
Ilustrasi orang tua yang sedang berusaha minta maaf kepada anak.
JawaPos.com - Ketika membicarakan hubungan antara orang tua dan anak, seringkali kita fokus pada bagaimana anak harus menghormati dan mendengarkan orang tua. Namun, ada satu aspek penting yang sering terlupakan banyak orang, bahwa orang tua juga perlu meminta maaf kepada anak.
Mengakui kesalahan bukanlah tanda kelemahan, melainkan bentuk kasih sayang dan tanggung jawab yang mendalam. Mengapa orang tua perlu meminta maaf kepada anak mereka? Dan bagaimana cara terbaik melakukannya?
Dilansir dari laman The Washington Post, dijelaskan alasan mengapa orang tua perlu minta maaf kepada anak. Banyak para ahli berpendapat bahwa penting bagi orang tua meminta maaf kepada anak, tetapi bagaimana cara dan kapan harus melakukannya tergantung pada situasi dan umur anak Anda.
Secara sadar maupun tidak, para orang tua pasti pernah berteriak pada anak-anak kita. Pernah melukai perasaan mereka. Bahkan, kita mungkin pernah secara tidak sengaja merusak mainan atau benda berharga mereka. Hal-hal ini layak mendapatkan permintaan maaf, bahkan kepada balita sekalipun.
Menurut Lynn Zakeri, mantan pekerja sosial sekolah dasar yang sekarang menjalankan praktik pribadi, orang tua sebaiknya menggunakan permintaan maaf sebagai kesempatan untuk belajar. Jika kita merangkai permintaan maaf dengan benar, setiap kesalahan yang kita buat bisa mengajarkan anak-anak kecil bagaimana cara merenung dan bertanggung jawab.
"Jelaskan bahwa kamu terlambat menjemput karena tidak merencanakan adanya lalu lintas yang macet, bukan karena macetnya lalu lintas yang buruk," kata Zakeri.
"Atau, kamu merusak mainan mereka saat menyedot debu karena tidak melihat ke mana kamu berjalan, bukan karena mainan itu menghalangi jalanmu. Alih-alih memberikan alasan, permintaan maaf ini menjelaskan bagaimana situasinya terjadi dan bahwa kamu tidak bermaksud melukai perasaan mereka," lanjut Zakkeri.
Anak-anak yang tahu bagaimana cara memberikan permintaan maaf yang tulus akan lebih siap untuk menjalani persahabatan di taman bermain, menghadapi masa remaja yang penuh gejolak, dan menangani situasi kerja yang sulit saat dewasa.
Kemudian, Roseanne Lesack, seorang direktur klinik psikologi anak di Universitas Nova Southeastern, menyarankan agar orang tua membicarakan situasi setelah meminta maaf, hal ini dapat membantu anak memahami apa yang terjadi dan mengidentifikasi emosi mereka.
Memperkuat berbagai perasaan emosi setelah meminta maaf sangat membantu bagi anak-anak. Namun, pembahasan ini bisa menjadi sulit atau membebani banyak orang tua. Jika orang tua merasa tidak nyaman membicarakan perasaan mereka, mereka bisa berlatih dengan teman atau pasangan, atau menuliskannya dan merenungkannya.
Untuk anak-anak, Anda dapat menggunakan "lembar perasaan", buatlah selembar kertas dengan wajah yang menunjukkan 25 emosi. Anak-anak bisa menunjuk pada wajah untuk menunjukkan bagaimana mereka merasa, untuk membantu orang tua memulai percakapan.
Bagi anak yang sudah berusia remaja, mengakui perasaan mereka adalah bagian terpenting dari permintaan maaf, tetapi orang tua harus melakukannya secara singkat, kata Amy McManus, seorang terapis di Los Angeles yang sering bekerja dengan orang tua dan remaja.
"Remaja memiliki masa perhatian yang pendek, terutama untuk orang tua mereka," kata McManus. "Mereka kebanyakan (marah) ketika Anda melakukan sesuatu yang mereka anggap salah, tetapi mereka tidak memiliki kosakata untuk mengekspresikan bagaimana mereka merasa," imbuhnya.
Setelah meminta maaf, McManus menyarankan orang tua untuk menunggu tanggapan remaja mereka, meskipun membutuhkan waktu. Kemudian lanjutkan dan tunjukkan bagaimana cara melupakan hal-hal tersebut. Terus membahas situasi tersebut hanya akan memperbesar dramanya, sesuatu yang disarankan untuk dihindari. Permintaan maaf yang singkat dan tulus akan menjadi contoh bagi remaja.
Meminta maaf kepada anak bisa memperkuat hubungan dan membangun kepercayaan. Ketika orang tua mengakui kesalahan mereka, anak-anak belajar tentang pentingnya tanggung jawab dan kejujuran.
Mereka melihat contoh nyata dari seseorang yang dihormati, yang tidak takut untuk mengakui kekeliruan dan berusaha memperbaiki diri. Ini tidak hanya membantu anak-anak tumbuh menjadi pribadi yang lebih baik, tetapi juga menciptakan lingkungan keluarga yang penuh dengan saling pengertian dan kasih sayang.

Pertandingan Perpisahan Bruno Moreira? Kapten Persebaya Surabaya Kirim Sinyal Emosional Jelang Lawan Persis Solo
Mengenal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026: Aturan, Materi, dan Ambang Batas
Korban Rudapaksa di Cipondoh Jalani Trauma Healing, DP3AP2KB Kota Tangerang Beri Pendampingan Khusus
Prediksi Skor Bayern Munchen vs PSG: Siapa yang akan Bertemu Arsenal di Final Liga Champions?
10 Rekomendasi Restoran Paling Populer di Surabaya dengan Menu Lengkap dan Harga Variatif
Mobil Plat L Ringsek di Malang Diserang 300 Orang? Polres Malang Turun Tangan, Ini Fakta Terbarunya
11 Kuliner Gudeg Paling Recomended di Surabaya dengan Harga Murah Meriah Tapi Rasa Tidak Murahan
15 Rekomendasi Kuliner Mantap Dekat Bandara Juanda Surabaya, Cocok untuk Isi Waktu Sebelum Check-in
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
12 Kuliner Mie Kocok di Bandung Paling Enak dengan Kuah Gurih yang Bikin Nagih Sejak Suapan Pertama
