Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 20 Februari 2024 | 14.56 WIB

Kematian Musuh Kremlin, Alexei Navalny Memicu Kemarahan Barat

Tugu peringatan sementara untuk Alexei Navalny berada di luar konsulat Rusia di Montreal, Kanada. (AP-Yonhap) - Image

Tugu peringatan sementara untuk Alexei Navalny berada di luar konsulat Rusia di Montreal, Kanada. (AP-Yonhap)

JawaPos.com - Di saat kemarahan atas kematian musuh utama Kremlin, Alexei Navalny bergema di seluruh dunia. 

Presiden Rusia, Vladimir Putin menutup telinga terhadap kemarahan Barat ketika ia bersiap untuk memperpanjang masa pemerintahannya yang telah berlangsung selama 24 tahun dalam pemilihan umum bulan depan, sementara polisi di seluruh Rusia terus meredam upaya-upaya protes.

Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya sedang mempertimbangkan sanksi-sanksi baru terhadap Rusia atas kematian Navalny, dan tindakan Kremlin baru-baru ini di Ukraina. 

Namun, karena bantuan Amerika Serikat untuk Ukraina masih tertahan di Kongres dan sekutu NATO di Eropa berjuang guna mengisi kekosongan tersebut.

Banyak yang bertanya-tanya apa yang dapat dilakukan Barat untuk menghentikan pemimpin Kremlin yang kejam itu, mengingat beberapa putaran hukuman sebelumnya telah gagal.

Mark Galeotti, kepala perusahaan konsultan Mayak Intelligence yang berbasis di London, dalam sebuah komentar di YouTube menulis. Tidak ada ruang untuk sanksi tambahan yang bernilai besar terhadap Rusia, yang sudah menjadi salah satu negara yang paling banyak dijatuhi sanksi di dunia.

Sebaliknya Galeotti mengatakan, Barat seharusnya lebih fokus untuk bekerja sama dengan sekutu-sekutu Navalny, dan membantu masyarakat Rusia untuk mendapatkan akses ke saluran-saluran informasi yang melawan propaganda Kremlin.

Menurut Galeotti, upaya-upaya semacam itu adalah kunci terutama saat ini, yang menggambarkan kematian Navalny sebagai langkah lain dalam transisi Putin dari otoritarianisme hibrida menjadi despotisme preman yang brutal.

Sekutu Amerika Serikat dan NATO telah mempertimbangkan lebih banyak tindakan untuk meningkatkan dukungan bagi Ukraina, dimana militer Rusia baru saja memaksa pasukan Ukraina untuk mundur dari benteng pertahanan utama di bagian Timur, Avdiivka, setelah pertempuran sengit selama empat bulan. 

Sekutu mendiskusikan cara-cara untuk meningkatkan biaya perang ke Rusia untuk memaksa Putin mundur. Namun, pemimpin berusia 71 tahun itu telah bersumpah untuk terus maju, menolak untuk melepaskan semua keuntungannya. 

Putin juga menyatakan dalam sebuah wawancara dengan mantan pembawa acara Fox News, Tucker Carlson, pada pekan lalu, bahwa Barat akan cepat atau lambat dipaksa untuk menegosiasikan sebuah kesepakatan sesuai dengan keinginannya.

Mantan duta besar Inggris untuk Belarusia dan peneliti senior untuk Rusia serta Eurasia di International Institute for Strategic Studies di London, Nigel Gould-Davies menyatakan kematian Navalny menunjukkan kekejaman, dan penghinaan Putin terhadap opini Barat serta internasional. 

Rusia mengumumkan kematian Navalny pada hari Jumat (16/2), tepat pada saat para pemimpin Barat berkumpul di sebuah konferensi keamanan di Munich, Jerman.

"Putin memberikan tantangan kepada Barat. Menjelang ulang tahun kedua perang (Ukraina), dia kembali menguji tekad Barat," kata Gould-Davies.

Kematian Navalny seharusnya menjadi peringatan bagi para anggota Partai Republik Amerika Serikat yang menentang bantuan untuk Ukraina di Kongres, dan juga mendorong sekutu-sekutu NATO di Eropa untuk meningkatkan bantuan mereka kepada Ukraina.

Editor: Nicolaus Ade
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore