
Sekretaris Jenderal PBB António Guterres berpidato dalam Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa di Markas Besar PBB, New York. (NPR)
JawaPos.com – Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) ke-80 resmi dibuka di New York, Selasa (23/9/2025). Hampir 150 kepala negara dan pemerintahan hadir dalam forum diplomasi terbesar dunia ini.
Namun, alih-alih menjadi perayaan delapan dekade PBB, forum justru dibayangi krisis mendalam, yakni perang di Ukraina dan Gaza, kebuntuan Dewan Keamanan, hingga terpuruknya keuangan akibat berkurangnya kontribusi Amerika Serikat (AS).
Dilansir dari NPR, Selasa (23/9/2025), tema besar yang mencuat adalah relevansi PBB di abad ke-21. Apakah lembaga yang lahir pada 1945 masih mampu menjalankan mandat perdamaian globalnya? Kekhawatiran kini bukan hanya pada konflik, tetapi juga kelangsungan operasional organisasi itu sendiri.
PBB Terancam Krisis Eksistensial
Peringatan keras datang dari Tom Fletcher, pejabat tertinggi urusan kemanusiaan PBB. Dia menggambarkan kondisi badan dunia itu berada di titik kritis.
“PBB menghadapi badai sempurna, kekurangan dana, kelebihan beban, dan berada di bawah serangan,” ujarnya. Sejak tahun lalu, pendanaan turun 40 persen, sementara jumlah pekerja kemanusiaan yang tewas, terutama di Gaza, mencatat rekor tertinggi.
Bayang-Bayang Pemerintahan Trump
Krisis ini tak lepas dari kebijakan pemerintahan Donald Trump. Selama menjabat, dia memangkas kontribusi, menarik AS dari WHO dan UNESCO, serta menolak Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs).
Menurut Richard Gowan dari International Crisis Group, “Amerika Serikat bertindak dengan cara yang sempit dan tidak sepadan dengan perannya sebagai negara berkekuatan global.”
Pandangan serupa datang dari Anjali Dayal, akademisi Fordham University, yang menilai AS kini berubah dari penopang utama menjadi sumber instabilitas.
“Dari atas hingga bawah, bidang-bidang penting seperti pengentasan kemiskinan, kesehatan publik, dan kesetaraan gender justru diganggu secara aktif oleh Washington,” ujarnya.
Pengakuan Negara Palestina Picu Perdebatan
Isu lain yang memperuncing sidang adalah pengakuan internasional bagi negara Palestina. Inggris, Kanada, Australia, dan Portugal bergabung dengan mayoritas anggota PBB yang sudah mengakui Palestina. Sebelumnya, 142 negara mendukung resolusi Sidang Umum untuk “langkah nyata, terukur, dan tidak dapat diubah” menuju solusi dua negara.
Namun, AS dan Israel menolak langkah tersebut. Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menegaskan, “Langkah ini hanya bersifat simbolis dan sama sekali tidak membawa kita lebih dekat pada terwujudnya negara Palestina.” Dia memperingatkan pengakuan itu justru berpotensi memicu “tindakan balasan dari Israel.”
Suriah Keluar dari Isolasi

Kasus Hantavirus di Indonesia, Kemenkes: Saat ini Ada 2 Kasus Suspek di Jakarta dan Yogyakarta
14 Spot Gudeg di Bandung dengan Cita Rasa Khas Yogyakarta yang Autentik dan Menggugah Selera
12 Kuliner Tahu Campur Paling Enak di Surabaya dengan Kuah Petis Kental yang Selalu Jadi Favorit Warga Lokal hingga Wisatawan
Jadwal Persipura vs Adhyaksa FC Play-Off Promosi Super League, Siaran Langsung, dan Live Streaming
15 Oleh-oleh Paling Ikonik dan Khas dari Kota Surabaya, Rasanya Autentik dan Tiada Duanya, Wajib Kamu Bawa Pulang!
11 Rekomendasi Mall Terbaik di Surabaya yang Bikin Betah Jalan-Jalan dan Susah Pulang
Jadwal PSS vs Garudayaksa FC Final Liga 2, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Siapa Raih Trofi Kasta Kedua?
Hasil Play-off Liga 2: Adhyaksa FC Bungkam Persipura Jayapura 0-1 di Babak Pertama!
Jadwal Veda Ega Pratama di Sesi Q2 Moto3 Le Mans 2026! Rider Indonesia Bidik Start Terdepan
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
