
Menteri Utama Israel Benjamin Netanyahu. (Doc/Abir Sultan)
JawaPos.Com— Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu mengatakan pihaknya akan mempertimbangkan jeda dalam pertempuran di Gaza untuk memfasilitasi masuknya bantuan atau keluarnya sandera.
Namun, dirinya sekali lagi menolak seruan gencatan senjata umum meskipun ada tekanan internasional yang meningkat.
Dilansir melalui Reuters, Rabu (8/11), Dalam sebuah wawancara televisi AS, menurut Netanyahu, Israel memerlukan tanggung jawab keamanan atas wilayah di Palestina dalam jangka waktu yang tidak terbatas setelah perang.
Ketika ditanya tentang potensi jeda kemanusiaan dalam pertempuran, sebuah gagasan yang didukung oleh sekutu utama Israel yaitu Amerika Serikat, Netanyahu menyebutkan gencatan senjata secara umum akan menghambat upaya perang negaranya.
“Sejauh jeda taktis satu jam di sini, satu jam di sana, kita sudah mengalaminya sebelumnya. Saya kira kita akan memeriksa keadaan untuk memungkinkan barang, barang kemanusiaan masuk atau sandera kita, sandera individu, untuk dibebaskan” kata Netanyahu kepada ABC News, Senin (6/11).
“Tetapi menurut saya tidak akan ada gencatan senjata secara umum.”imbuh Netanyahu.
Baik Israel maupun kelompok militan Hamas yang menguasai Gaza telah menolak tekanan internasional untuk melakukan gencatan senjata.
Israel mengatakan tawanan yang disandera oleh Hamas saat mereka mengamuk di Israel selatan pada 7 Oktober harus dibebaskan terlebih dahulu.
Namun, Hamas mengatakan mereka tidak akan membebaskan para sandera atau menghentikan pertempuran ketika Gaza sedang diserang.
Sejak serangan di mana Hamas menewaskan 1.400 orang di Israel dan menyandera lebih dari 240 orang, Israel telah menyerang Gaza dari udara, memberlakukan pengepungan dan melancarkan serangan darat, yang memicu kekhawatiran global terhadap kondisi kemanusiaan di wilayah tersebut.
Kementerian Kesehatan di wilayah yang dikuasai Hamas, mengatakan setidaknya 10.022 warga Palestina telah terbunuh, termasuk 4.104 anak-anak.
Organisasi-organisasi internasional mengatakan rumah sakit tidak dapat menangani korban luka, makanan serta air bersih hampir habis dan pengiriman bantuan tidak mencukupi.
"Kita memerlukan gencatan senjata kemanusiaan segera. Sudah 30 hari berlalu. Cukup sudah. Ini harus dihentikan sekarang," kata sebuah pernyataan dari kepala beberapa badan PBB, termasuk Komisaris Tinggi Hak Asasi Manusia PBB Volker Turk, Organisasi Kesehatan Dunia serta Kepala Tedros Adhanom Ghebreyesus dan kepala bantuan PBB Martin Griffiths.

14 Kuliner Malam Bandung yang Paling Enak dan Selalu Ramai hingga Larut Malam dengan Suasana Seru dan Rasa Lezat
Bocoran Soal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026
Jika Persija Jakarta Gagal Juara, The Jakmania Punya Kesempatan Melihat Bobotoh Menangis
Tak Peduli Larangan ke Jepara, The Jakmania Sebut Kebiasaan atau Takut Main di Jakarta saat Persija Jamu Persib
18 Rekomendasi Kuliner di Tangerang untuk Keluarga, Tempat Makan Favorit dari Tradisional sampai Modern
Persebaya Surabaya Rayakan Kembalinya Bruno Moreira, Bonek Kompak Satu Suara
Pesan Haru Milos Raickovic ke Bonek! Gelandang Persebaya Surabaya Sudah Berikan Segalanya Musim Ini
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Korban Dicekoki Miras Hingga Tak Sadar, Pelaku Pemerkosaan Cipondoh Masih Dicari
Link Live Streaming Semifinal Uber Cup 2026 Indonesia vs Korea Selatan dan Line-up Pertandingan
