Ilustrasi kekuatan militer modern yang semakin ditopang oleh kecerdasan buatan di tengah rivalitas AS–Tiongkok (Wired)
JawaPos.com - Pergeseran haluan perusahaan kecerdasan buatan (AI) Amerika Serikat (AS) dari sikap anti-militer menjadi mitra strategis Pentagon menandai perubahan paradigma dalam hubungan antara teknologi, negara, dan kekuasaan global.
Transformasi ini melampaui logika bisnis semata karena mencerminkan reposisi geopolitik yang menempatkan figur sentral industri seperti Elon Musk, Jeff Bezos, Sam Altman, dan Mark Zuckerberg di jantung rivalitas strategis Amerika Serikat dan Tiongkok.
Pada awal 2024, empat laboratorium AI terkemuka yaitu OpenAI, Meta, Google, dan Anthropic masih berdiri di garis yang sama dengan menolak penggunaan militer atas model mereka.
Silicon Valley kala itu berpegang pada idealisme bahwa AI adalah infrastruktur sipil global, bukan instrumen perang. Namun, konsensus ini mulai retak ketika tekanan biaya komputasi, kebutuhan pendanaan, serta eskalasi persaingan geopolitik kian menekan industri.
Melansir Wired, Rabu (11/2/2026), titik balik terjadi pada Januari 2024 ketika OpenAI diam-diam mencabut larangan penggunaan AI untuk "tujuan militer dan peperangan."
Tak lama kemudian, perusahaan tersebut dilaporkan mengerjakan sejumlah proyek dengan Pentagon, sebuah langkah yang mengikis tembok pemisah antara riset sipil dan kepentingan militer dalam ekosistem AI Amerika.
Perubahan berakselerasi sepanjang tahun. Pada November 2024, pekan yang sama dengan terpilihnya kembali Presiden AS Donald Trump, Meta mengizinkan model Llama dipakai untuk kebutuhan pertahanan AS dan sekutunya.
Beberapa hari kemudian Anthropic menggandeng Palantir, sementara OpenAI menutup tahun dengan kemitraan bersama startup pertahanan Anduril. Puncaknya, pada Februari 2025, Google merevisi prinsip AI-nya agar memungkinkan pengembangan teknologi yang berpotensi membahayakan manusia.
Di balik dinamika ini, faktor biaya berperan besar. Membangun model AI mutakhir menuntut modal raksasa dan pasar yang stabil.
Ekonom David J. Teece menegaskan, "GPT berkembang lebih cepat ketika ada sektor aplikasi yang besar, menuntut, dan menghasilkan pendapatan, seperti pembelian transistor dan mikroprosesor awal oleh Departemen Pertahanan AS."
Dengan kontrak jangka panjang dan toleransi risiko tinggi, militer menjadi mitra tak terelakkan bagi perusahaan AI. Namun, faktor ekonomi saja tidak cukup menjelaskan perubahan ini.
Secara struktural, kapitalisme global bergeser dari era neoliberalisme pasar bebas menuju logika persaingan geopolitik. Konsensus Silicon Valley yang mengutamakan globalisasi data, deregulasi, dan perdagangan terbuka tergerus oleh rivalitas AS–Tiongkok, di mana keamanan nasional kini mengalahkan idealisme digital.
Implikasinya terlihat pada Big Tech. Amazon telah menjadi tulang punggung infrastruktur intelijen AS melalui kontrak komputasi awan dengan CIA (2013 dan 2020), kontrak US National Security Agency senilai USD 10 miliar pada 2021, serta perjanjian baru dengan Angkatan Darat AS pada 2024.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Susunan Pemain Denmark vs Portugal: Ruben Dias Siap Bawa Pulang Kemenangan
Prediksi Skor Israel vs Kosovo di UEFA Nations League: Dardanet Berpeluang Menang Tipis
Prediksi Skor Irlandia vs Austria di Liga Nations UEFA: Das Team Curi Poin
Alyssa Daguise Sedih Wajah Baby Soso Terekspos ke Publik
Prediksi Skor Vietnam vs Pakistan di FIFA ASEAN Cup: Golden Star Warriors Lumat Habis Shaheens
Injury Time Timnas Indonesia vs Bangladesh Jadi 7 Menit, John Herdman Beri Penjelasan
Prediksi Skor Polandia vs Rumania di Liga Nations UEFA: Biało-czerwoni Berburu Kemenangan
Fakta Sebenarnya Soal Hubungan Ashanty dengan Azriel Hermansyah
Prediksi Israel vs Kosovo di UEFA Nations League: Duel Ketat, Tim Tamu Berpeluang Menang
Gelar Pertemuan, BEM UI, SEMA UGM, dan KM ITB Sepakat Gelar Aksi Besar dalam Waktu Dekat

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022