
Ilustrasi robot cerdas yang merepresentasikan terobosan sistem AGI baru buatan Integral AI yang diklaim memiliki kemampuan penalaran setara manusia. (Interesting Engineering)
JawaPos.com — Integral AI, perusahaan rintisan yang berbasis di Tokyo dan didirikan mantan insinyur senior Google, Jad Tarifi, kembali mengguncang lanskap kecerdasan buatan global lewat klaim pembangunan sistem Artificial General Intelligence (AGI) pertama di dunia.
Klaim tersebut segera memicu perhatian para pemimpin teknologi global karena AGI—kecerdasan buatan yang mampu menalar dan belajar layaknya manusia—merupakan tujuan puncak dalam perlombaan AI internasional.
Untuk memperkuat posisinya, Integral AI menegaskan bahwa sistem barunya mampu mempelajari berbagai tugas baru secara mandiri tanpa dataset awal ataupun intervensi manusia. Definisi ini menandai upaya perusahaan membangun tolok ukur AGI yang lebih terstruktur dibanding pendekatan perusahaan raksasa di Silicon Valley.
Dilansir dari Interesting Engineering, Kamis (11/12/2025), Integral AI menyatakan bahwa kemampuan sistemnya memenuhi tiga kriteria mendasar, yakni pembelajaran keterampilan secara otonom, penguasaan yang aman dan andal, serta efisiensi energi pada tingkat yang sebanding dengan proses manusia mempelajari keterampilan yang sama. Perusahaan menyebut bahwa ketiga pilar tersebut menjadi “tonggak dasar dan tolok ukur pengujian” dalam pengembangan model tersebut.
Selanjutnya, arsitektur model ini diklaim meniru neokorteks manusia—bagian otak yang mengatur persepsi, bahasa, dan pemikiran sadar. Pendekatan tersebut, menurut Integral AI, memungkinkan sistem mengembangkan abstraksi, merencanakan, dan bertindak secara terpadu dalam dunia nyata.
Uji robotik internal menunjukkan robot mampu mempelajari keterampilan baru tanpa supervisi manusia, sebuah langkah yang mereka anggap sebagai pembeda utama dari AI generasi sebelumnya.
Dalam pernyataan resminya, Tarifi menegaskan skala historis dari terobosan ini. Dia mengatakan, “Pengumuman hari ini bukan sekadar pencapaian teknis, tetapi membuka babak baru dalam perjalanan peradaban manusia.”
Dia menambahkan bahwa visi berikutnya adalah “mengembangkan lebih lanjut model yang masih berada pada tahap awal ini ke arah kecerdasan super berwujud yang dapat memperluas kebebasan serta kapasitas kolektif manusia.”
Meski demikian, klaim “AGI pertama di dunia” ini tetap menuai skeptisisme dari komunitas riset AI global. Para analis menilai bahwa definisi AGI yang belum universal membuat validasi atas klaim seperti ini memerlukan pengujian independen, dokumentasi terbuka, serta verifikasi akademik.
Pengalaman sebelumnya—misalnya sengketa klaim “keunggulan kuantum”—menunjukkan bahwa industri teknologi kerap berbeda pendapat mengenai batasan teknis sebuah terobosan.
Selain itu, sejumlah tinjauan akademik menilai bahwa bahkan model AI tercanggih saat ini masih belum mampu memenuhi kemampuan dasar yang dibutuhkan untuk mencapai AGI, seperti fleksibilitas dalam berbagai tugas, ketahanan kinerja, dan kapasitas mengingat informasi dalam jangka panjang. Karena itu, pakar AI memandang bahwa klaim Integral AI baru dapat dipastikan setelah diuji secara publik dan melewati tinjauan ilmiah yang ketat.
Namun demikian, secara strategis, langkah Integral AI menegaskan bahwa perlombaan AGI tidak lagi hanya dipimpin oleh perusahaan raksasa Amerika seperti Tesla-xAI, Meta, atau Google DeepMind. Jepang—dengan ekosistem robotik dan rekayasa yang matang—tengah menunjukkan peran yang semakin penting dalam kompetisi menciptakan kecerdasan buatan generasi berikutnya.
Pada akhirnya, apakah model Integral AI benar-benar menjadi AGI pertama di dunia masih harus dibuktikan melalui verifikasi independen. Namun langkah ini jelas mengguncang dinamika global, memaksa para pemain utama seperti Sam Altman, Demis Hassabis, dan Jensen Huang untuk meninjau kembali posisi serta strategi mereka dalam perlombaan membangun kecerdasan buatan yang mampu menalar layaknya manusia. ***
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Besan KDM Komjen Karyoto Dimutasi dari Jabatan Kabaharkam Jelang Pensiun
Prediksi Semen Padang vs PSPS Pekanbaru: Kabau Sirah Incar 3 Poin, Askar Bertuah Siap Bikin Kejutan!
Rekam Jejak Wadankor Brimob Irjen Victor Alexander Lateka, dari Densus 88 hingga BIN
Prediksi Skor Kosta Rika vs Haiti di CONCACAF: Les Grenadiers Bisa Menang Tipis
Prediksi Skor Irlandia vs Israel: The Green Army Diunggulkan Menang
Prediksi Skor Kosovo vs Austria di Liga Nations UEFA: Das Team Perpanjang Rekor Tak Terkalahkan
Prediksi Deltras FC vs Persiba: Leonard Tupamahu Hafal Gaya Main Tamu
Prediksi Skor Siprus vs Latvia di Liga Nations UEFA: I Galanolefki Menang Tipis di Neo GSP
Prediksi Susunan Pemain Yunani vs Jerman: Klopp Butuh Sentuhan Wirtz
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022