CEO Google Sundar Pichai berbicara dalam konferensi pengembang tahunan Google pada Mei lalu.
JawaPos.com — Persaingan kecerdasan buatan (AI) global memasuki fase penataan ulang. Setelah sempat tertinggal akibat lonjakan adopsi ChatGPT milik OpenAI, Google kini kembali ke garis depan dan menyalip rival utamanya tersebut.
Pergeseran posisi ini tidak sekadar mencerminkan kemajuan teknologi, melainkan juga menunjukkan reposisi strategis Google dalam mempertahankan pengaruhnya di tengah industri AI yang semakin menentukan arah ekonomi digital dunia.
Kebangkitan Google bermula dari pengujian model AI terbaru yang dilakukan oleh tim DeepMind pada Agustus. Salah satu fitur yang diuji adalah fitur pembuat gambar berbasis AI, yang kemudian dikenal sebagai Nano Banana.
Fitur ini melampaui ekspektasi internal, mencatat peringkat tertinggi di LM Arena, sebuah platform independen untuk membandingkan kinerja model kecerdasan buatan, serta dengan cepat menarik perhatian komunitas AI global. Dalam waktu singkat, momentum tersebut berlanjut pada lonjakan adopsi Gemini hingga sempat menjadi aplikasi paling banyak diunduh di App Store Apple.
Menurut laman The Wall Street Journal, dua bulan setelah momen tersebut Google meluncurkan model Gemini paling kuat hingga saat ini. Model itu melesat melampaui para pesaing dan menempatkan Alphabet—induk Google—kembali di posisi terdepan perlombaan AI global. Keunggulan ini ditopang oleh tradisi riset jangka panjang, keberanian menggelontorkan investasi besar pada perangkat keras internal, serta perubahan kepemimpinan yang mendorong eksperimen lebih agresif.
CEO Google Sundar Pichai menegaskan skala transformasi tersebut dalam memo internal kepada karyawan. “Senang melihat bahwa kami meluncurkan teknologi ini pada skala Google,” tulisnya. Sejak menjabat pada 2015, Pichai memang secara konsisten mengarahkan perusahaan menuju strategi AI menyeluruh. Dia bahkan pernah memprediksi peralihan besar dari era ponsel pintar menuju “dunia yang berfokus pada AI, di mana komputasi menjadi tersedia secara universal.”
Fondasi strategi itu dibangun jauh sebelum ChatGPT hadir. Unit Google Brain yang didirikan Jeff Dean pada 2011 serta akuisisi DeepMind yang dipimpin Demis Hassabis menjadi basis riset utama. Pada saat yang sama, Google mengembangkan tensor processing unit (TPU), chip khusus AI yang dirancang lebih hemat energi dan efisien dibanding prosesor konvensional—sebuah keunggulan struktural yang kini kian relevan.
Namun kehati-hatian awal Google terhadap chatbot sempat menjadi penghambat. Kekhawatiran atas risiko bias dan kesalahan informasi membuat peluncuran dilakukan terbatas, sementara OpenAI meluncurkan ChatGPT secara luas. Julia Winn, mantan peneliti Google Brain, menilai pendekatan tersebut konsisten dengan budaya internal perusahaan. “Risiko semacam itu ditanggapi Google jauh lebih serius dibanding tempat lain yang pernah saya kenal,” ujarnya.
Tekanan memuncak pada 2022–2023 saat peluncuran Bard diwarnai kesalahan faktual yang mengguncang kepercayaan pasar. Namun, momentum mulai berubah setelah Sergey Brin kembali aktif dan Google menyatukan DeepMind dan Brain.
Pada saat yang sama, Google meluncurkan Project Magi, perombakan mesin pencari berskala besar yang dipimpin Liz Reid. Menurut Reid, tingkat kepekaan layanan pencarian membuat setiap kesalahan berdampak langsung pada pengguna. “Jika Anda membuat kesalahan, Anda akan mendengarnya dari ibu, teman, bahkan anak Anda,” ujarnya.
Hasil restrukturisasi itu mulai terlihat pada 2024–2025 melalui AI Overviews, AI Mode, dan penguatan Gemini lintas format. Brin sendiri mengakui nilai pendekatan jangka panjang tersebut. “Saya pikir kami masih mendapat manfaat dari sejarah panjang itu,” katanya dalam sebuah acara di Universitas Stanford.
Menjelang akhir 2025, Gemini mencatat lebih dari 650 juta pengguna bulanan. Peluncuran Gemini 3 serta chip Ironwood memperkuat posisi Google, bahkan memicu pembicaraan penjualan chip ke Meta—sebuah sinyal bahwa keseimbangan kekuatan di industri AI global tengah bergeser. Dalam memo Desember, Pichai menutup tahun dengan nada optimistis, “Kami mengakhiri 2025 dalam posisi yang sangat kuat. Melihat kembali ke setahun lalu, kemajuannya sungguh luar biasa.”

Kasus Hantavirus di Indonesia, Kemenkes: Saat ini Ada 2 Kasus Suspek di Jakarta dan Yogyakarta
14 Spot Gudeg di Bandung dengan Cita Rasa Khas Yogyakarta yang Autentik dan Menggugah Selera
Jadwal Persipura vs Adhyaksa FC Play-Off Promosi Super League, Siaran Langsung, dan Live Streaming
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
Pertandingan Perpisahan Bruno Moreira? Kapten Persebaya Surabaya Kirim Sinyal Emosional Jelang Lawan Persis Solo
12 Kuliner Tahu Campur Paling Enak di Surabaya dengan Kuah Petis Kental yang Selalu Jadi Favorit Warga Lokal hingga Wisatawan
11 Kuliner Gudeg Paling Recomended di Surabaya dengan Harga Murah Meriah Tapi Rasa Tidak Murahan
15 Oleh-oleh Paling Ikonik dan Khas dari Kota Surabaya, Rasanya Autentik dan Tiada Duanya, Wajib Kamu Bawa Pulang!
7 Hidden Gem Kuliner Sunda di Bogor yang Enak dan Wajib Dicoba, Suasana Asri dan Menunya Autentik
12 Rekomendasi Kuliner Malam di Surabaya dengan View Terbaik untuk Nongkrong Santai dan Pemandangan yang Memukau
