
Serangan bom Jepang terhadap fasilitas penyimpanan minyak di Stokes Hill, sekitar Pelabuhan Darwin pada 1942. (National Archives of Australia)
JawaPos.com - Pada 19 Februari 1942, pasukan Jepang melancarkan dua gelombang serangan udara ke Darwin, wilayah paling utara benua Australia. Operasi ini dirancang dan dipimpin oleh komandan yang sebelumnya bertanggung jawab atas serangan di Pearl Harbor, sepuluh minggu sebelumnya.
Dikutip dari National Archives of Australia, gelombang pertama melibatkan 188 pesawat tempur Jepang yang lepas landas dari empat kapal induk di Laut Timor, sedangkan gelombang kedua melibatkan 54 pembom berbasis darat.
Armada tempur Jepang terdiri atas dua kapal penjelajah berat, satu kapal penjelajah ringan, tujuh kapal perusak, tiga kapal selam, dan dua kapal penjelajah berat lain yang berperan sebagai pengawal jarak jauh.
Kronologi
Serangan pertama dimulai sekitar pukul 10 pagi. Pesawat pengebom Kate menargetkan kapal-kapal, infrastruktur pelabuhan, dan pusat kota Darwin. Setelah itu, pesawat Val dan pesawat tempur Zero melakukan penyerangan ke area pelabuhan serta pangkalan militer dan udara sipil.
Dalam waktu sekitar 25 menit, serangan menghancurkan sebagian besar fasilitas vital Darwin. Tak lama kemudian, sekitar pukul 11.45 siang, gelombang kedua dilancarkan dengan pemboman ketinggian tinggi yang menargetkan pangkalan udara Angkatan Udara Australia (RAAF).
Menurut Anzac Memorial, dua gelombang pengeboman tersebut menjadikan hari itu sebagai salah satu momen paling menakutkan dalam sejarah Australia.
Serangan pertama datang dari empat kapal induk di Laut Arafura, sekitar 350 km barat laut Darwin. Sementara itu, serangan kedua dilakukan oleh pesawat-pesawat yang lepas landas dari pangkalan udara Jepang di Kendari, Sulawesi, dan Ambon yang baru saja direbut.
Tujuan Jepang
Berbeda dari kekhawatiran warga sipil saat itu dan mitos yang berkembang, Jepang sebenarnya tidak berniat menginvasi Australia.
Tujuan utama mereka adalah melemahkan kekuatan sekutu yang berbasis di wilayah utara Australia, dan mendukung invasi mereka ke Timor dan Jawa yang saat itu masih menjadi bagian dari Hindia Belanda.
Dengan melumpuhkan Darwin, Jepang berusaha mengganggu basis sekutu yang berpotensi menjadi ancaman bagi ekspansi militernya di Asia Tenggara.
Kerugian
Menurut Anzac Memorial, serangan ini menewaskan sekitar 235 orang dan melukai antara 300 hingga 400 lainnya.

Persebaya Surabaya Rayakan Kembalinya Bruno Moreira, Bonek Kompak Satu Suara
14 Kuliner Malam Bandung yang Paling Enak dan Selalu Ramai hingga Larut Malam dengan Suasana Seru dan Rasa Lezat
Bocoran Soal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
18 Rekomendasi Kuliner di Tangerang untuk Keluarga, Tempat Makan Favorit dari Tradisional sampai Modern
Link Live Streaming Semifinal Uber Cup 2026 Indonesia vs Korea Selatan dan Line-up Pertandingan
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
