
Ilustrasi cairnya es di kutub utara terkait pemanasan global menjadi perhatian kalangan ilmuwan dunia
JawaPos.com - Kutub Utara sedang tidak baik-baik saja. Laporan terbaru dari Badan Administrasi Kelautan dan Atmosfer Nasional AS (NOAA) mengungkap fakta bahwa Arktik baru saja melewati tahun terpanasnya sepanjang sejarah.
Lebih mengkhawatirkan lagi, kecepatan pemanasan di wilayah ini jauh melampaui bagian dunia lainnya. Sejak 2006, suhu di Arktik melonjak dua kali lebih cepat dibandingkan rata-rata global. Ini bukan lagi sekadar prediksi, melainkan krisis nyata yang tertangkap data satelit.
Arktik sebagai "Detak Jantung" Planet
Laporan tahunan Arctic Report Card yang dikutip dari CBS News, Selasa (23/12) mengungkap, para ahli menyebut kawasan ini sebagai indikator vital kesehatan Bumi. Perubahan drastis di sana adalah sinyal bahwa keseimbangan iklim dunia sedang terganggu.
"Mengamati Arktik berarti mengukur denyut nadi planet ini,” tulis ringkasan laporan NOAA tersebut. Pemanasan ekstrem ini mengubah segalanya, mulai dari bentang alam hingga nasib masyarakat lokal yang tinggal di ujung utara dunia.
Laut Memanas dan Rekor Es Terendah
Suhu permukaan laut Arktik benar-benar melonjak tajam. Data periode Oktober 2024 hingga September 2025 menunjukkan suhu air mencapai 13 derajat Fahrenheit di atas rata-rata normal (periode 1991–2020). Angka ini merupakan yang tertinggi sejak pencatatan dimulai tahun 1900.
Akibatnya, es laut terus menyusut ke titik yang mengkhawatirkan:
- Maret 2025: Luas es musim dingin mencapai titik terendah dalam 47 tahun.
- September 2025: Luas es minimum tahunan tercatat sebagai yang terendah ke-10 dalam sejarah.
- Tren Buruk: Tercatat 19 rekor luas es terendah semuanya terjadi dalam 19 tahun terakhir secara berturut-turut.
Fenomena "Arctic Amplification" yang Mengubah Daratan
Pemanasan ini tidak hanya terjadi di laut, tapi juga di udara. Musim gugur 2024 menjadi yang terpanas, disusul musim dingin 2025 di posisi kedua. Fenomena yang dikenal sebagai Arctic amplification ini membuat kutub utara berubah warna.
Dahulu, wilayah ini didominasi es putih dan tanah beku (permafrost). Kini, karena musim panas yang lebih panjang, tanaman mulai tumbuh subur di wilayah tundra. Meski terlihat hijau dan indah, fenomena ini justru merusak keseimbangan alam karena mencairnya lapisan tanah purba.
Dampak Global: Banjir Hingga Tsunami

14 Kuliner Malam Bandung yang Paling Enak dan Selalu Ramai hingga Larut Malam dengan Suasana Seru dan Rasa Lezat
Bocoran Soal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026
Jika Persija Jakarta Gagal Juara, The Jakmania Punya Kesempatan Melihat Bobotoh Menangis
Tak Peduli Larangan ke Jepara, The Jakmania Sebut Kebiasaan atau Takut Main di Jakarta saat Persija Jamu Persib
18 Rekomendasi Kuliner di Tangerang untuk Keluarga, Tempat Makan Favorit dari Tradisional sampai Modern
Persebaya Surabaya Rayakan Kembalinya Bruno Moreira, Bonek Kompak Satu Suara
Pesan Haru Milos Raickovic ke Bonek! Gelandang Persebaya Surabaya Sudah Berikan Segalanya Musim Ini
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Korban Dicekoki Miras Hingga Tak Sadar, Pelaku Pemerkosaan Cipondoh Masih Dicari
Link Live Streaming Semifinal Uber Cup 2026 Indonesia vs Korea Selatan dan Line-up Pertandingan
