Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 16 Januari 2024 | 14.20 WIB

Mengenal Budaya dan Istilah Carok, Warisan Budaya Madura yang Telah Ada Sejak Era Kolonial

clurit, senjata tarung khas madura/Celurit Weapon Form | Atkinson Swords | David Atkinson (atkinson-swords.com) - Image

clurit, senjata tarung khas madura/Celurit Weapon Form | Atkinson Swords | David Atkinson (atkinson-swords.com)

JawaPos.com – Carok, sebuah pertarungan ala suku Madura sempat kembali heboh akhir-akhir ini.

Beberapa waktu lalu terjadi sebuah tragedi carok terjadi di daerah bangkalan dan menewaskan 2 korban jiwa.

Dilansir dari Radar Jogja(14/1), suku Madura memegang sebuah prinsip dan ideologi yang berbunyi katembheng potea mata, ango’a potea tholang yang berarti daripada putih mata, lebih baik putih tulang.

Ideologi ini mengandung makna yang cukup dalam yakni daripada hidup menanggung rasa malu, lebih baik mati berkalang tanah. prinsip ini tertanam dalam hati masyarakat Madura yang sangat kuat dalam menjaga harkat dan martabat.

Berawal dari Ideologi yang dipegang suku Madura ini lahirlah sebuah tradisi carok yang dianggap sebagai upaya penyelesaian masalah, khususnya masalah terkait kehormatan individu dan keluarga.

Carok umumnya terjadi karena perebutan takhta yang terjadi para bangsawan keraton, perselingkuhan, hingga diakibatkan oleh sengketa tanah.

Meski dikatakan telah terjadi pada zaman keraton, faktanya istilah Carok dipercaya belum muncul pada masa itu baik saat dinasti Cakraningrat (12 M) hingga zaman Pemerintahan Panembahan Semolo (17 M).

Istilah carok baru muncul pada zaman kolonial Belanda (17 M), istilah ini dikaitkan pada nama salah satu senjata yang berupa clurit.

Pada masa kolonial, Belanda juga berhasil menduduki dan menguasai pulau Madura. Saat itu, kekerasan Belanda kepada suku Madura terjadi secara masif.

Sejarah carok dapat dengan mudah diketahui melalui kisah-kisah cerita rakyat yang berkembang di dalam lingkaran sosial suku Madura.

Menurut cerita rakyat yang tersebar, istilah carok muncul pada saat terjadi pertarungan antara Sakera dengan Brodin, Markasan, dan Carik Rembang.

Pada masa itu, Sakera berprofesi sebagai mandor petani tebu di pabrik gula Belanda di mana Brodin juga bekerja di sana. Brodin, Markasan dan Carik Rembang memiliki posisi sosial sebagai bagian dari antek-antek kolonial Belanda.

Carik Rembang memiliki tugas dari Belanda untuk mencari tanah atau lahan yang kemudian akan digunakan untuk ekspansi pabrik gula milik mereka.

Untuk memenuhi tugasnya, Carik Rembang melakukan teror kepada para pemilik tanah agar dia bisa mendapatkan tanah dengan harga murah.

Tidak terima dengan perlakuan Carik Rembang, Sakera memutuskan untuk membela rakyat kecil yang jadi korban teror tersebut.

Editor: Hanny Suwindari
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore