
Ilustrasi lokasi pusat 'superkomputer' AI yang diusulkan di Essex, Inggris, yang ditargetkan rampung akhir tahun namun saat ini masih berupa halaman penyimpanan perancah konstruksi (The Guardian)
JawaPos.com - Ambisi Inggris menjadikan kecerdasan buatan (AI) sebagai motor baru pertumbuhan ekonomi menghadapi sorotan setelah investigasi The Guardian mengungkap bahwa sebagian investasi bernilai miliaran poundsterling yang diumumkan pemerintah belum sepenuhnya tercermin dalam pembangunan nyata.
Sejak 2024, pemerintah Inggris baik di bawah pemerintahan Konservatif maupun Partai Buruh, berulang kali mengumumkan kesepakatan investasi besar untuk membangun pusat data, menciptakan ribuan lapangan kerja, serta mengembangkan superkomputer AI. Proyek-proyek tersebut dipromosikan sebagai fondasi strategi nasional untuk mempercepat transformasi ekonomi berbasis teknologi sekaligus memperkuat posisi Inggris dalam perlombaan global pengembangan AI.
Namun, dilansir dari The Guardian, Selasa (10/3/2026), investigasi menemukan bahwa sejumlah investasi yang diumumkan melalui siaran pers pemerintah maupun perusahaan teknologi tidak sepenuhnya tercermin dalam proyek fisik atau kontrak yang jelas. Beberapa di antaranya bahkan disebut sebagai "phantom investments" atau investasi bayangan.
Salah satu contoh yang disorot adalah investasi £1 miliar dari perusahaan komputasi awan asal Amerika Serikat, CoreWeave. Nilai tersebut setara sekitar Rp 22,67 triliun dengan kurs Rp 22.670 per poundsterling. Investasi itu sebelumnya diklaim akan menghadirkan dua pusat data baru di Inggris sebagai bagian dari ekspansi infrastruktur AI.
Akan tetapi, catatan perencanaan menunjukkan tidak ada pembangunan pusat data baru dalam periode tersebut. Investigasi menemukan bahwa CoreWeave sebenarnya hanya menyewa ruang di dua fasilitas pusat data yang sudah ada, masing-masing dibangun pada 2002 dan 2015 serta memasang cip kecerdasan buatan produksi Nvidia di lokasi tersebut.
Dengan demikian, sebagian besar nilai investasi tersebut pada dasarnya berupa penempatan perangkat keras, biaya sewa fasilitas, serta pengeluaran operasional untuk menjalankan sistem komputasi di fasilitas yang telah ada. Praktik ini menunjukkan bagaimana perusahaan teknologi global sering mendefinisikan investasi secara lebih fleksibel dalam industri pusat data.
Fenomena tersebut, menurut ekonom Cecilia Rikap dari University College London, tidak hanya terjadi dalam kasus ini. Dia menilai pola serupa juga kerap muncul dalam proyek-proyek infrastruktur AI di berbagai negara.
"Ini adalah investasi bayangan," ujarnya. Dia menambahkan, "Perusahaan teknologi besar sering kali melebih-lebihkan penciptaan lapangan kerja dan dampak ekonomi pusat data untuk menyenangkan pemerintah yang ingin menunjukkan pertumbuhan ekonomi."
Rikap juga menyoroti bahwa definisi investasi dalam sektor ini sering kali longgar. "Aturannya sangat fleksibel dan membantu mereka membuat klaim investasi besar yang bisa dimanfaatkan pemerintah untuk kepentingan politik," katanya.
Di sisi lain, proyek ambisius lain yang dipimpin perusahaan Nscale juga memunculkan pertanyaan. Pemerintah Inggris sebelumnya mengumumkan rencana pembangunan lokasi superkomputer AI di Loughton, sekitar 19 kilometer di utara London, dengan nilai investasi USD 2,5 miliar atau sekitar Rp 42,22 triliun dengan kurs Rp 16.890 per dolar AS.
Namun ketika lokasi tersebut dikunjungi wartawan pada Februari lalu, area yang disebut akan menjadi pusat superkomputer nasional itu masih digunakan sebagai tempat penyimpanan rangka perancah konstruksi. Catatan kepemilikan lahan bahkan menunjukkan perusahaan belum tercatat sebagai pemilik lokasi tersebut.
Pemerintah Inggris sendiri mengakui keterbatasan dalam mengawasi komitmen investasi yang diumumkan perusahaan teknologi. Juru bicara Departemen Sains, Inovasi, dan Teknologi mengatakan pemerintah tetap bekerja sama dengan perusahaan terkait, tetapi tidak secara aktif melakukan audit atas komitmen investasi tersebut.
"Pemerintah akan terus bekerja sama dengan Nscale untuk mengamankan investasi ini ke Inggris, namun tidak memainkan peran aktif dalam mengaudit komitmen tersebut," ujarnya.
Meski demikian, pemerintah tetap mempertahankan optimisme terhadap strategi AI nasional. Menurutnya, pembangunan pusat data merupakan fondasi penting bagi transformasi ekonomi berbasis teknologi.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Trisha JKT48 Ingin “Ayo Senyumlah” Jadi Energi Positif di Tengah Situasi Sulit
Prediksi Skor Groningen vs PEC Zwolle di Liga Belanda: Trots van het Noorden Menang Tipis di Kandang
Prediksi Skor Arema FC vs Persik Kediri di Super League: Macan Putih Kembali Jinakkan Singo Edan!
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Prediksi Skor PSM vs Persita di Super League: Pendekar Cisadane Curi 3 Poin di B.J. Habibie
Prediksi Skor Everton vs Ipswich Town di Liga Inggris: The Toffees Kunci 3 Poin di Kandang
Prediksi Skor Espanyol vs Elche di Liga Spanyol: Los Franjiverdes Curi Poin di RCDE Stadium
Prediksi Skor Tottenham Hotspur vs Aston Villa di Liga Inggris: The Lilywhites Bakal Sulit Menang!
Prediksi Susunan Pemain Persebaya vs Garudayaksa FC: Risto Mitrevski Pantang Remehkan Tim Promosi
Prediksi Skor Lyon vs Rennes di Liga Prancis: Les Gones Garansi 3 Poin di Parc Olympique Lyonnais

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022