Logo JawaPos

Bom Israel Terus Menggempur Palestina, Kemenlu Segera Evakuasi WNI di Gaza

MEMPRIHATINKAN: Kamp pengungsian Jabalia, Jalur Gaza, runtuh dan berantakan setelah dibombardir Israel pada 31 Oktober 2023. - Image

MEMPRIHATINKAN: Kamp pengungsian Jabalia, Jalur Gaza, runtuh dan berantakan setelah dibombardir Israel pada 31 Oktober 2023.

JawaPos.com - Harapan hidup warga Gaza, Palestina, semakin tipis. Di tengah risiko menjadi korban dari gempuran bom Israel, layanan kesehatan pun terancam tutup.

Generator di dua rumah sakit (RS) di Gaza hanya memiliki waktu terbatas sebelum shut down.

Dalam press briefing Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) kemarin (1/11), Menteri Luar Negeri (Menlu) Retno Marsudi menyampaikan, berdasar informasi yang diperoleh dari Kementerian Kesehatan Palestina di Gaza, generator utama dua rumah sakit, yaitu Rumah Sakit Al Syifa Medical Complex dan Rumah Sakit Indonesia (RSI), segera padam. Hal itu terjadi lantaran kurangnya pasokan bahan bakar.

Dari informasi tersebut, Kemenlu pun langsung berkomunikasi dengan relawan MER-C yang ada di sana. "Dan dari komunikasi kita, diperoleh informasi bahwa waktu yang tersisa adalah kurang lebih 48 jam sejak tadi pagi (Rabu pagi, Red) karena kita berkomunikasi tadi pagi, sebelum generator utama mengalami shut down," paparnya.

Retno mengungkapkan, isu soal bahan bakar dan air bersih untuk bisa masuk ke Gaza yang sudah sangat kritis juga telah dibahas saat di New York. Di samping, kebutuhan-kebutuhan pokok lain bagi warga Gaza.

"Dengan situasi ini, kita intensifkan komunikasi agar bahan bakar dapat segera masuk ke Gaza dengan alasan kemanusiaan. Sekali lagi dengan alasan kemanusiaan," tegasnya.

Selain itu, Kemenlu tengah berupaya mengevakuasi WNI yang berada di Gaza. Sejak Selasa (31/10), tim Kemenlu dari Kairo menuju Rafah, Mesir, untuk bisa masuk ke Gaza.

Retno memastikan, kondisi WNI di Gaza dalam keadaan baik. Namun, kata dia, arti baik di sini bukan berarti baik seperti normalnya. "Baik di tengah situasi yang sangat tidak baik," ungkapnya. Komunikasi dengan mereka pun on and off.

Koordinasi dengan banyak pihak juga terus dilakukan Kemenlu. Kemungkinan evakuasi bisa dilakukan mulai Rabu melalui pintu Rafah. "Teman-teman saya ingin garis bawahi kata kemungkinan, karena sekali lagi situasi tidak pernah dapat diduga," ungkapnya.

Dari hasil komunikasi, didapati bahwa tim tersebut harus mengalami pemeriksaan berkali-kali. Termasuk menjalani antrean yang sangat panjang. "Setelah melalui pemeriksaan yang berlapis, tim kita dari Kairo sudah tiba di Rafah (bagian Mesir, Red), tadi saya cek pukul 15.53 WIB. Sekarang kita tinggal melihat apa yang akan terjadi di bagian Gaza," tuturnya.

Terkait bantuan kemanusiaan, Retno mengatakan akan dikirim pada akhir minggu ini. Barang-barang tersebut telah disesuaikan dengan permintaan atau kebutuhan di Gaza.

Direktur Perlindungan WNI Kemenlu Judha Nugraha menyampaikan, ada 10 WNI yang berada di Jalur Gaza. Dari jumlah tersebut, hanya tujuh yang akan dievakuasi. Tiga di antaranya, yang merupakan relawan MER-C, memilih tetap tinggal untuk membantu RSI di Gaza.

"Tiga menetap. Sifatnya volunter, kami tidak memaksa karena pilihan kembali ke pribadi masing-masing. Tugas pemerintah untuk menyelamatkan, tapi pilihan kembali lagi ke masing-masing," ungkapnya.

Terpisah, Wakil Ketua Dewan Pertimbangan MUI Pusat Zainut Tauhid Sa’adi mengatakan, pihaknya mendesak agar PM Israel Benjamin Netanyahu segera ditetapkan sebagai penjahat perang. "Israel sudah bertindak beringas dan brutal melampaui batas perikemanusiaan," katanya. (mia/wan/idr/syn/c7/bay)

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore