Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 21 Juli 2025 | 17.32 WIB

Iran Klaim Ganti Sistem Pertahanan Udara yang Rusak Usai Serangan Israel, Tegaskan Kesiapan Hadapi Ancaman

Sistem pertahanan udara Bavar-373 buatan Iran (Dok. Reuters) - Image

Sistem pertahanan udara Bavar-373 buatan Iran (Dok. Reuters)

JawaPos.com - Iran menyatakan telah berhasil menggantikan sistem pertahanan udaranya yang rusak akibat konflik terbuka dengan Israel pada bulan Juni lalu. Pernyataan ini disampaikan oleh Wakil Kepala Operasi Angkatan Darat Iran, Mahmoud Mousavi, seperti dilaporkan kantor berita militer Defah Press pada Minggu (20/7/2025) waktu setempat.

Konflik bersenjata antara kedua negara tersebut memuncak bulan lalu, ketika Angkatan Udara Israel berhasil menembus wilayah udara Iran dan menghancurkan sejumlah komponen pertahanan udara utama. Dalam eskalasi yang belum pernah terjadi sebelumnya, Iran membalas dengan meluncurkan gelombang rudal dan drone ke wilayah Israel.

"Sebagian sistem pertahanan udara kami memang mengalami kerusakan, hal ini tidak bisa kami sembunyikan. Namun, rekan-rekan kami telah menggunakan sumber daya dalam negeri dan menggantinya dengan sistem yang telah disiapkan sebelumnya dan disimpan di lokasi yang tepat guna menjaga keamanan wilayah udara," kata Mousavi, dikutip dari Reuters, Senin (21/7/2025).

Sebelum perang pecah, Iran telah mengembangkan dan mengoperasikan sistem pertahanan udara jarak jauh buatan dalam negeri, yakni Bavar-373, serta mengandalkan sistem buatan Rusia, S-300. Namun dalam laporan terbaru ini, tidak disebutkan adanya pengadaan atau impor sistem pertahanan udara asing dalam beberapa minggu terakhir.

Dalam konteks ini, pernyataan Iran juga menunjukkan bahwa negara tersebut mengandalkan logistik dan produksi militernya sendiri untuk merespons kerusakan pascakonflik. Langkah ini sekaligus mencerminkan kepercayaan diri Teheran atas kemampuan industri pertahanannya, di tengah tekanan dan sanksi internasional yang masih berlangsung.

Sebagai catatan, ketegangan militer antara kedua negara bukan hal baru. Serangan terbatas Israel terhadap fasilitas rudal Iran pada Oktober tahun lalu sempat memicu demonstrasi kekuatan oleh Iran melalui latihan militer yang menampilkan sistem pertahanan udara buatan Rusia. Langkah itu disebut sebagai upaya memulihkan kepercayaan diri militer Iran setelah fasilitas industrinya diserang.

Namun, peristiwa serangan Juni lalu memperlihatkan skala konflik yang lebih besar dan terbuka. Dominasi udara Israel dianggap sebagai pukulan telak bagi Iran, meskipun tidak berlangsung lama karena Iran segera menunjukkan kemampuan pemulihan militernya secara internal.

Pengamat militer menilai bahwa respons cepat Iran dalam mengganti sistem pertahanannya menunjukkan kesiapan strategis, sekaligus pesan politik bahwa negara tersebut tetap mampu menjaga kedaulatan udaranya tanpa ketergantungan penuh pada aliansi militer asing.

Meski begitu, keberhasilan Iran mengganti sistem yang rusak belum sepenuhnya menjawab pertanyaan mengenai efektivitas pertahanannya dalam menghadapi serangan berikutnya, terutama dari negara dengan kekuatan udara seperti Israel. Dalam dinamika regional yang kian kompleks, ketegangan militer kedua negara diprediksi masih akan berlanjut.

Dengan situasi yang masih rapuh dan penuh ketidakpastian, langkah Iran mengganti sistem pertahanan udara ini patut dicermati sebagai bagian dari strategi jangka panjangnya di kawasan Timur Tengah yang terus bergolak.

Editor: Candra Mega Sari
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore