
Logo WhatsApp, aplikasi pesan instan milik Meta yang kini diguncang gugatan terkait dugaan kelalaian dalam perlindungan data pengguna (Dok. The Guardian)
JawaPos.com - Mantan eksekutif keamanan siber WhatsApp, Attaullah Baig, mengajukan gugatan terhadap Meta di pengadilan federal San Francisco.
Ia menuding perusahaan induk WhatsApp itu mengabaikan kelemahan mendasar dalam sistem keamanan digital, sehingga membahayakan miliaran pengguna di seluruh dunia.
Baig, yang menjabat kepala keamanan WhatsApp sejak 2021 hingga Februari 2025, mengklaim bahwa sekitar 1.500 insinyur memiliki akses luas terhadap data pengguna tanpa pengawasan yang memadai.
Menurutnya, kondisi ini berpotensi melanggar perintah pemerintah Amerika Serikat tahun 2020 yang menjatuhkan denda sebesar 5 miliar dolar AS atau sekitar Rp 81,5 triliun (dengan kurs Rp 16.300 per dolar AS) terhadap Meta terkait skandal Cambridge Analytica.
Hasil Uji Internal Ungkap Celah Keamanan
Dilansir dari The Guardian, Selasa (9/9/2025), dalam gugatan setebal 115 halaman tersebut, Baig mengungkap hasil uji keamanan internal yang menunjukkan bahwa insinyur WhatsApp bisa "memindahkan atau mengambil data pengguna, mulai dari informasi kontak, alamat IP, hingga foto profil, tanpa terdeteksi dan tanpa tercatat dalam jejak audit."
Baig mengaku sudah berulang kali menyampaikan kekhawatirannya kepada pimpinan WhatsApp, termasuk Will Cathcart, serta CEO Meta Mark Zuckerberg.
Ia juga menuding perusahaan mengabaikan laporan mengenai peretasan dan pengambilalihan lebih dari 100.000 akun setiap hari, dengan alasan lebih memprioritaskan pertumbuhan pengguna.
Bantahan Meta Melalui Pernyataan Resmi
Menanggapi tuduhan, pihak Meta melalui perwakilannya membantah keras klaim Baig. "Sayangnya, pola seperti ini sudah berulang kali terjadi. Seorang mantan karyawan diberhentikan karena kinerjanya dinilai buruk, kemudian muncul di ruang publik dengan klaim yang keliru dan tidak mencerminkan kerja keras tim kami," ujar Wakil Presiden Komunikasi WhatsApp, Carl Woog, dalam pernyataan resmi.
Meski demikian, Baig menegaskan dirinya justru menghadapi pembalasan sejak pertama kali melaporkan masalah keamanan pada 2021. Ia mengaku mendapat penilaian kinerja negatif, peringatan verbal, hingga akhirnya diberhentikan pada Februari 2025 dengan alasan "kinerja buruk."
Meta membantah tuduhan. Perusahaan menekankan bahwa pemecatan Baig murni karena kinerjanya yang dinilai di bawah standar, dengan sejumlah insinyur senior secara independen mendukung evaluasi tersebut.
Meta juga menambahkan bahwa Departemen Tenaga Kerja AS melalui Occupational Safety and Health Administration telah menolak keluhan awal Baig dan tidak menemukan indikasi adanya pembalasan.
Jejak Karier Baig dan Gugatan ke Regulator
Sebelum bergabung dengan Meta, Baig berkarier di bidang keamanan siber di PayPal, Capital One, dan sejumlah institusi keuangan besar lainnya.

Kasus Hantavirus di Indonesia, Kemenkes: Saat ini Ada 2 Kasus Suspek di Jakarta dan Yogyakarta
14 Spot Gudeg di Bandung dengan Cita Rasa Khas Yogyakarta yang Autentik dan Menggugah Selera
Jadwal Persipura vs Adhyaksa FC Play-Off Promosi Super League, Siaran Langsung, dan Live Streaming
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
Pertandingan Perpisahan Bruno Moreira? Kapten Persebaya Surabaya Kirim Sinyal Emosional Jelang Lawan Persis Solo
12 Kuliner Tahu Campur Paling Enak di Surabaya dengan Kuah Petis Kental yang Selalu Jadi Favorit Warga Lokal hingga Wisatawan
11 Kuliner Gudeg Paling Recomended di Surabaya dengan Harga Murah Meriah Tapi Rasa Tidak Murahan
15 Oleh-oleh Paling Ikonik dan Khas dari Kota Surabaya, Rasanya Autentik dan Tiada Duanya, Wajib Kamu Bawa Pulang!
7 Hidden Gem Kuliner Sunda di Bogor yang Enak dan Wajib Dicoba, Suasana Asri dan Menunya Autentik
12 Rekomendasi Kuliner Malam di Surabaya dengan View Terbaik untuk Nongkrong Santai dan Pemandangan yang Memukau
