. Dia menyebut, "pemberian cap negatif" terhadap orang kaya tidak menyelesaikan masalah ekonomi, serta menegaskan bahwa Amerika sudah memiliki sistem pajak yang sangat progresif.
Selain itu, pendiri Amazon itu juga membantah tuduhan bahwa dirinya dan para miliarder lain tidak berkontribusi pada negara. "Orang-orang terkadang mengatakan bahwa saya tidak membayar pajak. Itu tidak benar. Saya membayar pajak dalam jumlah miliaran dolar," ujarnya, sembari menambahkan bahwa menaikkan pajaknya secara ekstrem tidak akan otomatis memperbaiki kondisi pekerja kelas menengah.
Dalam konteks kekayaan, Bezos juga menepis tuduhan terkait strategi pengelolaan aset yang sering disebut sebagai "beli, pinjam, dan tidak langsung menjual", yang kerap dikaitkan dengan penghindaran pajak. Dia menyatakan tidak sepenuhnya sependapat dengan narasi tersebut dan membuka kemungkinan perbaikan jika terdapat celah dalam sistem perpajakan.
Sementara itu, dalam aspek teknologi, Bezos menyampaikan pandangan optimistis terhadap kecerdasan buatan (AI). Dia menilai bahwa kekhawatiran tentang hilangnya pekerjaan akibat teknologi tersebut berlebihan, dan menyebut bahwa pandangan tersebut keliru karena AI justru akan meningkatkan produktivitas dan kualitas pekerjaan manusia.
Sikapnya terhadap politik juga menarik perhatian ketika dia menyebut Presiden Donald Trump sebagai figur yang lebih matang dibanding periode pertama pemerintahannya. "Trump memiliki banyak gagasan yang dinilai baik," ujar Bezos, sambil menekankan pentingnya keterlibatan pelaku bisnis dalam kebijakan negara tanpa memandang afiliasi politik.
Pada akhirnya, wawancara ini memperlihatkan posisi Bezos yang berada di persimpangan antara kapitalisme teknologi, debat pajak global, dan masa depan AI. Di satu sisi dia membela sistem pasar dan para miliarder, namun di sisi lain mengakui adanya tekanan sosial yang semakin besar terhadap ketimpangan ekonomi, sebuah dinamika yang kini membentuk ulang percakapan ekonomi global.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Belgia vs Prancis di Liga Nations UEFA: Les Bleus Unggul Tipis dari Tuan Rumah
Prediksi Susunan Pemain Prancis vs Belgia: Tanpa Mbappe, Zidane Hadapi Ujian Berat
Prediksi Skor Moldova vs Kepulauan Faroe: Landsliðið Unggul Tipis dari Tuan Rumah
Gelar Pertemuan, BEM UI, SEMA UGM, dan KM ITB Sepakat Gelar Aksi Besar dalam Waktu Dekat
Prediksi Skor Georgia vs Ukraina di UEFA Nations League: Misi Berat Kvaratskhelia Cs di Kandang
Prediksi Skor Armenia vs Montenegro di Liga Nations UEFA: Hrabri Sokoli Bakal Sulitkan Tuan Rumah
Prediksi Skor Slovenia vs Makedonia Utara di Liga Nations UEFA: Fantje Kalahkan Tim Tamu
Prediksi Skor Turki vs Italia di Liga Nations UEFA: Kans Ay-Yıldızlılar Hentikan Perlawanan Azzurri
Prediksi Skor Skotlandia vs Swiss di Liga Nations UEFA: Nati Kalahkan Tuan Rumah dengan Skor Telak
Prediksi Skor Armenia vs Montenegro di UEFA Nations League: Siapa Paling Kuat?

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022