
Bendera Israel. (Pexels/cottonbro studio)
JawaPos.com - Di tengah konflik Gaza-Israel yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda dan absennya kesepakatan gencatan senjata, ribuan warga Israel justru menggelar pawai yang menuai kontroversi di kawasan Yerusalem Timur.
Menurut laporan dari The Guardian, pawai tersebut dilakukan secara besar-besaran dan telah menjadi tradisi tahunan untuk memperingati penguasaan serta pendudukan Israel atas Yerusalem Timur dan sejumlah wilayah suci sejak tahun 1967.
Kendati pengambilalihan wilayah tersebut tidak diakui secara hukum oleh komunitas internasional, pemerintah Israel tetap mendanai pawai ini sebagai bentuk perayaan yang mereka anggap sebagai bagian dari "pembebasan" Yerusalem Timur.
Selama bertahun-tahun, pawai ini kerap dikaitkan dengan tindakan rasis dan kekerasan terhadap warga Palestina.
Anggota pawai kerap meneriakkan slogan rasis seperti "matilah orang-orang Arab", "Gaza adalah milik kita", hingga "semoga desa-desa mereka terbakar".
Tidak cukup hanya dengan berteriak, sekelompok kecil dari pemuda Israel juga kerap melakukan serangan kepada pemilik toko dan pejalan kaki, meludahi wanita berhijab, mencuri barang dari kafe, mengacak-acak toko buku, bahkan memasuki setidaknya satu rumah secara paksa.
Sementara itu, mengutip laporan dari Al Jazeera, kelompok sayap kanan Israel juga dilaporkan menyerang kantor pusat Badan Bantuan dan Pekerjaan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA) yang berada di kawasan Sheikh Jarrah.
Meski pihak kepolisian telah lebih dulu diterjunkan untuk mengantisipasi aksi kekerasan dari para pemukim yang kerap mengintimidasi warga Palestina, pawai tetap diwarnai kericuhan, termasuk kekerasan fisik dan verbal.
Pada pawai tahun sebelumnya, sejumlah warga Israel berhaluan ultranasionalis bahkan dilaporkan menyerang jurnalis Palestina di wilayah Kota Tua, sambil menyerukan tindakan kekerasan terhadap warga Palestina.
Lebih jauh lagi, empat tahun yang lalu, pawai serupa turut memicu pecahnya konflik berdarah selama 11 hari di Gaza, yang disebut-sebut sebagai salah satu insiden genosida dalam eskalasi tersebut. (*)

Pertandingan Perpisahan Bruno Moreira? Kapten Persebaya Surabaya Kirim Sinyal Emosional Jelang Lawan Persis Solo
11 Kuliner Gudeg Paling Recomended di Surabaya dengan Harga Murah Meriah Tapi Rasa Tidak Murahan
Mengenal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026: Aturan, Materi, dan Ambang Batas
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
Prediksi Skor Bayern Munchen vs PSG: Siapa yang akan Bertemu Arsenal di Final Liga Champions?
14 Spot Gudeg di Bandung dengan Cita Rasa Khas Yogyakarta yang Autentik dan Menggugah Selera
7 Hidden Gem Kuliner Sunda di Bogor yang Enak dan Wajib Dicoba, Suasana Asri dan Menunya Autentik
13 Gudeg Paling Enak di Solo dengan Harga Terjangkau, Rasa Premium, Cocok untuk Kulineran Bareng Keluarga!
12 Rekomendasi Kuliner Malam di Surabaya dengan View Terbaik untuk Nongkrong Santai dan Pemandangan yang Memukau
Prediksi Skor Bayern Munchen vs PSG: Sejarah Die Roten Selalu Lolos dari Semifinal Liga Champions, Masih Dominan Lawan Klub Ligue 1
