Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 22 Oktober 2025 | 20.22 WIB

Profil dan Kontroversi Benjamin Netanyahu: Pemimpin Terlama Israel yang Enggan Turun Tahta

PM Israel Benjamin Netanyahu. (Facebook/CGTN Frontline)

JawaPos.com - Benjamin Netanyahu, Perdana Menteri Israel selalu jadi bahan omongan. Selain karena kontroversi dan kejahatan perang, genosida di Gaza selama lebih dari dua tahun ini, Netanyahu dikabarkan menjadi diktator yang ogah turun dari tampuk kekuasaan.

Hal ini menyusul rencana Netanyahu yang menyatakan siap kembali mencalonkan diri sebagai Perdana Menteri Israel di pemilu tahun depan. Kesiapannya kembali mengikuti pemilu, kembali memimpin Israel di tengah banjir darah di Gaza memicu sentimen negatif dari dalam dan luar negeri.

Menyoal Netanyahu, selama lebih dari tiga dekade, dirinya memegang kendali atas arah politik dan militer Israel. Ia menyebut dirinya sebagai pelindung bangsa, tapi bagi dunia, ia semakin tampak sebagai arsitek penderitaan, sosok yang memimpin perang paling mematikan di Gaza dan mengabaikan jeritan kemanusiaan.

Di bawah pemerintahannya, serangan ke Jalur Gaza setelah 7 Oktober 2023 menewaskan hampir 70 ribu jiwa, warga Palestina, mayoritas perempuan dan anak-anak dan elemen lainnya bahkan termasuk rekan medis dan para jurnalis yang bertugas.

Kota demi kota hancur, rumah sakit menjadi puing, dan warga sipil dibiarkan kelaparan di bawah blokade yang ia setujui. Sampai hari ini, meski kesepakatan gencatan senjata sudah diteken.

Kini, Mahkamah Pidana Internasional (ICC) menuduhnya melakukan kejahatan terhadap kemanusiaan dan genosida. Sebuah cap yang menodai reputasinya, tapi juga mencerminkan apa yang selama ini diabaikan dunia: bahwa kekuasaan Netanyahu dibangun di atas penderitaan orang lain.

Mengutip BBC, Netanyahu selalu punya satu jawaban untuk setiap kritik: keamanan. Dengan dalih melindungi Israel, ia membenarkan hampir semua tindakan militernya, dari serangan udara brutal hingga penghancuran infrastruktur sipil.

Namun, narasi itu kini kian rapuh. Banyak analis menilai Netanyahu memanfaatkan perang bukan hanya untuk menumpas Hamas, melainkan untuk menyelamatkan karier politiknya. 

Saat rakyat Israel menuntut pertanggungjawaban atas kegagalan intelijen pada serangan Hamas, ia justru mengalihkan perhatian publik lewat perang panjang yang menewaskan ribuan orang.

Bagi Netanyahu, kekuasaan bukan sekadar mandat. Ia adalah obsesi. Meski dibelit skandal korupsi, protes besar, dan tekanan internasional, ia terus berpegang pada kursi perdana menteri, bahkan mengumumkan akan maju lagi pada pemilu 2026.

'King Bibi': Dari Strategi Jadi Kultus Kekuasaan

Lahir di Tel Aviv pada 1949, Benjamin Netanyahu tumbuh di keluarga nasionalis sayap kanan. Ia sempat tinggal di Amerika Serikat, tempat ia belajar cara berbicara dengan gaya tegas dan populis, kemampuan yang kelak membawanya menjadi politisi paling lihai di Israel.

Ia bergabung dalam unit elit Sayeret Matkal, dan setelah kakaknya tewas dalam operasi Entebbe, Netanyahu menjadikan tragedi itu sebagai fondasi citra dirinya: seorang pelindung bangsa. Tapi di balik kisah heroik itu, terselip narasi manipulatif, ia menjual trauma nasional menjadi alat legitimasi politik.

Sejak menjabat perdana menteri pertama kali pada 1996, Netanyahu tak pernah benar-benar pergi dari panggung kekuasaan. Ia tahu cara memainkan ketakutan publik, menciptakan musuh, dan menempatkan dirinya sebagai satu-satunya pelindung Israel. Dari situlah lahir julukan 'King Bibi' raja tanpa mahkota yang menolak turun tahta.

Editor: Kuswandi
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore