Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 17 Mei 2025 | 05.39 WIB

Gandeng AS, UEA Bangun Kampus Kecerdasan Buatan Terbesar di Abu Dhabi

Presiden AS Donald Trump bertemu dengan Presiden Uni Emirat Arab Sheikh Mohamed bin Zayed Al Nahyan di Qasr Al Watan, Abu Dhabi, Uni Emirat Arab, 15 Mei 2025 (Dok. REUTERS/Brian Snyder) - Image

Presiden AS Donald Trump bertemu dengan Presiden Uni Emirat Arab Sheikh Mohamed bin Zayed Al Nahyan di Qasr Al Watan, Abu Dhabi, Uni Emirat Arab, 15 Mei 2025 (Dok. REUTERS/Brian Snyder)

JawaPos.com - Uni Emirat Arab (UEA) dan Amerika Serikat (AS) resmi menandatangani kesepakatan untuk membangun kampus kecerdasan buatan (AI) terbesar di dunia di Abu Dhabi. Langkah strategis ini sebelumnya sempat terhambat karena kekhawatiran Washington terhadap potensi akses teknologi oleh Tiongkok.

Meski belum dijelaskan secara rinci jenis chip AI buatan Nvidia atau perusahaan lain yang akan digunakan dalam pusat data tersebut, sejumlah sumber menyebutkan bahwa kesepakatan ini akan membuka akses lebih luas bagi UEA terhadap chip-chip AI canggih.

Kesepakatan besar ini disahkan saat kunjungan Presiden AS, Donald  Trump, ke Abu Dhabi dan menjadi kemenangan penting bagi UEA yang selama ini berupaya menjaga keseimbangan hubungan antara sekutu lamanya AS dan mitra dagang terbesarnya, Tiongkok. Pemerintahan Trump menyatakan yakin bahwa penggunaan chip tersebut dapat diawasi secara aman dengan mengharuskan pusat data dikelola oleh perusahaan-perusahaan AS.

UEA yang merupakan produsen minyak utama, telah menggelontorkan miliaran dolar demi menjadi pemain global dalam bidang AI. Namun, hubungan dekat negara itu dengan Tiongkok sebelumnya membatasi akses terhadap teknologi chip asal AS selama pemerintahan Presiden Joe Biden.

Baca Juga: Chelsea FC Bangun Menara Apartemen Mewah Bertema Sepak Bola di Dubai, Siap Hadirkan 1.400 Unit Hunian

Gedung Putih menjelaskan bahwa kesepakatan ini mencakup komitmen UEA untuk berinvestasi, membangun, atau mendanai pusat data AS dengan kapasitas setara atau lebih besar dari yang dibangun di UEA. Selain itu, terdapat komitmen bersejarah untuk menyelaraskan regulasi keamanan nasional UEA dengan AS, termasuk perlindungan ketat terhadap penyalahgunaan teknologi asal AS.

Melansir dari Reuters, UEA akan diizinkan mengimpor hingga 500 ribu chip AI tercanggih buatan Nvidia per tahun mulai 2025. Nvidia menolak memberikan komentar, sementara Kementerian Luar Negeri UEA belum merespons permintaan informasi.

Salah satu inti kesepakatan ini adalah pembangunan kampus AI seluas 25,9 kilometer di Abu Dhabi dengan kapasitas listrik sebesar 5 gigawatt untuk pusat data AI.

"Kapasitas ini lebih besar dari semua pengumuman infrastruktur AI utama lainnya sejauh ini," kata analis Rand Corporation Lennart Heim di platform X, seperti dikutip Reuters, Jumat (16/5).

Ia memperkirakan daya sebesar itu cukup untuk mendukung 2,5 juta unit chip B200 Nvidia.

Baca Juga: Keterlambatan Presiden FIFA saat Kongres Tahunan Membuat Sejumlah Delegasi Melakukan Walk-Out

Pembangunan kampus ini akan dilakukan oleh G42, perusahaan milik negara UEA. Namun, Menteri Perdagangan AS Howard Lutnick menyatakan bahwa pusat data akan dioperasikan oleh perusahaan-perusahaan Amerika dan menyediakan layanan cloud yang dikelola oleh AS di seluruh kawasan.

Diketahui, Perusahaan chip Qualcomm juga akan membangun pusat rekayasa terkait AI, dan Amazon Web Services (AWS) akan bekerja sama dengan mitra lokal untuk pengembangan keamanan siber dan adopsi layanan cloud di wilayah tersebut.

Melansir Guardian, selama bertahun-tahun AS telah menjalankan kebijakan proteksi untuk membatasi akses Tiongkok terhadap chip semikonduktor canggih, termasuk mencegah teknologi tersebut jatuh ke tangan Beijing melalui negara ketiga.

Namun, di bawah pemerintahan Trump, kebijakan tersebut mulai dilonggarkan. Penasihat AI Gedung Putih, David Sacks, menyatakan di Riyadh bahwa pengendalian ekspor era Biden.

Baca Juga: Menlu Israel Gideon Sa'ar Didemo Warga saat ke Jepang, Dicap Sebagai 'Penjahat Perang'

"tidak pernah dimaksudkan untuk menargetkan negara sahabat, sekutu, atau mitra strategis." ujarnya

Isu kecerdasan buatan (AI) juga menjadi pembahasan utama saat Sheikh Mohamed bin Zayed mengunjungi Washington, DC pada Desember 2024 lalu di akhir masa jabatan Presiden Biden.

Dua perusahaan milik negara UEA, G42 dan MGX, yang menjadi ujung tombak investasi AI negara itu, telah berinvestasi di perusahaan teknologi AS seperti OpenAI dan xAI milik Elon Musk. Sementara itu, Microsoft juga sepakat menanamkan investasi senilai USD 1,5 miliar ke G42 pada 2024.

Kedua perusahaan tersebut menyebut kesepakatan ini telah melalui jaminan keamanan, dan sebagai respons terhadap tekanan AS, G42 juga telah mencopot perangkat keras buatan Tiongkok dan menjual sejumlah investasinya di negara tersebut.

Namun demikian, perusahaan teknologi besar asal Tiongkok seperti Huawei dan Alibaba Cloud masih memiliki kehadiran signifikan di UEA. Melansir dari Reuters, UEA sempat menjadi salah satu jalur penyelundupan chip AI ke Tiongkok, bersama dengan Malaysia dan Singapura. (*)

Editor: Siti Nur Qasanah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore