Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 16 September 2018 | 18.30 WIB

Pelajari Penipisan Es di Bumi, NASA Luncurkan Satelit ICESat-2

Ilustrasi cairnya es di kutub utara terkait pemanasan global  menjadi perhatian kalangan ilmuwan dunia - Image

Ilustrasi cairnya es di kutub utara terkait pemanasan global menjadi perhatian kalangan ilmuwan dunia

JawaPos.com - Lembaga antariksa Amerika Serikat, National Aeronautics and Space Administration (NASA) berencana meluncurkan satelit laser paling canggih guna mengetahui dan mengukur fenomena pencairan es di belahan utara dan selatan dunia. Pemanasan global semakin tak bisa dihindari. Baru-baru ini gelombang panas bahkan melanda Jepang, Korea, dan Eropa.


NASA meluncurkan satelit seberat setengah ton yang disebut-sebut sebagai laser paling canggih yang ditempatkan di orbit dan dinamai ICESat-2 pada Sabtu (15/9). ICESat-2 seharga miliaran dolar tersebut nantinya akan membantu mengungkap tingkat pencairan es di bumi. Satelit laser tersebut juga akan berangkat bersama roket Delta II dari pangkalan Angkatan Udara (AU) Amerika Serikat (AS) Vandenberg di California.


Selama hampir 10 tahun NASA tidak lagi memiliki alat yang dapat ditempatkan di orbit untuk mengukur ketebalan area yang tertutup es di seluruh planet. Terakhir kali, ICESat diluncurkan pada 2003 dan selesai 2009 lalu, dari situ para ilmuwan telah belajar bahwa es telah hilang karena mencair dari daerah pesisir Greenlad dan Arktik Kutub Selatan.


Kepala Program ICESat-2 di NASA Richard Slonaker, mengatakan bahwa misi tersebut adalah misi luar biasa dan penting bagi sains. "Peluncuran ICESat-2 adalah untuk menjelajahi lapisan es kutub planet kita yang terus berubah," kata Slonaker seperti dilansir AFP.


Setelah meluncurkan ICESat pada 2003 lalu, melalui hasilnya NASA menjelaskan bahwa ada fenomena yang disebut dengan Operasi IceBridge di Kutub Utara dan Antartika, adanya pengukuran tinggi dan data evolusi es. Namun pembaruan soal hal tersebut masih dibutuhkan sehingga diluncurkan lah ICESat-2 tahun ini.


Jika banyak yang bertanya-tanya soal pemicu perubahan iklim, maka salah satu penyebabnya adalah peningkatan emisi gas rumah kaca cenderung disebabkan oleh meningkatnya penggunaan bahan bakar fosil oleh manusia. Suhu global rata-rata meningkat setiap tahunnya. Bahkan, menurut NASA, 2014 dan 2017 menjadi tahun dengan suhu terpanas.


Panas semakin terasa sebab lapisan es di Arktik dan Greenland telah menyusut. Cairnya es dikedua wilayah itu juga menyebabnya fenomena naiknya permukaan laut yang mengancam ratusan juta orang yang berada di wilayah pesisir seluruh dunia.


ICESat-2 diharapkan dapat membantu para ilmuwan memahami sejauh mana kontribusi es mencair ke permukaan laut yang terus meningkat.


"Kami akan dapat melihat secara khusus bagaimana es berubah selama satu tahun," kata seorang Peneliti dengan Program Cryosphere NASA Tom Wagner.

Editor: Mohamad Nur Asikin
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore