Namun, fakta yang diungkap para ilmuwan tidak menghentikan produsen untuk membuat klaim yang berlebihan, pada kemasan
suplemen minyak ikan.
Sebuah studi terbaru dari Universitas Texas Southwestern Medical Center di Dallas, menemukan bahwa label pada suplemen minyak ikan membuat klaim
kesehatan yang sama sekali tidak didukung oleh penelitian apa pun.
"Berdasarkan apa yang saya lihat secara pribadi di toko bahan makanan dan apotek, tidak terkejut menemukan bahwa tingkat klaim kesehatan yang begitu tinggi pada produk suplemen minyak ikan," jelas salah satu penulis studi, Joanna Assadourian, kepada Medscape Cardiology.
"Yang mengejutkan adalah betapa luasnya jenis klaim yang diajukan produk suplemen minyak ikan, mulai dari kesehatan jantung, otak, sendi, mata, dan fungsi kekebalan tubuh," tambah Assadourian.
Ada dua jenis klaim kesehatan yang dibuat pada kemasan suplemen yaitu, kesehatan yang memenuhi syarat menyebutkan potensi suplemen untuk mengobati atau mencegah penyakit, dan harus disetujui oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (
BPOM).
Klaim dapat menggambarkan bagaimana suplemen mendukung fungsi tubuh, misalnya mendukung fungsi kekebalan tubuh. Tetapi tidak boleh mengatakan bahwa suplemen tersebut mencegah, mengobati, atau menyembuhkan penyakit apapun.
Dari 2.819 suplemen minyak ikan yang diteliti oleh para peneliti, 74 persen di antaranya pasti membuat setidaknya satu klaim kesehatan.
Dari jumlah tersebut, hanya 19 persen yang menggunakan klaim kesehatan yang memenuhi syarat yang disetujui FDA (Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat). Sementara yang lainnya, membuat klaim yang luas atau tidak terbukti tentang bagaimana bahan-bahan tersebut disusun atau berfungsi dalam tubuh.
Selain klaim kesehatan jantung, banyak suplemen minyak ikan yang mengatakan bahwa mereka bermanfaat bagi sistem organ lain, seperti otak, mental, sendi, atau kesehatan mata.
Meskipun hal tersebut sama sekali tidak ada data dari uji klinis yang bisa mendukung klaim tersebut.
"Label-label tersebut dapat sangat menyesatkan bagi masyarakat umum," kata Dr. JoAnn E. Manson, kepala Divisi Pengobatan Pencegahan di rumah sakit Brigham and Women's Hospital di Boston, Amerika Serikat.
"Orang-orang dihadapkan pada berbagai suplemen makanan yang memusingkan, karena banyak diantaranya menyertakan klaim fungsi yang hanya memiliki sedikit atau bahkan tidak ada sama sekali, bukti khasiatnya," tambahnya.
"Antusiasme terhadap suplemen ini melebihi bukti dari uji klinis secara acak yang ketat." Dikutip dari New York Post, sekitar 20 persen orang yang berusia di atas 60 tahun mengkonsumsi suplemen minyak ikan.
Penelitian telah menunjukkan, bahwa asam lemak omega-3 yang ditemukan dalam ikan seperti salmon dan makarel memberikan
manfaat bagi kesehatan. Tetapi hal yang sama tidak berlaku untuk asam lemak omega-3, yang berasal dari kapsul suplemen.
Dalam sebuah penelitian tahun 2018 terhadap lebih dari 15.000 orang dengan diabetes, risiko kejadian kardiovaskular (serangan jantung atau stroke) serius tidak memiliki perbedaan antara orang yang mengonsumsi suplemen omega-3 dan yang tidak.
Sebuah studi tahun 2019 yang melibatkan lebih dari 25.000 partisipan menemukan, bahwa suplemen minyak ikan tidak dapat mengurangi risiko kejadian kardiovaskular utama atau kanker.
Alih-alih mengandalkan suplemen, sebagian besar ahli gizi merekomendasikan agar orang mendapatkan omega-3 dan asam lemak lainnya dari sumber makanan langsung.
Sumber asam lemak sehat, menurut National Institutes of Health, meliputi:
- Ikan air dingin seperti salmon, herring, tuna, sarden, dan makarel
- Biji rami, kenari, kedelai, canola, dan minyak zaitun
- Biji chia
- Kenari
- Buah zaitun
- Telur
Para penulis studi terbaru yang diterbitkan dalam JAMA Cardiology, menemukan kesenjangan yang signifikan dalam undang-undang pelabelan suplemen saat ini.
"Peningkatan regulasi pelabelan suplemen makanan mungkin diperlukan untuk mencegah kesalahan informasi kepada konsumen," tulis mereka.
***