
Ribuan orang berkumpul dan saling melempar bubuk warna saat perayaan Festival Holi 2025 di India, menciptakan lautan manusia penuh keceriaan dan simbol persatuan(Dok. AP News )
JawaPos.com - Festival Holi kembali mewarnai India dengan gegap gempita. Ribuan orang turun ke jalan dengan wajah dan pakaian penuh warna, saling melempar bubuk dan air berpigmen.
Laporan dari Associated Press menggambarkan bagaimana festival ini menjadi momen penting bagi masyarakat Hindu untuk merayakan tibanya musim semi dan merajut kembali semangat persatuan. Holi dianggap bukan hanya pesta rakyat, melainkan simbol kebersamaan dan kemenangan kebaikan, sehingga setiap tahunnya menarik tidak hanya masyarakat lokal tetapi juga wisatawan mancanegara yang ingin merasakan langsung pengalaman penuh warna ini.
Di balik keceriaan yang tampak di jalanan, Holi memiliki akar religius yang mendalam. Salah satu mitologi utama yang melatarbelakangi perayaan ini adalah kisah Prahlad dan Holika, yang melambangkan kemenangan iman atas keserakahan dan kejahatan.
Malam sebelum Holi, masyarakat India mengadakan tradisi Holika Dahan, yaitu menyalakan api unggun besar yang merepresentasikan musnahnya kejahatan. Ritual ini menunjukkan bahwa Holi tidak hanya menekankan aspek visual yang meriah, tetapi juga menyimpan pesan spiritual yang kuat bagi masyarakat.
Tradisi lempar warna yang paling terkenal sebenarnya memiliki makna sosial yang lebih luas. Pada hari Holi, sekat-sekat sosial yang biasanya membatasi interaksi di India, seperti perbedaan kasta dan status, cenderung melebur. Orang-orang yang biasanya jarang berinteraksi bisa tertawa bersama, bernyanyi, dan saling melempar warna. Fenomena ini menjadikan Holi sebuah perayaan unik yang mampu mencairkan ketegangan sosial, meski hanya sementara, sekaligus memperlihatkan bagaimana budaya dapat mempersatukan masyarakat dalam keragaman yang begitu kompleks.
Selain itu, Holi juga memiliki aspek ilmiah yang sering dilupakan banyak orang. Melansir dari laman Google Arts & Culture, pigmen warna pada awalnya berasal dari bahan alami seperti bunga kering, kunyit, dan biji-bijian. Warna alami ini tidak hanya menghasilkan nuansa cerah, tetapi juga aman bagi kulit dan lebih ramah lingkungan.
Tradisi penggunaan bahan alami ini menegaskan bahwa Holi pada dasarnya sejalan dengan prinsip keberlanjutan. Namun, seiring berjalannya waktu dan modernisasi, penggunaan warna sintetis semakin meluas, terutama di kota-kota besar yang menuntut kemudahan dan harga murah.
Masalah muncul ketika pewarna sintetis ini menimbulkan risiko kesehatan maupun lingkungan. Bubuk buatan pabrik dapat menyebabkan iritasi kulit, gangguan pernapasan, bahkan mencemari sumber air setelah festival selesai. Hal ini menimbulkan keprihatinan di kalangan komunitas ilmiah dan pemerhati lingkungan.
Perayaan yang semestinya menjadi lambang kebahagiaan berpotensi menimbulkan dampak buruk jika tidak dikelola dengan bijak. Karena itu, ada upaya untuk mengembalikan tradisi warna alami sekaligus mengedukasi masyarakat tentang pentingnya menjaga kesehatan dan lingkungan saat merayakan Holi.
Tahun 2025 menjadi momentum penting dengan semakin banyak kampanye "Holi hijau" yang digagas oleh komunitas lokal dan pemerintah daerah. Di sejumlah kota besar, penyelenggara mulai menyediakan warna berbahan dasar alami, mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, dan memberikan penyuluhan tentang bahaya bahan kimia berlebihan. Langkah ini disambut positif oleh masyarakat, terutama generasi muda yang lebih sadar akan isu lingkungan. Kehadiran Holi hijau menunjukkan bahwa tradisi dapat terus dijalankan tanpa harus mengorbankan kesehatan manusia maupun alam.
Meski fokus utama Holi adalah warna, festival ini juga kaya dengan tradisi kuliner yang menambah daya tariknya. Masyarakat India menyiapkan hidangan khas seperti gujiya, kue manis berisi kacang dan buah kering, serta thandai, minuman segar berbahan susu dan rempah. Makanan-makanan ini tidak hanya melengkapi pesta warna, tetapi juga mempererat hubungan keluarga dan komunitas. Tradisi kuliner Holi menjadikan festival ini pengalaman multisensorik yang menggabungkan kegembiraan visual, rasa, dan kehangatan sosial.
Tidak hanya masyarakat Hindu di India, diaspora India di berbagai belahan dunia juga merayakan Holi dengan semangat yang sama. Di kota-kota besar seperti London, New York, dan Singapura, Holi diadaptasi menjadi acara publik yang menarik minat orang dari berbagai latar belakang. Perayaan global ini, memperlihatkan bagaimana Holi telah melampaui batas geografis dan agama untuk menjadi simbol universal kegembiraan serta keberagaman budaya. Holi pun menjadi salah satu festival India yang paling dikenal di kancah internasional.
Meski demikian, tantangan tetap ada dalam menjaga keseimbangan antara tradisi dan modernitas. Pentingnya kesadaran masyarakat untuk kembali pada bahan alami dan ramah lingkungan, sekaligus menjaga makna spiritual dan sosial dari festival. Sementara itu, Holi terus beradaptasi dengan perubahan zaman, termasuk di tengah isu lingkungan, urbanisasi, dan globalisasi. Perayaan ini membuktikan bahwa tradisi tidak harus statis, melainkan bisa bertransformasi sesuai kebutuhan masyarakat.
Akhirnya, Holi tidak hanya dipandang sebagai ritual keagamaan, tetapi juga sebagai perayaan universal kehidupan. Festival ini adalah ajang untuk menghormati keberagaman, merayakan musim semi, dan menegaskan pentingnya harmoni antara manusia dan alam.
Dengan pengaruh global yang semakin besar, Holi kini menjadi simbol warna-warni kehidupan yang mampu menyatukan orang-orang dari berbagai latar belakang. Holi terus berkembang menjadi lebih dari sekadar festival, melainkan sebuah pesan bahwa kebahagiaan, kebersamaan, dan keberlanjutan dapat berjalan seiringan.

10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
Koperasi Desa Merah Putih di Pakuhaji Sepi dan Bangunan Sederhana, Dinkop UMKM Tangerang: Tidak Dibangun dari Dana Agrinas
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
Kemendiktisaintek Ubah Nama Prodi Teknik jadi Rekayasa, ini Daftarnya
12 Rekomendasi Mall Terbaik di Tangerang 2026: Destinasi Belanja, Kuliner & Lifestyle Favorit
Update Klasemen Usai MotoGP Catalunya 2026: Jorge Martin Gigit Jari, Bezzecchi Masih Tak Tersentuh
Jadwal Moto3 Catalunya 2026: Veda Ega Pratama Siap Jaga Konsistensi di Barcelona
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
Sekjen Laskar Merah Putih Minta Presiden Perhatikan Para Jaksa: Mereka Belum Dapat Apresiasi yang Proporsional
Jadwal dan Link Live Streaming Moto3 Catalunya 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama Start P20
