
Ilustrasi Revolusi Filipina, gerakan perlawanan rakyat terhadap kolonialisme. (1898 Miniaturas)
JawaPos.com - Revolusi Filipina merupakan gerakan perlawanan terhadap kolonialisme yang dilakukan Spanyol sejak tahun 1565.
Revolusi Filipina terbagi menjadi dua fase besar yaitu, fase pertama dimulai dengan deklarasi perlawanan terhadap kekuasaan Spanyol pada 23 Agustus 1896 hingga tercapainya gencatan senjata pada Desember 1897, dan fase kedua berlangsung setelah kembalinya para pemimpin revolusi dari pengasingan hingga pecahnya Perang Filipina-Amerika pada Februari 1899.
Dikutip dari National Commission for Culture and the Arts (NCCA), selama lebih dari tiga abad, rakyat Filipina hidup di bawah sistem kolonial yang represif dan eksploitatif.Pemerintah Spanyol menerapkan pemerintahan yang tidak adil dan menindas penduduk pribumi, yang dikenal sebagai Indios.
Berbagai pemberontakan kecil telah muncul sepanjang masa penjajahan, namun semuanya gagal hingga akhirnya pada 23 Agustus 1896, rakyat Filipina bangkit dalam peristiwa bersejarah yang dikenal sebagai “Cry of Pugadlawin”.
Pada hari itu, di pinggiran Manila, sekelompok anggota organisasi rahasia Katipunan yang dipimpin oleh pendirinya, Andres Bonifacio, berkumpul dan merobek cedulas (tanda identitas pajak) mereka sebagai simbol penolakan terhadap kekuasaan Spanyol dan tekad untuk berjuang demi kemerdekaan.
Akar Nasionalisme dan Peran Tokoh Reformasi
Menurut NCCA, salah satu peristiwa yang memicu lahirnya Revolusi Filipina terjadi pada 17 Februari 1872, ketika tiga imam gereja Filipina dieksekusi dengan cara garrote karena dituduh terlibat dalam pemberontakan militer di Cavite.
Tuduhan tersebut direkayasa oleh pihak Spanyol, yang memanfaatkan peristiwa ini untuk menyingkirkan para imam yang dianggap radikal atau berhaluan nasionalis.
Peristiwa tragis ini membangkitkan kesadaran nasional di kalangan rakyat Filipina, terutama pada dekade 1880-an hingga 1890-an, dengan munculnya gerakan propaganda yang dilakukan baik di Filipina maupun di Spanyol. Tujuan gerakan ini adalah untuk memperjuangkan reformasi sosial, politik, dan ekonomi melalui cara damai.
Dikutip dari Library of Congress, salah satu tokoh paling berpengaruh dalam gerakan ini adalah José Rizal, yang lahir pada tahun 1861 dari ayah Filipina dan ibu keturunan Tionghoa.
Meski berasal dari keluarga berada, Rizal tetap mengalami diskriminasi karena bukan keturunan Spanyol. Berkat latar belakang keluarganya, Rizal mampu menempuh pendidikan tinggi di Manila, Madrid, hingga Jerman.
Pada tahun 1887, ia menerbitkan novel berjudul Noli Me Tangere (Sentuh Aku Jangan), yang menggugah nasionalisme rakyat Filipina dengan mengkritik keras peran Gereja Katolik dalam memperkuat kolonialisme Spanyol.
Namun, gerakan propaganda yang dipimpin oleh kaum intelektual atau ilustrados gagal. Kegagalan inilah yang kemudian mendorong lahirnya Katipunan, sebuah organisasi rahasia yang didirikan pada 7 Juli 1892 oleh mereka yang telah kehilangan harapan terhadap pemerintahan kolonial.
Katipunan berkembang pesat di wilayah Manila dan Luzon Tengah, menjadi wadah perjuangan rakyat untuk kemerdekaan sejati.
Pecahnya Revolusi dan Peran Bonifacio

Pertandingan Perpisahan Bruno Moreira? Kapten Persebaya Surabaya Kirim Sinyal Emosional Jelang Lawan Persis Solo
11 Kuliner Gudeg Paling Recomended di Surabaya dengan Harga Murah Meriah Tapi Rasa Tidak Murahan
Mengenal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026: Aturan, Materi, dan Ambang Batas
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
Prediksi Skor Bayern Munchen vs PSG: Siapa yang akan Bertemu Arsenal di Final Liga Champions?
14 Spot Gudeg di Bandung dengan Cita Rasa Khas Yogyakarta yang Autentik dan Menggugah Selera
7 Hidden Gem Kuliner Sunda di Bogor yang Enak dan Wajib Dicoba, Suasana Asri dan Menunya Autentik
13 Gudeg Paling Enak di Solo dengan Harga Terjangkau, Rasa Premium, Cocok untuk Kulineran Bareng Keluarga!
12 Rekomendasi Kuliner Malam di Surabaya dengan View Terbaik untuk Nongkrong Santai dan Pemandangan yang Memukau
Prediksi Skor Bayern Munchen vs PSG: Sejarah Die Roten Selalu Lolos dari Semifinal Liga Champions, Masih Dominan Lawan Klub Ligue 1
