Pemandangan Andong Hahoe Folk Village di Provinsi Gyeongsangbuk-do, Korea Selatan
JawaPos.com - Andong Hahoe Folk Village di Provinsi Gyeongsangbuk-do, Korea Selatan, menjadi salah satu desa tradisional yang berhasil mempertahankan warisan budaya Dinasti Joseon hingga masa modern. Desa ini dikenal sebagai tempat tinggal klan Ryu dari Pungsan, keluarga bangsawan yang sudah menetap sejak abad ke-14. Seperti dilansir dari KR Web Magazine, desa ini tidak hanya berfungsi sebagai objek wisata, tetapi juga sebagai komunitas hidup yang menjaga warisan leluhur mereka.
Nama 'Hahoe' sendiri memiliki arti 'berputar dan mengalir', menggambarkan bentuk Sungai Nakdong yang melingkari desa dalam lekukan berbentuk huruf S. Menurut laporan Aju Press, formasi alam ini dianggap mencerminkan keseimbangan antara manusia dan lingkungan, nilai yang menjadi dasar filosofi masyarakat Hahoe selama berabad-abad.
Arsitektur desa ini juga menjadi daya tarik tersendiri. Rumah beratap genteng (giwajip) dihuni oleh keluarga bangsawan, sedangkan rumah beratap jerami (chogajip) ditempati oleh rakyat biasa. Perbedaan ini bukan hanya menunjukkan status sosial, tetapi juga mencerminkan ajaran Konfusianisme tentang tatanan dan harmoni sosial.
Keunikan lainnya dapat ditemukan dalam tradisi kesenian rakyat yang masih dilestarikan hingga kini. Pertunjukan topeng Hahoe Byeolsingut Talnori merupakan tari ritual kuno untuk menghormati roh pelindung desa. Seiring waktu, pertunjukan ini berkembang menjadi media hiburan dan kritik sosial yang mencerminkan kehidupan masyarakat feodal di masa lalu.
Di tengah desa, berdiri pohon zelkova raksasa berusia lebih dari 600 tahun yang dianggap sakral oleh penduduk setempat. Pohon ini dipercaya sebagai penjaga spiritual desa dan sering dijadikan tempat berdoa untuk keberkahan. Pohon ini menjadi simbol keabadian tradisi, sekaligus saksi bisu dari perjalanan panjang masyarakat Hahoe menjaga warisan budaya mereka.
Beberapa bangunan bersejarah juga menjadi bukti nyata kekayaan budaya desa ini. Rumah leluhur seperti Chunghyodang dan Yangjindang milik keluarga Ryu dilindungi sebagai Harta Nasional. Di dalamnya tersimpan catatan sejarah dan peninggalan Ryu Seong-ryong, seorang sarjana besar Joseon, yang dikenal melalui karya tulisnya Jingbirok. Hal ini menjadi bagian dari upaya pemerintah untuk melestarikan peninggalan arsitektur tradisional.
Meski menjadi destinasi wisata terkenal, Hahoe tetap berfungsi sebagai pemukiman aktif dengan sekitar 150 keluarga yang tinggal di dalamnya. Aktivitas seperti bertani, membuat kerajinan, dan upacara adat masih dilakukan sehari-hari. Pemerintah menetapkan aturan ketat agar renovasi bangunan tidak merusak nilai sejarah desa, menjaga keseimbangan antara kehidupan modern dan pelestarian budaya.
Pada tahun 2010, Andong Hahoe Folk Village resmi diakui sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO. Pengakuan ini membawa perhatian internasional terhadap nilai sejarah dan budaya desa tersebut. Namun, seperti dilaporkan The Korea Times, status UNESCO juga menimbulkan tantangan baru, terutama dalam mengendalikan jumlah wisatawan agar tidak mengancam kelestarian situs bersejarah ini.
Pemerintah daerah bersama warga akhirnya membuat kebijakan pembatasan pengunjung harian untuk menjaga keseimbangan lingkungan dan budaya. Batas maksimal sekitar 5.000 wisatawan per hari diberlakukan agar infrastruktur dan arsitektur desa tidak rusak akibat lonjakan kunjungan wisata.
Meskipun menghadapi tantangan modernisasi, warga Hahoe tetap berkomitmen mempertahankan nilai-nilai tradisional mereka. Masyarakat desa masih menjunjung tinggi ajaran Konfusianisme, menghormati leluhur, dan menjaga kehidupan harmonis dengan alam. Andong Hahoe Folk Village pun menjadi simbol nyata bagaimana tradisi dan kemajuan dapat berjalan berdampingan tanpa kehilangan jati diri budaya.

Pertandingan Perpisahan Bruno Moreira? Kapten Persebaya Surabaya Kirim Sinyal Emosional Jelang Lawan Persis Solo
11 Kuliner Gudeg Paling Recomended di Surabaya dengan Harga Murah Meriah Tapi Rasa Tidak Murahan
Mengenal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026: Aturan, Materi, dan Ambang Batas
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
Prediksi Skor Bayern Munchen vs PSG: Siapa yang akan Bertemu Arsenal di Final Liga Champions?
14 Spot Gudeg di Bandung dengan Cita Rasa Khas Yogyakarta yang Autentik dan Menggugah Selera
7 Hidden Gem Kuliner Sunda di Bogor yang Enak dan Wajib Dicoba, Suasana Asri dan Menunya Autentik
13 Gudeg Paling Enak di Solo dengan Harga Terjangkau, Rasa Premium, Cocok untuk Kulineran Bareng Keluarga!
12 Rekomendasi Kuliner Malam di Surabaya dengan View Terbaik untuk Nongkrong Santai dan Pemandangan yang Memukau
Prediksi Skor Bayern Munchen vs PSG: Sejarah Die Roten Selalu Lolos dari Semifinal Liga Champions, Masih Dominan Lawan Klub Ligue 1
