
Tempat penampungan pengungsi warga Palestina di kota Rafah, Jalur Gaza selatan (8/12/2023)/ Sumber: Antara/Xinhua/Rizek Abdeljawad
JawaPos.com - Pelapor khusus PBB untuk wilayah Palestina, Francesca Albanese, menyoroti bahwa mengkritik tindakan Israel tidak boleh disamakan dengan antisemitisme.
Menurutnya, jika setiap kritik terhadap Israel disamakan dengan antisemitisme akan membatasi kebebasan berekspresi, kebebasan mengkritik, dan menciptakan semacam area impunitas.
Sejak menjabat pada 2022, Albanese kerap menghadapi kritik di media Barat karena menyoroti kejahatan perang yang dilakukan Israel.
"Jadi masalah pertama adalah persenjataan anti-semitisme dan penggabungan antara kritik terhadap praktik-praktik negara Israel versus Palestina dengan anti-semitisme," jelasnya, dilansir dari Anadolu.
Mengenai serangan 7 Oktober oleh Hamas, Albanese mengutuknya sebagai kejahatan serius. Namun, dia juga mengkritik Israel atas tanggapan yang tidak seimbang.
"Maksud saya, saya tidak mengatakan bahwa Israel tidak memiliki hak untuk melindungi dirinya sendiri atau melakukan operasi yang ditargetkan terhadap militan Hamas. Namun apa yang telah dilakukan Israel adalah menghukum seluruh penduduk, penduduk sipil di Gaza," terangnya.
“Israel telah menghancurkan 50% infrastruktur sipil, mengebom lingkungan pemukiman, mengobarkan perang terhadap penduduk yang terperangkap di wilayah seluas 360 kilometer persegi, mengebom wilayah tersebut dan menyebabkan 16.000 orang tewas. Dari korban tersebut 70% di antaranya adalah perempuan dan anak-anak," tambahnya.
Sebagai suara yang signifikan secara internasional, Albanese berada di tengah-tengah perdebatan dan tekanan, menavigasi jalan melalui kritik sambil menjunjung tinggi tugasnya sebagai pelapor khusus PBB untuk Palestina.
Albanese juga mengkritik pendekatan media yang dianggapnya bermasalah dan tidak konsisten dengan fakta sejarah.
Pembelaan Albanese menggunaan istilah ‘dominasi Yahudi Israel di wilayah Palestina yang diduduki’ dan mengatakan bahwa istilah tersebut tidak bersifat anti-semitisme, melainkan berakar pada bukti-bukti terdokumentasi yang diberikan oleh organisasi-organisasi Palestina dan Israel.
"Faktanya, konsep dominasi ada dalam konvensi apartheid. Dan itu jelas, itu sepenuhnya didokumentasikan oleh organisasi-organisasi Palestina, organisasi-organisasi Israel seperti B'tselem dan Yashdeen, dan organisasi-organisasi internasional seperti Human Rights Watch, Amnesty international dan bahkan pendahulu saya Profesor Michael Link menulis sebuah laporan mengenai hal tersebut," katanya.
Albanese mengatakan bahwa tidak hanya dirinya sendiri, tetapi juga orang-orang Yahudi di banyak negara, terutama AS, turut memberikan kritik terhadap serangan yang menargetkan warga sipil di Gaza.
Menanggapi kekerasan yang terus terjadi di Gaza, Albanese mendesak PBB untuk menerapkan hukum internasional.
Albanese khawatir jika konflik akan terus berlanjut apabila PBB tidak berkomitmen dengan tegas menegakkan keadilan dan menghormati hak-hak asasi manusia.

14 Kuliner Malam Bandung yang Paling Enak dan Selalu Ramai hingga Larut Malam dengan Suasana Seru dan Rasa Lezat
Bocoran Soal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026
Jika Persija Jakarta Gagal Juara, The Jakmania Punya Kesempatan Melihat Bobotoh Menangis
Tak Peduli Larangan ke Jepara, The Jakmania Sebut Kebiasaan atau Takut Main di Jakarta saat Persija Jamu Persib
18 Rekomendasi Kuliner di Tangerang untuk Keluarga, Tempat Makan Favorit dari Tradisional sampai Modern
Persebaya Surabaya Rayakan Kembalinya Bruno Moreira, Bonek Kompak Satu Suara
Pesan Haru Milos Raickovic ke Bonek! Gelandang Persebaya Surabaya Sudah Berikan Segalanya Musim Ini
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Korban Dicekoki Miras Hingga Tak Sadar, Pelaku Pemerkosaan Cipondoh Masih Dicari
Link Live Streaming Semifinal Uber Cup 2026 Indonesia vs Korea Selatan dan Line-up Pertandingan
