
Mantan Presiden Korea Selatan, Yoon Suk-yeol. (Al-Jazeera)
JawaPos.com - Pengadilan Korea Selatan menjatuhkan hukuman penjara seumur hidup kepada mantan presiden Yoon Suk Yeol pada Kamis (waktu setempat).
Putusan itu disebut sebagai salah satu vonis paling bersejarah dalam politik modern negeri ginseng itu.
Yoon dinyatakan bersalah atas tuduhan makar setelah berupaya memberlakukan darurat militer dan mengerahkan tentara ke parlemen pada Desember 2024.
Mengutip sumber lokal, majelis hakim di Pengadilan Distrik Pusat Seoul menyimpulkan bahwa tindakan Yoon mengirim pasukan bersenjata ke Majelis Nasional merupakan upaya melumpuhkan fungsi legislatif dan merusak tatanan konstitusional.
Sebagai informasi, dalam hukum pidana Korea Selatan, makar dapat dijatuhi hukuman hingga mati.
Hakim Ji Gwi-yeon dalam pembacaan putusan menyatakan bahwa Yoon secara langsung merencanakan langkah tersebut, termasuk dugaan rencana penangkapan sejumlah politisi senior dan Ketua Majelis Nasional.
“Terdapat alasan yang cukup untuk menyimpulkan bahwa tujuannya adalah melumpuhkan aktivitas parlemen,” ujar hakim.
Jaksa sebelumnya menuntut hukuman mati bagi Yoon. Namun pengadilan menjatuhkan penjara seumur hidup, dengan mempertimbangkan bahwa rencana tersebut tidak sepenuhnya terlaksana dan sebagian besar gagal.
Meski demikian, hakim menegaskan bahwa tindakan tersebut telah menimbulkan biaya sosial dan politik yang sangat besar.
Kasus ini mencatat sejarah baru. Yoon menjadi presiden pertama dalam sejarah Korea Selatan yang ditangkap dan dipenjara saat masih menjabat.
Ia ditahan pada Januari 2025 di kediaman resmi presiden setelah konfrontasi berhari-hari dengan aparat keamanan presiden.
Sebelumnya, ia juga telah divonis lima tahun penjara dalam perkara terpisah terkait upaya menghalangi penyidikan.
Yoon dapat mengajukan banding atas putusan tersebut. Tim kuasa hukumnya menyatakan tidak ada dasar hukum yang cukup untuk mendukung dakwaan makar dan menyebut putusan tersebut mengabaikan prinsip pembuktian.
Mundur ke belakang, krisis bermula pada malam 3 Desember 2024 ketika Yoon mengumumkan darurat militer dalam pidato televisi nasional.
Ia mengirim pasukan dan helikopter militer ke gedung parlemen yang saat itu dikuasai oposisi.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Profil Yudi Cahyadi, Atlet MMA yang Tantang Duel Herri Pras Usai Singgung UAS dan UAH
7 Kebiasaan Masa Kecil yang Berpengaruh Pada Kesuksesan Anak di Masa Depan
Profil Herri Pras yang Kritik UAS dan UAH, Pendiri PSGI yang Ditantang Duel Atlet MMA
Prediksi Skor Rennes vs Olympiakos: Tuan Rumah Andalkan Kekuatan Bermain di Roazhon Park
Prediksi Skor PSV Eindhoven vs Club Brugge di Liga Champions: Blauw-Zwart Bidik Kemenangan Tandang
Upaya Restorasi 325 Hektare Hutan di TNGHS untuk Jaga Habitat Macan Tutul Jawa
Mahasiswa Trisakti Geruduk Kantor Setneg Siang Ini, Tagih Janji Pemerintah soal Tritura
Bonek Murka! Persebaya Dibantai Kendal Tornado, Uston Nawawi Gantikan Tavares?
Marco Bezzecchi Tuai Kritik Usai Kesalahan di Sepang Memperburuk Peluang Juara Dunia
8 Hal yang Dianggap Membosankan oleh Ekstrovert, tetapi Justru Menjadi Kebahagiaan bagi Introvert

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022