
Logo perusahaan teknologi global Google (Engadget)
JawaPos.com - Google kembali menempatkan diri di garis depan aksi iklim global dengan memimpin sebuah koalisi perusahaan besar untuk menekan emisi zat‑zat pemicu pemanasan bumi yang dikenal sebagai superpolutan. Langkah ini tidak hanya bersifat simbolis, tetapi sekaligus menempatkan Google di posisi sentral untuk mempercepat upaya mitigasi perubahan iklim selama dekade yang menentukan.
Dilansir dari Engadget, Jumat (6/3/2026), Google mengumumkan akan menyediakan dana setidaknya USD 50 juta hingga 2030 untuk mendukung proyek‑proyek yang secara khusus bertujuan menghapus superpolutan dari atmosfer. Nilai tersebut setara sekitar Rp 846 miliar dengan kurs Rp 16.920 per USD. Komitmen ini muncul sebagai bagian dari pembentukan Superpollutant Action Initiative, sebuah koalisi baru yang melibatkan sejumlah raksasa global seperti Amazon, Salesforce, Autodesk, Figma, JPMorgan Chase, dan Workday.
Koalisi itu secara kolektif telah mengalokasikan total USD 100 juta (sekitar Rp 1,69 triliun) kepada proyek‑proyek yang menargetkan pengurangan superpolutan seperti metana, karbon hitam, dan gas refrigeran yang dianggap bertanggung jawab hampir setengah dari pemanasan planet hingga saat ini.
Menurut Randy Spock, pemimpin divisi carbon credits and removals Google, pendekatan ini dipilih karena efek zat‑zat tersebut pada pemanasan global jauh lebih kuat ketimbang karbon dioksida meski memiliki masa tinggal yang lebih pendek di atmosfer.
Spock menyatakan, "Superpolutan merupakan bagian utama dalam upaya membatasi pemanasan atmosfer. Para ahli sepakat bahwa menguranginya sebisa mungkin adalah salah satu langkah paling efektif untuk memberikan dampak jangka pendek sekaligus memainkan peran penting yang melengkapi pengurangan CO₂."
Karena itu, superpolutan seperti metana mampu menjebak panas jauh lebih efisien dibandingkan karbon dioksida (CO₂), sehingga pengurangannya dapat memperlambat laju kenaikan suhu dalam waktu lebih singkat. Koalisi tersebut memperkirakan bahwa aksi agresif terhadap superpolutan dapat mencegah kenaikan suhu global lebih dari 0,5 °C sebelum 2050, yang menjadi target penting dalam skenario pembatasan perubahan iklim global.
Inisiatif ini juga menunjukkan pergeseran strategis di antara korporasi besar dari fokus dominan pada pengurangan CO₂ saja menuju pengakuan bahwa zat‑zat dengan dampak pemanasan jangka pendek juga layak diatasi demi hasil yang lebih cepat dan signifikan. Hal ini dipandang sebagai komplementer terhadap upaya pengurangan emisi karbon yang sudah berjalan.
Namun, meskipun inisiatif ini mendapatkan pujian dari banyak analis iklim, beberapa pengamat iklim global menilai bahwa investasi USD 100 juta perlu diikuti dengan kebijakan publik yang lebih kuat dan langkah nyata di tingkat pemerintahan serta masyarakat sipil untuk mencapai hasil yang komprehensif. Konteksnya, sebagian besar emisi masih berasal dari sektor energi, pertanian, dan industri berat di berbagai negara.
Selain itu, manfaat pengurangan superpolutan tidak hanya dirasakan dalam konteks iklim. Para peneliti lingkungan mengamati bahwa penurunan konsentrasi zat‑zat ini berpotensi meningkatkan kualitas udara dan menurunkan angka penyakit pernapasan serta kematian dini akibat polusi udara, terutama di kawasan padat penduduk.
Inisiatif ini menunjukkan bagaimana sektor swasta dapat memanfaatkan modal dan teknologi untuk memberikan dampak nyata dalam pengurangan zat‑zat pemicu pemanasan, sambil memberi tekanan tambahan kepada pembuat kebijakan global untuk memperkuat aksi iklim dalam forum‑forum internasional yang sedang berjalan.
