
Tentara pemberontak yang menembaki pasukan Dinasti Qing selama Pemberontakan Wuchang pada 1911. (Chinese History Digest)
JawaPos.com - Dinasti Qing merupakan dinasti terakhir yang memerintah Tiongkok, berkuasa dari tahun 1644 hingga 1911 atau 1912.
Dinasti ini dipimpin oleh etnis Manchu, dan berasal dari wilayah yang kini dikenal sebagai Tiongkok timur laut. Kaum Manchu memiliki bahasa serta adat istiadat tersendiri yang membedakan mereka dari mayoritas penduduk Han.
Dikutip dari National Geographic, selama masa kekuasaan Qing, wilayah Tiongkok mencapai ekspansi terbesarnya dan mengalami stabilitas yang cukup panjang.
Namun, memasuki abad ke-19 hingga awal abad ke-20, Tiongkok mulai menghadapi tekanan hebat dari kekuatan Barat, yang akhirnya mengguncang kekuasaan dinasti ini.
Pada tahun 1911, Kaisar terakhir, Puyi, resmi turun takhta, menandai berakhirnya era kekaisaran dan lahirnya pemerintahan republik.
Sejarah Panjang Dinasti di Tiongkok
Kejatuhan Dinasti Qing pada 1911-1912 menandai berakhirnya sejarah panjang kekaisaran Tiongkok yang telah berlangsung selama lebih dari dua milenium, dimulai sejak Qin Shi Huangdi menyatukan Tiongkok pada 221 SM.
Menurut ThoughtCo, dalam sebagian besar periode tersebut, Tiongkok dikenal sebagai kekuatan utama di Asia Timur, dengan pengaruh budaya yang meluas ke Korea, Vietnam, dan Jepang. Namun, masa kejayaan itu perlahan meredup ketika kekuasaan Qing melemah di bawah tekanan internal dan eksternal.
Dinasti Qing, yang berasal dari Manchuria, naik takhta dengan menaklukkan Dinasti Ming. Selama 268 tahun masa pemerintahannya, penguasa Qing mempertahankan identitas dan struktur sosial mereka sebagai penakluk dari luar.
Mereka memisahkan diri dari rakyat Tiongkok dalam hal bahasa, ritual, hingga struktur sosial.
Konflik Internal dan Eksternal dalam Dinasti
Salah satu perlawanan besar terhadap kekuasaan Qing muncul dalam bentuk Pemberontakan Teratai Putih (White Lotus Rebellion) yang berlangsung dari 1796 hingga 1820. Konflik ini berawal dari ketegangan antara migran Han yang masuk ke wilayah utara dan penduduk asli setempat, akibat pertumbuhan populasi yang pesat dan perebutan sumber daya.
Teknologi pertanian yang berkembang, termasuk penggunaan pupuk, irigasi, serta pengobatan penyakit seperti cacar yang diadopsi dari Barat, membuat populasi Tiongkok meningkat tajam.
Pada pertengahan abad ke-18, jumlah penduduk melonjak dari 178 juta menjadi lebih dari 430 juta pada 1851. Ketimpangan ekonomi dan kepadatan penduduk memicu konflik sosial, dan pemberontakan Teratai Putih menjadi simbol awal perlawanan terhadap pemerintahan Qing.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Timnas Jepang U-23 vs Thailand U-23 di Asian Games 2026
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Psikolog Umum Kompeten dan Siap Berikan Layanan di Puskesmas, Pendidikan, Organisasi serta Komunitas
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Kejam, Sopir Truk Dibakar Oleh Atasan dan Alami Luka Bakar Sampai 68 Persen
7 Kebiasaan yang Bikin Ban Motor Cepat Botak, Mana yang pernah Kamu Lakukan?
Ultah Ariel NOAH ke-45 Dirayakan Bareng Wulan Guritno, Ada Pelukan hingga Candaan Duda-Janda
Tak Lagi jadi Menkeu, Momen Purbaya Makan Bakso Berdua Istri dan Kembali Nyetir Sendiri
MK Diminta Batalkan Jabatan Wapres Gibran, Syarat Pendidikan Dipersoalkan
Mahfud MD Balas Sindiran Prabowo: Banyak juga Presiden yang Goblok

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022