Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 8 November 2023 | 16.16 WIB

Tetap Menolak Gencatan Senjata, Benjamin Netanyahu Pertimbangkan Jeda Dalam Pertempuran di Gaza

Menteri Utama Israel Benjamin Netanyahu. (Doc/Abir Sultan) - Image

Menteri Utama Israel Benjamin Netanyahu. (Doc/Abir Sultan)

JawaPos.Com— Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu mengatakan pihaknya akan mempertimbangkan jeda dalam pertempuran di Gaza untuk memfasilitasi masuknya bantuan atau keluarnya sandera.

Namun, dirinya sekali lagi menolak seruan gencatan senjata umum meskipun ada tekanan internasional yang meningkat.

Dilansir melalui Reuters, Rabu (8/11), Dalam sebuah wawancara televisi AS, menurut Netanyahu, Israel memerlukan tanggung jawab keamanan atas wilayah di Palestina dalam jangka waktu yang tidak terbatas setelah perang.

Ketika ditanya tentang potensi jeda kemanusiaan dalam pertempuran, sebuah gagasan yang didukung oleh sekutu utama Israel yaitu Amerika Serikat, Netanyahu menyebutkan gencatan senjata secara umum akan menghambat upaya perang negaranya.

“Sejauh jeda taktis  satu jam di sini, satu jam di sana, kita sudah mengalaminya sebelumnya. Saya kira kita akan memeriksa keadaan untuk memungkinkan barang, barang kemanusiaan masuk atau sandera kita, sandera individu, untuk dibebaskan” kata Netanyahu kepada ABC News, Senin (6/11).

“Tetapi menurut saya tidak akan ada gencatan senjata secara umum.”imbuh Netanyahu.

Baik Israel maupun kelompok militan Hamas yang menguasai Gaza telah menolak tekanan internasional untuk melakukan gencatan senjata.

Israel mengatakan tawanan yang disandera oleh Hamas saat mereka mengamuk di Israel selatan pada 7 Oktober harus dibebaskan terlebih dahulu.

Namun, Hamas mengatakan mereka tidak akan membebaskan para sandera atau menghentikan pertempuran ketika Gaza sedang diserang.

Sejak serangan di mana Hamas menewaskan 1.400 orang di Israel dan menyandera lebih dari 240 orang, Israel telah menyerang Gaza dari udara, memberlakukan pengepungan dan melancarkan serangan darat, yang memicu kekhawatiran global terhadap kondisi kemanusiaan di wilayah tersebut.

Kementerian Kesehatan di wilayah yang dikuasai Hamas, mengatakan setidaknya 10.022 warga Palestina telah terbunuh, termasuk 4.104 anak-anak.

Organisasi-organisasi internasional mengatakan rumah sakit tidak dapat menangani korban luka, makanan serta air bersih hampir habis dan pengiriman bantuan tidak mencukupi.

"Kita memerlukan gencatan senjata kemanusiaan segera. Sudah 30 hari berlalu. Cukup sudah. Ini harus dihentikan sekarang," kata sebuah pernyataan dari kepala beberapa badan PBB, termasuk Komisaris Tinggi Hak Asasi Manusia PBB Volker Turk, Organisasi Kesehatan Dunia serta Kepala Tedros Adhanom Ghebreyesus dan kepala bantuan PBB Martin Griffiths.

Editor: Novia Tri Astuti
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore