Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 30 September 2025 | 02.40 WIB

Tradisi Ekstrem Lembah Omo: Mengapa Perempuan Suku Mursi Merenggangkan Bibirnya?

Para perempuan Suku Mursi (Dok. Debonairafrik)

JawaPos.com - Di Lembah Omo, Ethiopia Selatan, perempuan dari suku Mursi menjalani tradisi ekstrem yang telah menjadi identitas budaya mereka selama berabad-abad, yaitu merenggangkan bibir bawah untuk menampung pelat tanah liat berukuran besar. Tradisi ini bukan sekadar ornamen tubuh, melainkan simbol kecantikan, kekuatan, dan harga diri dalam masyarakat Mursi.

Ritual ini dimulai saat seorang gadis Mursi berusia sekitar 14 hingga 15 tahun. Bibir bawahnya akan diiris dan empat gigi bawah dicabut, lalu dimasukkan pelat kecil dari tanah liat. Seiring waktu, pelat tersebut diganti dengan ukuran yang lebih besar, hingga bisa mencapai diameter 12–15 cm. 
 
Menurut situs Timeless Ethiopia, pelat bibir menandai bahwa seorang perempuan telah memasuki usia dewasa dan siap menikah. Ukuran pelat bahkan memengaruhi jumlah mahar berupa sapi yang akan diberikan kepada keluarga perempuan.
 
 
Meski terlihat ekstrem bagi dunia luar, pelat bibir dianggap sebagai lambang kecantikan dan status sosial.
 
"Pelat bibir adalah simbol kecantikan dan kelayakan untuk menikah dalam suku Mursi," tulis Timeless Ethiopia dalam ulasannya.
 
Tradisi ini juga diyakini sebagai bentuk ekspresi diri dan kebanggaan perempuan Mursi terhadap warisan budaya mereka. Namun, asal-usul tradisi masih menjadi perdebatan.
 
Beberapa teori menyebut bahwa pelat bibir dulunya digunakan untuk membuat perempuan terlihat tidak menarik bagi penjajah atau pemburu budak. Meski teori ini telah dibantah, makna pelat bibir tetap kuat dalam komunitas Mursi.
 
Situs School for Africa menyebut bahwa "tujuan utama pelat bibir adalah sebagai objek kecantikan, meskipun dalam beberapa catatan disebut juga sebagai cara untuk menghindari penangkapan oleh perampok."
 
Selain pelat bibir, perempuan Mursi juga mengenakan pelat tanah liat di telinga dan melakukan skarifikasi di bagian perut dan lengan. Skarifikasi ini bukan sekadar estetika, tetapi juga menandakan asal-usul klan dan status pernikahan. 
 
Dalam kehidupan sehari-hari, perempuan Mursi mengenakan kulit kambing atau selimut yang diikat di pinggul, serta perhiasan dari logam dan tulang hewan.
Tradisi ini masih bertahan di tengah arus modernisasi dan tekanan dari pemerintah Ethiopia yang berupaya membatasi praktik pelat bibir. 
 
Beberapa perempuan muda memilih untuk tidak mengikuti ritual ini, meski keputusan tersebut bisa berdampak pada status sosial mereka. Meski demikian, pelat bibir tetap menjadi simbol kuat dari warisan budaya yang bertahan di tengah perubahan zaman.
 
Bagi perempuan Mursi, pelat bibir bukan sekadar tradisi, melainkan lambang keberanian, kecantikan, dan kebanggaan akan identitas mereka. Sebuah pengingat bahwa standar estetika tidak bersifat universal, dan bahwa keindahan bisa lahir dari rasa sakit, keteguhan, dan sejarah panjang sebuah komunitas.
 
Editor: Candra Mega Sari
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore