
Elon Musk usulkan bantuan tunai untuk hadapi dampak PHK akibat AI, namun gagasan tersebut memicu perdebatan tajam di kalangan pakar ekonomi global. Foto: (Business Insider)
JawaPos.com — Elon Musk kembali memicu perdebatan global setelah mengusulkan bantuan tunai pemerintah sebagai respons utama terhadap gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) akibat kecerdasan buatan (AI). Pendiri Tesla dan SpaceX itu menilai negara perlu menjamin kesejahteraan masyarakat di tengah disrupsi teknologi yang kian cepat.
Gagasan tersebut menandai perubahan arah diskursus global: dari fokus pada penciptaan lapangan kerja menuju mekanisme distribusi kekayaan di era otomatisasi. Seiring AI dan robotika meningkatkan produktivitas, pertanyaan utama bergeser menjadi siapa yang menikmati hasil pertumbuhan tersebut.
Melansir Business Insider, Senin (20/4/2026), Musk menyatakan melalui platform X, “Pendapatan tinggi universal melalui cek yang dikeluarkan pemerintah federal adalah cara terbaik untuk mengatasi pengangguran yang disebabkan oleh AI.” Dia menegaskan keyakinannya bahwa “AI/robotika akan menghasilkan barang dan jasa jauh melebihi peningkatan jumlah uang beredar, sehingga tidak akan terjadi inflasi.”
Baca Juga:Elon Musk Tuntut OpenAI, Targetkan Ganti Rugi ke Nonprofit dan Desak Pencopotan Sam Altman
Pernyataan itu didukung proyeksi bahwa AI berpotensi menggantikan sebagian signifikan tenaga kerja. Boston Consulting Group memperkirakan 10 hingga 15 persen pekerjaan di Amerika Serikat akan hilang dalam lima tahun ke depan, setara 17 juta hingga 25 juta pekerja. Sementara Goldman Sachs sebelumnya menaksir sekitar 2,5 persen tenaga kerja menghadapi risiko serupa.
Dalam konteks ancaman tersebut, konsep yang diusung Elon Musk dikenal sebagai pendapatan tinggi universal (universal high income/UHI), pengembangan dari pendapatan dasar universal (universal basic income/UBI). Jika UBI berfungsi menutup kebutuhan dasar, UHI diarahkan untuk memastikan standar hidup yang lebih tinggi bagi seluruh masyarakat melalui bantuan tunai pemerintah.
Namun, sejumlah pakar menilai solusi Musk tersebut keliru sasaran. Peter Diamandis menekankan bahwa kunci perubahan justru terletak pada penurunan biaya hidup, bukan besaran bantuan pemerintah. “Ketika AI dan robotika memangkas biaya hidup lebih dari separuh, cek 3.000 dolar AS per bulan—sekitar Rp 51,4 juta—akan cukup untuk hidup sejahtera,” tulisnya. “Bukan ceknya yang membesar, tetapi dunia yang menjadi lebih murah.”
Selain itu, kritik lebih tajam disampaikan Karl Widerquist dari Georgetown University Qatar. “Musk benar bahwa UBI bisa mencakup lebih dari kebutuhan dasar, namun dia keliru jika menitikberatkan pada pengangguran, karena masalah yang lebih besar adalah upah rendah dan stagnasi gaji.” Widerquist juga mengingatkan, “Prediksi Musk soal inflasi bisa saja terjadi, tetapi kita tidak seharusnya bergantung pada itu.”
Pandangan serupa datang dari James Ransom dari University College London yang menekankan pentingnya pelatihan ulang. “Jika kita mampu membiayai pendapatan tinggi universal, maka kita juga mampu membiayai pelatihan ulang,” katanya. “Pekerja membutuhkan peningkatan keterampilan, bukan sekadar cek,” imbuhnya, seraya menilai pelatihan ulang tetap menjaga kemandirian dan harga diri.
Di sisi lain, Elon Musk meyakini AI akan menciptakan kelimpahan ekonomi yang membuat konsep pensiun konvensional tidak lagi relevan. Dia mengatakan, “Jangan khawatir menabung untuk pensiun dalam 10 atau 20 tahun ke depan. Itu tidak akan relevan. Jika semua yang kita katakan benar, menabung untuk pensiun akan menjadi tidak penting.”
Meski demikian, kondisi saat ini menunjukkan tantangan yang belum terselesaikan. Banyak masyarakat Amerika Serikat masih hidup dari gaji ke gaji, tertekan inflasi, suku bunga tinggi, serta pertumbuhan upah yang stagnan. Dalam situasi tersebut, kemampuan untuk menjangkau pendidikan, layanan kesehatan, hingga kepemilikan rumah yang layak semakin terbatas.

Prediksi Skor Paraguay vs Australia di Piala Dunia 2026: Berebut Tiket 32 Besar Namun Berpotensi Imbang
Prediksi Skor Swiss vs Kanada di Piala Dunia 2026: Jonathan David Tancap Gas Bombardir Gawang La Nati
Prediksi Skor Turki vs Amerika Serikat di Piala Dunia 2026: The Stars & Stripes Berburu Rekor Sempurna di Fase Grup
Prediksi Skor Jepang vs Swedia di Piala Dunia 2026: Samurai Biru Incar Tiket 32 Besar di Laga Penentuan
Prediksi Skor Afrika Selatan vs Korea Selatan di Piala Dunia 2026: Son Heung-min Wajib Menang Demi Tiket 32 Besar
Prediksi Skor Tunisia vs Belanda di Piala Dunia 2026: Oranje Wajib Menang demi Amankan Tiket 32 Besar
Profil Wakil Ketua BEM UI Fathimah Azzahra yang Konsisten Mengkritik Program MBG
Prediksi Skor Bosnia dan Herzegovina vs Qatar di Piala Dunia 2026: Mimpi Buruk Al-Annabi Belum Usai
Prediksi Skor Curacao vs Pantai di Piala Dunia 2026: Misi Les Éléphants Menang demi Tiket 32 Besar
Prediksi Skor Maroko vs Haiti di Piala Dunia 2026: Achraf Hakimi Cs Siap Pesta Gol di Laga Penentuan
